Jelajah Utara Balikpapan

Jelajah Utara Balikpapan

908
0
SHARE

Dengan pertumbuhan ekonomi dan penduduk yang pesat, tingkat stres bisa ikut meninggi. Wilayah utara akan menjadi kawasan penyedia relaksasi alami di kota ini. Menguak sisi utara yang masih didominasi hutan, perkampungan transmigran dan pasar-pasar tradisional. Kawasan ekonomi baru sedang tumbuh dengan destinasi pelesiran yang beragam. Masa depan Balikpapan.

UTARA adalah wilayah paling luas dari kota berpenduduk 700 ribu jiwa pada survei 2014 lalu. Dengan kekuatan yang dimiliki, daerah 13 ribu hektare atau 132 km persegi ini bakal menjadi pusat pertumbuhan baru. Hadirnya Kawasan Industri Kariangau (KIK), jalan tol Balikpapan-Samarinda, Pelabuhan serta Terminal Peti Kemas, memberi sinyal arah perkembangan kota.

Sampai awal tahun ini, sejumlah perusahaan multinasional telah beroperasi di KIK. Industri substitusi impor, manufaktur, lokal base dan industri campuran telah memulai kegiatannya. Di sebelah selatan kawasan, terdapat manufaktur logam dan kimia, industri teknologi modern dan industri berorientasi ekspor. Sedangkan industri lainnya tetap berada di daerah pinggir, sepanjang pesisir sebelah barat kawasan, terutama bagian selatan.

Jenis-jenis industri terpilih di kawasan ini antara lain batu bara dan briket batu bara, minyak dan gas, methanol, olefin dan arimatik, karet, industri pengalengan nenas, ikan dan udang, kakao (bubuk dan pasta), mentega kakao, coklat dan produk coklat lainnya, industri makan dan minuman, kerajinan dan industri rekayasa. KIK diproyeksikan menjadi kawasan perkotaan berbasis kegiatan industri sebagai pusat baru pertumbuhan Balikpapan dan sekitarnya. Digadang menjadi perkotaan yang harmonis terhadap keseimbangan lingkungan pesisir.

Pusat pertumbuhan baru ini memicu berkembangnya industri wisata dan hospitality. Salah satunya bisnis perhotelan. Tak lama lagi, kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara itu akan memiliki jaringan hotel berbintang untuk pertama kalinya. Hotel Premium namanya. Hotel ini dikabarkan masih satu manajemen dengan hotel Pacific yang cukup lama eksis.

Menangkap peluang yang ada, pemerintah Kota Balikpapan kini menyiapkan sebuah spot wisata tradisi dengan mengembangkan kampung batik. Inilah salah satu sarana menyelaraskan era baru dengan tetap berakar pada nilai-nilai tradisional. Masyarakat di Kecamatan Balikpapan Utara masih kental memegang adat daerah asal mereka. Seperti di Kelurahan Karang Joang, para transmigran dari Jawa terlibat secara masif.

Lurah Karang Joang Muhammad Subli yang ditemui Discover menyebut, sejauh ini bantuan dari perusahaan seperti Pertamina dan Bank Indonesia dalam program CSR mengarah pada beberapa bentuk. Melihat mayoritas warga Karang Joang adalah petani, maka ia juga memberikan gambaran agar bantuan swasta bisa diarahkan pada budidaya pertanian, perkebunan dan penanaman, tentu dengan pendampingan.

WISATA DI UTARA

KEBUTUHAN BELANJA
Wilayah Balikpapan Utara dimulai dari titik 0 Kota Balikpapan, simpang lima Muara Rapak. Dari sini, pusat wisata belanja Plaza Rapak menyediakan berbagai kebutuhan harian, asesoris, elektronik bahkan kebutuhan para pelancong. Shopping center ini menggabung- kan retail modern dan tradisonal, sehingga pedagang kecil tetap eksis.

Salah satu kelebihannya adalah harga barang lebih murah dari lokasi sejenis. Di lantai dasar, pembeli bisa tawar menawar harga dengan penjual. Sesuatu yang jarang terjadi di sebuah pusat perbelanjaan.

