Home Lifestyle Bahasa, Selubung, Diri

Bahasa, Selubung, Diri

818
0

‘Bahasa lebih dari darah,’ ujar Franz Rosenzweig dalam konteks, zaman, dan momen tertentu. Terlepas dari segala unsur itu, saya membaca kalimat tadi di halaman pertama sebuah buku tentang proses-proses perubahan bahasa. Nanti saya akan sebut.

Daya cipta yang kita bisa hisap dari bahasa, tindak berbahasa dan permainan bahasa, sungguh dahsyat. Hasilnya bisa luar biasa hebat, buruk, mengerikan, indah. Atau lucu. Saya suka sekali ketika teman-teman menyingkat kata-kata untuk menghasilkan istilah baru. Tapi ketika saya mau bilang ini proses kreatif, ada keraguan. Jangan-jangan ia lebih merupakan sikap sok kreatif ketimbang kreatif.

Saya belum yakin kata-kata yang dilahirkan dari gabungan kata lain memang memperkaya bahasa, menambah sesuatu yang baru. Kadang-kadang saya rasa malah sebaliknya. Ketika ‘buka puasa bersama’ dijadikan ‘bukber,’ sebenarnya ada sesuatu yang hilang.

Sering juga dalam bentuk baru sebuah istilah, yang hilang lebih dari sekadar bunyi. Dengan ‘bukber,’ misalnya, suasana hangat kebersamaan dan sifat syahdu puasa mengesankan nada buru-buru. Tapi artinya tetap sama; metamorfosa tidak menambah nuansa apapun kepada makna.

Ada lagi. Akhir-akhir ini saya mengetahui bahwa ‘baper’ itu ‘bawa perasaan’. Tapi ke mana ia membawakan perasaan itu, saya malas cari tahu – karena warna bunyinya mirip diaper atau popok.

Tampaknya ada sesuatu yang merugikan estetika dalam proses bahasa yang kreatif atau sok kreatif ini. Saya belum ketemu contoh yang cukup ekstrem, maka saya membuatnya sendiri: bagaimana kalau ‘bercinta’ jadi ‘berta’ dan ‘bersetubuh’ jadi ‘bebuh’? Aneh, kan? Bukankah kemesraan dan gairah langsung hilang dari ungkapan tersebut? Ini hanya contoh yang absurd, tapi justru istilah ‘ML’ tidak jauh beda bunyinya dari ‘bebuh’ saya itu.

Apakah proses menjelekkan bahasa perlu dibatasi? Saya menentang sensor atau gangguan institusi apapun dalam perkembangan (maupun kejatuhan) bahasa. Beberapa dekade yang lalu, negara jiran melakukan program penyempurnaan kamus masyarakatnya. Entah mengapa, kita agak jarang menemukan sastra yang bagus di situ. Upaya ‘negara’ untuk melarang kata-kata atau memaksakan kosa kata tertentu, tidak pernah menimbulkan hasil yang menguntungkan.

Studi yang paling mendalam dan menyayat hati adalah karangan sarjana Yahudi Jerman, Victor Klemperer, diterbitkan tahun 1947 dengan judul LTI – Lingua Tertii Imperi: Notizbuch eines Philologen (Bahasa Reich Ketiga: Catatan Harian Seorang Filolog). Profesor Klemperer mencatat perubahan dalam bahasa Jerman sejak 1933, ketika Nazi mulai berkuasa.

Tak lama kemudian, sebagai orang Yahudi, dia dikeluarkan dari universitas dan tidak boleh bekerja. Catatan harian menjadi caranya untuk tetap waras di tengah amuk realitas. Klemperer selamat dari kamp konsentrasi hanya karena isterinya, menurut klasifikasi Nazi, ‘berdarah Jerman murni’.

Buku LTI menggambarkan bagaimana rezim dapat mengubah sebuah bahasa demi mengendalikan pikiran dan emosi para penuturnya. Banyak sekali kata Jerman yang ditumpas oleh LTI, Bahasa Reich Ketiga. Ia seolah racun pembawa maut, sebagaimana rezim yang menuangkannya; ia menghapuskan wawasan dan perasaan, sedangkan rezimnya menghapus nyawa.

Totalitarisme komunis yang selama puluhan tahun menguasai negeri asal saya dan seluruh Eropa Timur, juga menghasilkan banyak neologisme, akronim, dan perubahan dalam arti kata-kata. Sampai sekarang ada ungkapan-ungkapan dari sastra yang dulu muncul dalam percakapan sehari-hari. Tapi setelah bertahun-tahun dipakai mesin propaganda, kini kita susah mengunakannya tanpa rasa jijik.

Saya kira dalam bahasa Indonesia juga ada istilah-istilah seperti itu, meskipun totalitarismenya beda topeng. Cukup sering terdengar, misalnya, bahwa sebuah ucapan atau kata ‘bunyinya Orba banget’.

Terlepas dari upaya rezim-rezim, rancangan propaganda, dan segala hal yang berbau kuasa, politik, atau kontrol, bahasa bisa berubah karena pelbagai perkara dan keadaan, termasuk kreativitas dan humor penggunanya. Japri, baper, bukber, serta teman-teman mereka yang tak terhitung, alay semua. Lucu.

Lucu bagi kita yang tahu konteksnya dan aslinya. Kita akan bercanda memakai kata-kata itu, tapi biasanya hanya dalam bahasa lisan atau media sosial. Kita tidak sudi menulisnya (tapi mengetiknya di layar telepon), karena bentuknya pelik, kurang sesuai, dan karena kita tetap tahu asal usulnya.

Saya bertanya-tanya dalam hati apakah generasi-generasi lebih muda, yang terbiasa dengan gaya komunikasi yang disederhanakan dan bacaan-bacaan yang sangat pendek, masih bisa mengucapkan dan menuliskan perasaan-perasaan mereka dengan kata-kata lengkap. Jika tidak, apakah pikiran mereka juga tidak lengkap? Atau sekadar berbeda? Saya tidak tahu.

Dalam ‘Politics and the English Language’ (1946), salah satu esai paling terkenal karya George Orwell, kita menemukan perbandingan ini: Kalau seorang pria mulai minum karena merasa dirinya gagal, dia akan semakin gagal karena minum. Bahasa menjadi jelek dan kurang akurat, karena pikiran kita ‘meleset’. Dan justru kecerobohan berbahasa itu pula yang bisa membuat kita berpikiran ‘meleset’.

Kata pepatah Prancis, seseorang itu bisa disamakan dengan gayanya. Victor Klemperer mengutipnya dalam hubungannya dengan gaya bahasa – le style c’est l’homme. Bahasa memungkinkan kita berbohong, kata-kata memberi kita ruang untuk menyembunyikan kebenaran.

Melalui bahasa kita mampu menyuarakan dan menghurufkan dusta. Tapi di luar kebenaran, gaya bahasa memperlihatkan sesuatu yang sangat dekat dengan ciri khas seseorang. Mungkin bahkan lebih dari itu. Menurut Klemperer, ia menyingkapkan diri. Kata-kata seseorang boleh tidak benar. Tapi gaya bahasanya memamerkan kepribadiannya – tanpa selubung.

Source : Qureta (Natalia Laskowska)

Previous article5 Hal yang Tak Boleh Anda Katakan Saat Travelling
Next articleCara Jadikan Tulisan Tangan Sendiri Jadi Font di Android

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.