Perkembangan Batik Balikpapan

Perkembangan Batik Balikpapan

589
0
SHARE

Napak tilas perjalanan batik Balikpapan bisa terlihat dari keberadaan para pelopor yang bertahan hingga saat ini. Diawali dari keinginan Hariyati mengembangkan diri, muncullah SHAHO. Sampai pada kemauan mengenalkan kekhasan Balikpapan seperti dilakukan Ida Roy Nirwan dalam mengembangkan Batik Vi. Para kreator motif lokal hadir menawarkan konsep dengan tujuan utama mencitrakan Balikpapan melalui kain batik.

Cikal bakal batik Balikpapan dimulai pada 1991. Ketika itu, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi menggelar program pelatihan keterampilan. Diantara sekian program yang ditawarkan, beberapa orang tertarik dengan membatik. Salah satunya Hariyati.

Instruktur yang dilibatkan dalam latihan keterampilan ini adalah para ahli dari Balai Besar Batik Yogyakarta. Latihan meliputi pengenalan batik, perlengkapan dasar, melukis motif, hingga menuangkan motif dalam mori. Melalui latihan yang dilakukan secara simultan, barulah tahun 1993, salah beberapa peserta berani membuat produksi. Hariyati termasuk peserta yang berhasil hingga mendirikan SHAHO.

Dari waktu ke waktu, keberadaan SHAHO terus diperhitungkan. Hingga muncul beberapa perajin yang serius menciptakan batik dengan motif lokal.

Ada nama Rones Triyono yang menggarap motif Arnesta mulai tahun 2001 dan Emi Hasyimiah Alaydrus yang menggarap Ampiek Balikpapan pada 2004.

Mengingat kota ini kaya dengan keragaman budaya, alam dan masyarakat, motif yang muncul pun terlihat semarak. Umumnya mengandung tiga unsur yang dekat dengan Balikpapan, yakni, hutan, bukit dan laut.

Batik Arnesta misalnya, meski mempertahankan motif beruang madu sebagai ikon Balikpapan, juga menyisipkan unsur kekayaan laut. Begitu pula dengan Ampiek yang lekat dengan bakau, tetap mempertahankan garis lengkung khas suku Dayak. Kombinasi antara berbagai unsur juga dipengaruhi asal perajin. Rones yang masih keturunan perajin batik Cirebon, menyukai desain yang berhubungan dengan laut, ombak dan nelayan.

Sementara Sulya, generasi kedua perajin batik Maesan Bondowoso, gemar mengeksplorasi corak dedaunan yang ada di sekitar kita.

Batik saat ini sudah tak lagi menjadi pengisi lemari dan hanya dikeluarkan jika ada acara-acara khusus. Menggunakan busana bermotif batik sudah menjadi tren dan kebanggaan. Bahkan banyak orang berburu batik untuk melengkapi busana yang dimiliki. Apakah itu busana kasual maupun acara resmi.

Peran Pemerintah Kota Balikpapan dalam mendorong perkembangan batik terlihat sejak awal keberadaan motif lokal. Selain menggelar pelatihan membatik, juga digelar pameran hasil karya perajin lokal, sampai melakukan promosi ke berbagai kota dan negara.

Dalam mengenalkan batik Balikpapan, istansi yang terlibat juga semakin banyak. Selain Disperindagkop dan Dekranasda, ada Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata, Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu, hingga Dinas Pendidikan.

Pusat Batik Nusantara

Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi juga telah mengeluarkan Surat Keputusan yang mewajibkan pegawai negeri sipil mengenakan batik setiap Kamis. Penggunaan batik di lingkungan pendidikan juga telah dilakukan lebih dulu. Selain melalui kebijakan ke dalam instansinya, pemerintah mendorong industri batik melalui kemudahan perijinan bagi investor yang akan membangun sentra-
sentra perdagangan batik.

Salah satunya dilakukan manajemen Balikpapan Trade Mall yang menyediakan satu lantai sebagai Pusat Batik Nusantara. Ini adalah pusat batik terbesar di Indonesia Timur. Batik,–bukan hanya motif Balikpapan, juga memperoleh ruang yang lebih luas. Toko yang menjual pakaian khusus motif batik bermunculan di sepanjang Jalan Sudirman, hingga Ahmad Yani.