JELAJAH ALAM

Hanya berjarak sekitar tujuh kilometer dari kehidupan modern, kita dapat menikmati ragam kekayaan alam Kalimantan. Pusat konservasi mangrove adalah salah satu pilihan wisata alam di Kecamatan Balikpapan Utara. Berada di Kelurahan Graha Indah, hutan bakau seluas 150 hektare ini telah menjadi salah satu ikon wisata Kalimantan Timur.

Mangrove hanyalah satu dari beberapa keindahan yang tersedia di kawasan ini. Pengunjung bisa menjumpai aneka satwa yang hidup di habitat mangrove. Ada bekantan, monyet, ular, aneka burung, biawak. Jika beruntung, kita bisa bertemu lumba-lumba air tawar atau dugong-dugong dalam bahasa latin,dan pesut dalam bahasa lokal, hingga buaya.

Berkeliling dengan perahu dan beristirahat di keramba sambil memberi makan ikan, memberi pengalaman berharga di antara wisata lain yang pernah Anda lakukan. Merasakan kehidupan alam liar di mangrove center Graha Indah memerlukan waktu sedikitnya dua jam. Jika masih punya waktu lebih, Anda bisa pelesir di lokasi lain.

Hutan Lindung Sungai Wain, misalnya. Ada dua cara yang bisa ditempuh dari mangrove center; melalui kepal dengan menyusuri teluk. Atau via darat dengan akses Jalan Soekarno Hatta. Dua cara ini punya tingkat menyenangkan berbeda. Anda penggemar petualangan, bisa menempuh cara pertama. Tetapi jika tak punya banyak waktu, ambil kunci kontak Anda, jalankan kendaraan menuju Kilometer 14.

Butuh waktu paling sedikit 2 jam dengan perahu bermesin tunggal dari mangrove center. Jalur ini memanfaatkan anak sungai Wain. Perjalanan dengan perahu tak akan membosankan karena banyak hal menarik sepanjang perjalanan. Melalui jalur sungai, kita bisa merekam kegiatan sehari-hari warga teluk diantara kesibukan industri galangan kapal, pembangunan pelabuhan dan perkembangan ekonomi di wilayah ini. Hanya melalui jalur ini, kita bisa menyaksikan keragaman satwa. Sedangkan menggunakan kendaraan darat, jarak tempuh ke HLSW bisa dipangkas. Paling lama 30 menit, Anda sudah tiba di lokasi.

Gambaran tentang hutan di kawasan ini mungkin bisa diperoleh dari berbagai sumber. Akan tetapi, merasakan sendiri trek penjelajahan tidak akan pernah senikmat ini. Dua jalur disediakan para volunteer HLSW. Trek pendek dengan jarak tempuh sekitar tiga jam, serta trek panjang yang bisa diselesaikan dalam perjalanan sehari semalam. Tinggal di kamp Jamaluddin yang sunyi di tengah rimba, mungkin bisa memancing inspirasi

Dari HLSW, kita bisa melihat sumber mata air yang sudah memberi kehidupan warga Balikpapan selama puluhan tahun, mempelajari binatang yang hidup di kawasan ini, serta menemukan tumbuhan langka hutan Kalimantan. Jahe setinggi dua meter tidak akan pernah dijumpai di daerah lain. Juga babi berjanggut, macan dahan atau satwa endemis lain.

Belajar tentang jenis fauna, juga bisa dilakukan di Kebun Raya Balikpapan. Wisata pendidikan lingkungan ini hanya berjarak satu kilometer dari tempat peristirahatan HLSW. Diresmikan akhir 2014 itu, Kebun Raya menjadi spot baru tujuan wisata alam favorit.Menjadi kawasan penyelamatan dan perlindungan tumbuhan khas Kalimantan dengan tujuan penelitian dan pendidikan. Terletak di zona pemanfataan Hutan Lindung Sungai Wain dengan luas lahan 290 hektare, berada di Kelurahan Karang Joang kilometer 15 Kecamatan Balikpapan Utara.

