Batik Vi

Batik Vi

1104
0
SHARE

Batik Vi menjadi salah satu merk lokal yang mulai mendapat tempat di hati pengemar kain bermotif tradisi. Baru berdiri pada 15 Mei 2013, produksi mereka telah merambah pasar Eropa. Keberhasilan memanfaatkan internet dan jejaring sosial menjadi kelebihan sistem pemasaran yang dibangun.

Meski demikian, Batik Vi tak melupakan pemasaran dengan cara tradisional. Ia tetap membuka outlet penjualan, mengikuti pameran industri, sampai menggelar pentas adibusana. Mereka juga memanfaatkan berbagai momen untuk mengenalkan karya terbaru, sekaligus memperluas pasar.

Batik Vi dikembangkan oleh Ida Roy Nirwan. Bermula dari kecintaan Ida akan keberagaman budaya Balikpapan. Wanita yang semula fokus mengurus keluarga ini, terdorong menggali sesuatu yang unik dan khas dari Balikpapan.

Kedekatannya dengan berbagai kalangan, menjadi salah satu pemicu mengangkat batik motif lokal. Dalam penggalian ide, Ida menemukan Etlingera balikpapanensis, jenis jahe yang hanya ada di Hutan Lindung Sungai Wain, sebagai andalannya.

Ketertarikan mengangkat jahe dalam motif kain, untuk memperbanyak motif yang menggambarkan Balikpapan. Menurut Ida, batik yang beredar masih didominasi motif Dayak yang cenderung menggambarkan Kalimantan secara keseluruhan. Alasan lain Ketua Ikatan Pengrajin Batik Balikpapan (IPBB) ini memilih jahe adalah nama latin yang digunakan mengandung unsure ‘Balikpapan’. Apalagi, bentuk jahe juga unik dengan bentuk bunga di atasnya, dan cocok untuk motif-motif batik.

Ciri Khas

Motif pada Batik Vi pun tak melulu jahe. Ida mengkombinasikan jahe dengan motif lain seperti; beruang madu, kantung semar, jamur, buah pepaya, buah salak, dan motif Kalimantan Timur pada umumnya. Dari unsur pewarnaan, ada lima warna yang mendominasi Batik Vi. Warna tersebut adalah merah, hitam, biru, coklat dan kuning. Merah menjadi warna paling dominan, mengikuti warna si Etlingera.

Dalam membuat motif Balikpapan Tempo Doeloe, Ida terinspirasi kain Jakarte Punye Cerite, ketika ia mengikuti pameran di ibukota. Motif lain yang ikut dikembangkan adalah mangrove, kantong semar dan anggrek hitam. Terhitung, sudah 35 motif dihasilkan dalam kurun waktu hampir 2 tahun.

Ke depan, Vi berencana mengeluarkan produk batik cap maupun printing demi mempercepat pengenalan motif Balikpapan. Dengan produk yang lebih terjangkau, motif Batik Vi bisa lebih cepat dikenal.

Produksi

Sampai tahun kedua, Vi masih fokus pada batik tulis. Seluruh desain dikerjakan Ida Roy Nirwan dibantu sejumlah tim. Sementara proses produksi yang meliputi canting, perebusan, pelorodan hingga pengeringan, bekerja sama dengan perajin lokal.

Ketika pesanan meningkat, ia juga mengambil perajin dari luar Balikpapan. Terbatasnya SDM di bidang ini menjadi salah satu tantangan Batik Vi, dan produsen batik tulis lain di Balikpapan. Tahun ini, Vi dipilih Ikatan Dokter Indonesia untuk membuat desain seragam khusus pada semiloka dokter kulit di Balikpapan.

BATIK VI
Komplek Balikpapan Superblock E/13 Balikpapan
082211444425

Source : Buku Ragam Batik Balikpapan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Balikpapan

LEAVE A REPLY