Batik Sulya

Batik Sulya

955
0
SHARE

Seperti kebanyakan batik di Indonesia, Sulya dirintis oleh sebuah keluarga. Sulya yang kini rajin mengeluarkan motif Balikpapan, sesungguhnya sudah ada sejak tahun 1985. Batik ini dirintis oleh mendiang Lilik Soewondo, ketua kelompok Karang Taruna Desa Sumbersari, Kecamatan Maesan, Bodowoso, Jawa Timur.

Desa ini dikenal sebagai salah satu pusat batik di Jawa Timur. Ciri yang paling nampak dari batik Bondowoso adalah desain yang sederhana dengan dua warna dan motif dari daun singkong atau tembakau. Motif batik yang dikenalkan oleh Lilik Soewondo lebih dikenal dengan batik Maesan.

Di daerah asalnya, awalnya hanya 10 orang yang membatik. Kemudian bertambah menjadi 25 orang. Dengan bantuan tenaga pengajar batik dari Balai Besar Batik Indonesia Yogyakarta, usaha ini kemudian mulai berkembang. Namun krisis ekonomi yang menghantam tanah air tahun 1997 membuat banyak pembatik diberhentikan.

Pengurangan tenaga kerja disebabkan kenaikan bahan baku, upah dan sebagainya. Sementara jumlah pembeli menurun. Saat krisis itulah, generasi ketiga Lilik Soewando berinisiatif melanjutkan usaha keluarga dengan mengembangkan batik di Kalimantan Timur. Kesempatan terbuka bagi Sulya, karena belum banyak motif batik dari Balikpapan.

Awal tahun 2011, ia mulai membuat dan memasarkan batik dengan desain-desain motif Kalimantan Timur. Produk-produk yang dihasilkan kemudian diberi nama sesuai namanya sendiri. Beberapa tahun terakhir, Sulya agresif mengeluarkan motif dengan ciri khas Balikpapan, seperti beruang madu, kilang minyak, karamunting dan Hutan Lindung Sungai Wain.

Motif tersebut dikombinasi dengan pola Dayak untuk mempertahankan tradisi Kalimantan. Untuk menggaet pelanggan muda, Sulya memadukan pola tradisional dengan model tiga dimensi (3D). Ia juga membuat gradasi pada warna batik karyanya.

Salah satu rancangan Sulya mendapat apresiasi dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Balikpapan sebagai Juara Favorit Desain Batik Balikpapan 2013. Motif yang dilombakan adalah pulau Kalimantan dengan mangrove, obor pertamina, beruang madu bakau. Warna yang dia pilih adalah hitam, putih, biru, dan coklat.

Ciri Khas

Pengaruh motif Maesan cukup besar dalam desin motif batik Sulya. Terutama berkaitan dengan warna yang dipilih, serta corak yang diambil. Pada motif ‘Keanekaragaman Balikpapan’ warna hitam dan putih terlihat sangat menonjol. Begitu juga dengan ide yang dipilih sebagai motif masih tentang tumbuhan khas. Jika Maesan mengangkat singkong dan tembakau, Sulya fokus dengan mangrove dan karamunting.

Tanda lainnya adalah berung madu. Sejak pertama kali memutuskan membatik motif Balikpapan, beruang madu tak pernah absen dalam pola yang dibuat. Entah itu sebagai motif utama, isenan, atau sekadar pola. Beruang madu seolah-olah telah menjadi maskot batik Sulya.

Produksi Sulya kini merembah berbagai kalangan. Bisa digunakan remaja hingga orangtua. Permintaan juga datang dari Pemerintah Kota Balikpapan. untuk menggaet konsumen muda, Sulya memainkan warna-warna cerah dan desain kekinian. Untuk aplikasi kain, katun dan sutera menjadi pilihan Sulya.

Dua kain itu menjadi pilihan sebagai cara agar motif tidak cepat rusak. Namun untuk pembeli karyanya, Sulya menyarankan untuk tidak menggunakan mesin cuci, cukup masukkan dalam air sabun kemudian kucek ringan. Setelah itu jemur kain jangan di bawah matahari, langsung dan lapisi kain tipis saat menyeterika. Selain batik tulis, Sulya juga mulai memproduksi tas dan sepatu batik.

BATIK SULYA
Telagasari RT 25 Balikpapan
08125309788

Source : Buku Ragam Batik Balikpapan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Balikpapan

LEAVE A REPLY