Untuk tujuan ilmiah dan pendidikan, kebun raya memiliki koleksi tumbuhan di alam terbuka dan di dalam rumah kaca, serta fasilitas ruang belajar, laboratorium, perpustakaan, museum, dan tanaman percobaan (esiklopedia encarta). Terdapat 1.200 spesies tanaman, di antaranya kayu genus dipterocarpaceae, seperti meranti, kapur, ulin, keruing, bengkirai dan gaharu.

Memiliki koleksi flora sebanyak 25 family, 50 marga, 70 jenis 310 anggrek epifit, 65 anggrek teristerial dan 50 nephentes atau kantong semar. Kawasan ini menawarkan wisata alam sambil mengenali jenis-jenis tumbuhan, hingga belajar merawat tanaman.

Kebun raya baru ini dikembangkan Pemerintah Kota Balikpapan – Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor dan Balai Besar penelitian Dipterocarpaceae Departemen Kehutanan. Selain field trip, pengunjung juga bisa kamping, outbond, penilitian dan banyak lagi kegiatan wisata pendidikan.

Maskot Balikpapan adalah Beruang Madu. Omnivora ini bisa disaksikan di enklosur Beruang Madu kilometer 23, sekitar 10 kilometer dari Kebun Raya Balikpapan. Di habitat buatan itu, 5 ekor beruang madu hasil sitaan dilatih hidup liar, sebelum dilepas. Selama proses introduksi, wisatawan bisa menyaksikan keberadaan mereka. Daerah wisata ini lebih dikenal dengan Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup atau KWPLH Beruang Madu.

Terdapat rumah lamin, taman bermain, kanopi, serta pusat informasi beruang di areal KWPLH. Sejak akhir tahun lalu, pengelola kawasan ini membatasi jam kunjungan karena tingginya pelancong yang bisa berpengaruh terhadap tingkat stress beruang. Saat ini, wisatawan hanya bisa berada di areal beruang madu pada pukul 09.00 Wita dan jam 15.00 Wita.

PASAR TRADISIONAL

Pasar-pasar tradisional di wilayah Balikpapan Utara menarik dikunjungi karena menyediakan buah-buahan lokal. Tengok saja Pasar Buton kilometer 4. Pengunjung bisa menemukan pepaya mini asli Balikpapan, atau buah-buahan impor. Sesuai namanya, pepaya yang dijual berukuran kecil, namun memiliki rasa manis di atas rata-rata.

Ada juga lai dan cempedak. Lai adalah durian yang hanya tumbuh di Kalimantan. Daging buah berwarna kemerahan dengan tekstur daging buah lebih tebal dibanding durian pada umumnya. Ukuran lai rata-rata lebih kecil dari durian dengan kadar manis yang cukup. Sedangkan buah lokal yang juga digemari adalah cempedak, nangka Kalimantan. Baik lai maupun cempedak biasanya tumbuh secara liar.

Pasar buah juga bisa ditemukan di sepanjang jalur menuju KWPLH Beruang Madu. Di kilometer 20 hingga 23 para penjual buah membuat kios-kios sederhana. Demi menarik perhatian, mereka menggantung dagangan agar mudah terlihat. Buah yang mereka jual dipetik dari kebun yang tak jauh dari “pasar tempel” itu. Ada salak, jambu, tomat, pisang. Saat buah naga paling digemari. Tingginya permintaan membuat buah bersisik ini muncul sebagai primadona.

Di kawasan “kilo jauh” — begitu umumnya orang menyebut untuk kilometer 20 ke atas, perkebunan baru dirintis. Kebun-kebun buah naga bermunculan. Para petani yang sebelumnya menanam jenis lain, kini banyak yang membudidayakan buah berwarna merah itu. Tanaman ini disukai petani karena tak mengenal musim. Tumbuhan merambat ini bisa dipanen setiap dua minggu sekali setelah masa panen pertama.