Beberapa tahun lalu, batik masih cenderung digunakan pada acara resmi. Sebagai salah satu pakaian nasional Indonesia, batik seringkali dipakai pada acara formal. Saat ini berbusana batik terlihat lebih luas. Apalagi banyak perajin yang membuat motif batik menjadi lebih modern. Batik bisa dijadikan busana yang dipakai sehari-hari maupun pada saat bepergian ke mana pun. Saat kita melihat batik pada masa sekarang kemudian menilik batik pada masa lalu, tampak banyak sekali perbedaannya.

Saat ini batik lebih beragam. Keberagaman tersebut meliputi keberagaman motif batik yang semakin lama semakin berkembang, keberagaman warna batik yang semakin lama semakin menarik warnanya, serta keberagaman jenis bahan, teknik, dan desain busananya.

Keberagaman motif batik sekarang sudah tidak terpaku pada bentukbentuk motif, isen, tata susunan, dan teknik seperti pada batik klasik. Batik masa kini perkembangannya sangat luas dan bebas, mulai dari pengembangan unsur motif klasik hingga pengolahan motif yang sangat ekspresif.

Keberagaman motif ini sangat tergantung dari pencipta atau kreator batik tersebut. Motif batik bisa berupa pengayaan flora atau fauna secara bebas, sebuah cerita kehidupan sehari-hari masa sekarang atau masa lampau, bahkan bisa berupa motif abstrak.

Perkembangan proses pewarnaan yang menghasilkan beragam warna secara maksimal serta mampu menghasilkan warna senada menurut permintaan pasar, terbukti menguntungkan para produsen batik.

Bahan batik pada masa lalu berupa bahan katun atau mori, tetapi sekarang pengetahuan bahan dan aplikasi untuk bahan batik sudah sangat beragam. Selain katun mori, ada juga organdy, organdy chiffon, organdy sutra, sutra, sutra ATBM (bukan mesin), chiffon, chiffon sutra, denim, suede, dan masih banyak lagi.

Teknik membatik pun berkembang. Zaman dahulu teknik batik perintangan dengan malam dilakukan menggunakan berbagai macam canting. Dalam perkembangannya, tidak hanya canting saja yang digunakan. tetapi juga bisa menggunakan kuas. Selanjutnya, pewarnaannya tidak lagi hanya celup tetapi bisa dengan menggunakan air-brush atau dengan teknik colet.

“Batik makin kaya warna. Batik sekarang sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat, karena mengikuti permintaan kebutuhan pasar yang semakin banyak.”

Pengembangan teknik yang tanpa batas ini akhirnya mampu mengembangkan berbagai efek dan tekstur dalam motif batik masa kini. Penggunaan batik sebagai busana pun berkembang. Busana yang tadinya menjadi kebutuhan sekunder, saat ini mengalami pergeseran menjadi kebutuhan tersier.

Pergeseran ini terjadi karena busana mampu menjadi cerminan kepribadian dan citra diri pemakainya. Melalui busana, orang dapat menunjukkan jati dirinya, baik sifat dasar, status sosial, kemampuan ekonomi, dan lingkungan keberadaan. Desain busana batik saat ini sangat beragam.

Hal ini sangat berbeda dengan masa lalu, di mana batik dalam busana hanya digunakan sebagai rok panjang dengan wiron. Sekarang, kain batik bisa dirancang sedemikian rupa sehingga mampu eksis dalam segala suasana.

Batik dapat dijadikan pilihan sebagai media untuk mengekspresikan diri. Dalam hal ini, batik dapat dikreasikan sebagai busana dengan teknik lilit tanpa memotong lembaran kain.

Pengrajin Batik Motif Balikpapan

Menuju Kampung Batik

Meski tak bisa dipungkiri jika saat ini sektor jasa, perdagangan dan industri menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Balikpapan. Perkembangan kedua sektor tersebut mampu memberikan tingkat kesejahteraan yang lebih baik kepada masyarakat secara lebih luas.

Namun, perubahan jaman yang sedemikian dinamis. Membawa Balikpapan menuju persaingan tingkat regional, nasional maupun internasional. Sektor perdagangan dan industri yang selama ini menjadi penopang utama mengalami kontraksi yang kuat terhadap tingkat persaingan ini. Maka perlu dilakukan terobosan-terobosan baru dalam mempertahankan skala kesejahteraan masyarakat Balikpapan.

Salah satunya adalah melalui upaya pengembangan ekonomi kreatif. Kegiatan yang bertumpu pada kreatifitas, ide, dan bakat individu dalam menciptakan kreasi yang memiliki nilai ekonomi harus dikembangkan. Ekonomi kreatif tidak memerlukan sarana produksi yang besar dan sarat modal.

