Beluluh

Beluluh

303
0
SHARE

Wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura pada abad ke-13 mencakup hampir seluruh Provinsi Kalimantan Timur saat ini. Karena itu pengaruh budaya Kesultanan Kutai masih amat kuat di wilayah Balikpapan. Setiap tahun, sebuah festival budaya digelar untuk menghormati kejayaan kerajaan ini. Salah satunya adalah upacara adat Beluluh.

Beluluh merupakan prosesi memohon keselamatan dan kesejahteraan kepada Tuhan. Upacara ini menghadirkan seorang Dewa dan Belian sebagai pembaca mantra didampingi para Pangkon Laki dan Pangkon Bini yang masing-masing membawa benda pusaka terbuat dari perak.

Saat prosesi dilakukan, ujar Awang Imaluddin, Sultan HAM Salehuddin II duduk di atas balai bambu dengan beralaskan tikar dari
rotan dan dihiasi dengan beras warna warni membentuk reaplika sepasang naga yang disebut Tambak Karang.

Selama prosesi Beluluh, sesekali kain kuning yang dijadikan atapnya atau disebut Kirab Tuhing diangkat untuk menutupi kepala Sultan, di mana empat sisinya dipegang oleh anak atau cucu Sultan.

Selama prosesi Beluluh sang Dewa dan Belian membacakan sejumlah mantra dan doa agar Sultan diberikan keselamatan dan diberikan kesucian diri dari Tuhan Yang Maha Esa, dengan sesekali menghamburkan beras kuning ke arah kiri kanan Sultan.

Kemudian proses dilanjutkan oleh Dewa Bini yaitu dengan mengacungkan selembar daun mirip ilalang yang dipanaskan asap pedupaan dan membasahi kedua telapak tangan Sultan dengan Air Tuli yang berasal dari Kutai Lama (Anggana) sebagai tanda Sultan ditepong tawari, kemudian Sultan membasahi kedua kelopak matanya dengan air dengan menggunakan sebuah logam yang berbentuk bundar seperti mata uang.

Upacara itu diakhiri dengan menarik anyaman daun nyiur muda yang disebut Ketikai Lepas oleh Sultan bersama Dewa Belian untuk dibuang ke belakang. Sedangkan beras warna warni yang menghiasi tikar bambu kemudian diperebutkan oleh pengunjung yang menyaksikan upacara tersebut.

LEAVE A REPLY