Tingginya konsumsi buah naga mendorong pembukaan lahan baru untuk tanaman ini. Bahkan, Balikpapan saat ini juga dikenal sebagai sentra perkebunan buah naga. Memetik buah naga menjadi salah satu potensi wisata yang kini sedang dirintis pemilik kebun di Kelurahan Karang Joang. Selain itu, beragam pohon buah sedang digalakkan. Selain rambutan, pepaya dan nanas yang sudah lebih dulu ada, kini berhektar lahan ditanami durian, kelengkeng, jambu kristal, dan beragam tanaman lain. Sekira 3 sampai 4 tahun lagi, lahan berbukit-bukit di pedalaman tersebut akan tampak cantik dengan pepohonan buah yang produktif. Salah satu yang sedang ditata adalah lokasi Agrowisata Lestari di kilometer 23, kawasan yang diproyeksikan seperti Agrowisata di Batu, Jawa Timur.

SEJARAH

Balikpapan Utara menyimpan tujuan wisata yang lengkap. Bagi warga Jepang, kilometer 13 yang masuk wilayah administrasi Kelurahan Karang Joang punya arti penting. Di sini, sebuah prasasti perdamaian dibuat untuk mengingat kekejaman perang. Tugu perdamaian sederhana itu dibangun di antara makam prajurit Jepang yang terbunuh dalam pertempuran 13 hari melawan sekutu pada Juli 1945.

ENGLISH TRANSLATION

THE NORTH SIDE STORIES

In rapid economic growth and population growth, people’s stress level will increase. Therefore, Nothern Balikpapan has the solution; become the relaxing place in Balikpapan. We are unraveling the northern side which is dominated by woods, transmigrant houses, and traditional markets. The new economy area in their growth within multiple tourism spots. This is the future of Balikpapan.

The northern Balikpapan is the vast area where 700.000 people live in it. This 13.000-hectare will emerge to a new centre of economic growth. It has Kariangau Industrial Area (KIK), Balikpapan-Samarinda highway, port and container terminal. It shows that this is a city’s way of development.

Until these days, thera are many multinational companies that run in KIK. Industries such as import substitution, manufacturing, local base, and mixed industries have run their business. In southern part of the area, there are metal manufacturer, chemicals, modern-tech and export industry. While other industries are spread out throughout the area.

Some other industries are coal, bricket, oil&gas, methane, olefin, rubber, pineapple-canning, fish&shrimps, kakao (both powder and paste), cocholate, food&beverage, craft and engineering industry. KIK is projected to be industrial-base city part that boosting growth in Balikpapan. It is planned to be an area which in harmony with shore environment.

This new area has boosted tourism and hospitality industry. One of them is hotel business. Hotel Premium will be the first five-star hotel located in it. It is rumored to be managed by the famous Pasific Hotel. To seize such big opportunity, Balikpapan government has prepared a traditional tourism spot by developing batik village. This is one way to inherent the new era to traditional values. This is due to people holding on the culture. As in Karang Joang region, there are many transmigrant from Java island.

NORTHERN TOUR

SHOPPING CENTER

Nothern Balikpapan starts from zero kilometer of Balikpapan, located in Muara Rapak junction. In here, Rapak Plaza provides daily needs, accessories, electronic utensils, and traveller’s needs. This shopping centre entwined modern and traditional retailers This shopping centre entwined modern and traditional retailers, and also small merchants.

It benefits us by offering lower prices compared to similar nearby markets. On ground floor, people can bargain prices. That is one thing rarely happen in a plaza.

NATURE TOUR

In northern Balikpapan, we have Mangrove Conservation Centre as one of the tourism spot. Located only 7 km from downtown, it lies in Graha Indah District. It has 150 hectares of space.

Mangrove is one of many beautiful things in it. Visitors can see many wildlife animals inhabiting it. There are bekantan, monkeys, snakes, birds, and biawak. Should we have some luck, we may be able to see gudong “fresh water dolphins” in the mangrove, as well as crocodile.

Making some tour in a boat and getting some rest at fishpond while feeding animals have been always a unique experience. We need at least two hours to take a look the whole mangrove center. Should you have some spare time, you can visit some place nearby.