Karenanya, pengembangan ekonomi kreatif sangat cocok untuk dikembangkan dari skala kecil dan bersifat informal. Ekonomi kreatif memiliki 14 sub sektor usaha sebagai penggerak. Salah satunya usaha kerajinan. Sektor ini memiliki nilai ekonomi tinggi karena keunikan produk dan sumber potensi tak terbatas. Sumber penggerak industri ini berasal dari ide dan kreasi perajin. Selain potensi ekonomi yang dapat ditimbulkan, nilai keunikan kerajinan dapat menjadi budaya suatu daerah.

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Balikpapan sebagai penggerak utama sektor ini memiliki sejumlah rencana strategis. Sasaran dalam rencana strategis tersebut disinergikan dengan upaya memberdayakan perempuan sebagai elemen penting dalam keluarga, lingkungan serta masyarakat sekitar.

Peran strategis perempuan tidak terbatas pada pelayanan keluarga. Melalui peningkatan kapasitas dan kapabilitas perempuan, mereka dapat berbuat lebih baik bagi keluarga, lingkungan, serta masyarakat sekitar. Tidak tertutup kemungkinan sektor kerajinan melahirkan pengusaha-pengusaha tangguh yang mampu memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi.

Harmonisasi pengembangan ekonomi kreatif dengan memberdayakan perempuan melalui penciptaan wirausaha baru sektor kerajinan, dapat menjadi penggerak baru perekonomian Kota Balikpapan.

Kerajinan yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Balikpapan adalah Batik Khas Balikpapan dan Bordir Khas Balikpapan. Kedua jenis produk tersebut memiliki nilai jual tinggi sebagai cinderamata wisatawan atau tamu yang berkunjung. Fenomena tersebut dapat dilihat dari ramainya Pasar Inpres Kebun Sayur. Sebagai ikon pasar kerajinan Balikpapan, Pasar Inpres memiliki nilai perputaran ekonomi yang cukup signifikan.

Rencana pengembangan berikutnya yaitu penciptaan tenaga-tenaga perajin. Pola perekrutan dan pendidikan calon tenaga pengrajin dilakukan secara masif dan kontinyu. Secara masif dimaksudkan sebagai upaya Dekranasda menjemput bola dengan cara melakukan pelatihan-pelatihan yang tidak jauh dari tempat tinggal peserta.

Ini terkait dengan sasaran program yang melibatkan ibu rumah tangga dan perempuan aktivis organisasi kemasyarakatan. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan akan diusahakan menggunakan fasilitas sosial yang berada di lingkungan sekitar, seperti gedung PKK, balai desa, atau kantor kelurahan.

Secara kontinyu dimaksudkan sebagai upaya Dekranasda dalam melatih calon tenaga perajin hingga mampu menghasilkan produk bernilai seni dan nilai ekonomi tinggi. Pelatihan dilakukan mengikuti jenjang keterampilan yang dimiliki peserta.

Bagi peserta yang telah mahir dan telah memiliki produk kerajinan yang khas dan unik dapat difasilitasi Dekranasda untuk kegiatan promosi dan pemasaran produk tersebut.

Sejak tahun 2012, Dekranasda telah menggagas keberadaan sentra pembuatan batik tulis. Kelurahan Karang Joang di Kecamatan Balikpapan Utara menjadi lokasi yang dipilih. Daerah ini menjadi pilihan lantaran memiliki sumber daya perajin batik siap latih, dekat dengan objek wisata dan tingkat kepadatan penduduk yang rendah. Selain itu, lansekap wilayah yang banyak pepohonan memungkinkan dibentuknya satu desa satu produk (one village one product).

Upaya yang dilakukan untuk mewujudkan Kampung Batik Karang Joang telah dimulai melalui pelatihan membatik bagi warga sekitar. Dari kegiatan itu, mereka dapat membuat 400 selendang motif batik yang diberikan kepada tokoh masyarakat di acara HUT Kota Balikpapan 2012.

Langkah yang dilakukan Dinas Perindutrian, Perdagangan dan Koperasi serta Dewan Kerajinan Nasional Daerah selanjutnya adalah meningkatkan keterampilan teknis bagi para perajin. Untuk mendorong produksi, Disperindagkop berencana membangun gerai batik, mengikuti pameran tingkat lokal dan nasional, peningkatan manajemen usaha dan studi banding.

Source : Buku Ragam Batik Balikpapan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Balikpapan

LEAVE A REPLY