Hutan Lindung Sungai Wain (Wain River Conservation Forest) is another place you can visit in northern Balikpapan. We can reach it by boat or car. If you want some adventure, you can take boat along the bay. But otherwise, you can drive a car toward Jalan Soekarno Hatta kilometer 14th.

It takes at least 2 hours to reach mangrove center in banks of Wain River by using singleengine boat. The travel wouldn’t be amusing if we can’t see many interesting things along the bay. We can see daily activities of people in Balikpapan Bay such as the hustle bustle in a dockyard, port building and many other things. Only by taking this way, we can see the animal diversity of Balikpapan. In the other hand, it takes only 30 minutes to reach HLSW by car.

We can see many reviews about this area, but taking down the adventure ourselves gives extra pump to our adrenaline. There are two tracks given by HLSW volunteer. Short track takes three hours, while long track takes whole day trip. Staying in Jamaluddin kamp, in silent, in the middle of the jungle, may give us inspiration.

In HLSW, we can see the fount that waters the life in Balikpapan for decades. We can see the wildlife and rare plant. We can see a two-meter ginger, bearded pig, tree tiger and other endemic animal.

We can study animals in Kebun Raya Balikpapan as well. This educational area is only 1 kilometer away from HLSW resting place. This is the new tourism spot in Balikpapan, since its grand opening in 2014.

For science and education purposes, Kebun Raya has a collection of plants in open space and greenhouse. They also have studying facilities, laboratory, library, museum and ensiclopedia Encarta. There are 12.000 plant species, among them are dipterocarpaceae genus trees such as meranti, kapur, ulin, keruing, bengkirai and gaharu.

Kebun Raya was developed by Balikpapan Government, Kebun Raya Bogor Conservation, and Board of Forestry’s Dipterocarpaceae observation. Visitors can do field trip, camping, outbound, research facility and other educational tour.

Sun bear is the mascot of Balikpapan. This animal is an omnivore, >and we can see it in Sunbear enclosure in Km 23. It is located 10 km from Kebun Raya Balikpapan. It is an artificial habitat, there 5 sun bears to be trained to live in the wildlife, before they can be released in the forest. Visitors can see their activities every day. This area is called KWPLH Beruang Madu. In this area, there are Lamin House, playing grounds, canopies, as well as sun bear information centre. Since last year, the management of this area has limited the visiting hours since the increasing number of visitors that increases sun bear’s stress level. Meanwhile, visitors can visit sun bear from 9 am to 3 pm.

TRADITIONAL MARKET

Traditional markets of Nothern Balikpapan are an interesting place to visit since they sell local fruit. For example, we can visit Pasar Buton in Jalan Soekarno Hatta 4th kilometer. We can see mini papaya, a unique fruit in Balikpapan. It is smaller than regular papayas, but sweeter in taste.

We can see lai and cempedak as well. Lai is a family of durian that grows in Kalimantan only. It is reddish and thicker than durian. Lai is smaller than durian, completed with enough sweetness. Cempedak is the other favorite fruit. It is the jack fruit of Kalimantan.

The fruit market can also be found alongside the path towards KWPLH Beruang Madu. In 20th and 23rd kilometer, we can see the fruit sellers making simple kiosks. To attract customers, they hang the fruits. They sell salak, jambu, tomatoes, bananas, as well as dragon fruit. The last one became a bestseller due to the increasing number of demand.

Therefore, it became more and more fields of dragon fruit. The farmers who grow dragon fruit is increasing. It is also the fruit farmer favours since they can harvest in any season. Dragon Fruit can be harvested every two weeks since the first harvest. The increasing amount of consumption of Dragon fruit has increased the number of farms. In addition, Balikpapan has centre of dragon fruit farming. Picking dragon fruit has become tour. It has been developed by farmers in Karang Joang region.

HISTORY

Nothern Balikpapan has a complete tourism destination. For Japanese, Jalan Soekarno Hatta, 13th km, has important meaning. In here, a peace monument was made in rememberance of war. This simple peace monument was built among Japanese soldiers grave who was killed in 13-day-war in July 1945.

Source : Majalah DISCOVER BALIKPAPAN Edisi ke 40 Maret 2015

LEAVE A REPLY