Kampung Atas Air Margasari, Pernah Antar Balikpapan Raih Prestasi

Kampung Atas Air Margasari, Pernah Antar Balikpapan Raih Prestasi

453
0
SHARE

DESTINASI wisata yang satu ini sempat mencapai masa jayanya pada tahun 2006 sampai 2013 silam. Kampung Atas Air Margasari yang pernah mengantarkan Balikpapan menerima penghargaan Inovasi Manajemen Perkotaan (IMP) Award 2013 ini memang menjadi bukti keberhasilan Pemkot Balikpapan didukung Pertamina menyulap kawasan kumuh menjadi kawasan yang tertata rapi dan lebih hijau.

Untuk bisa menikmati pemandangan di sini, sebaiknya datang pada sore hari, mulai jam 17.00 WITA. Pada sore sampai menjelang malam, kawasan ini biasanya digunakan warga lintas usia untuk refreshing. Anak-anak biasanya bermain di atas jembatan ulin sepanjang kurang lebih 1 km dan menangkap kepiting dengan teknik nganco. Remaja atau pemuda lebih sering berburu sunset dan foto. Tampak pemandangan api kilang jelas dari sini. Sedangkan orang dewasa, lebih banyak menggunakannya untuk sekedar melepas penat dari aktivitas sehari-hari.

Soal pedagang asongan, kita tidak akan menjumpainya di sepanjang jembatan beton. Kita harus menyusuri jembatan ulin sampai di ujung menuju arah pelabuhan speed untuk bisa menemui para pedagang tersebut. Mereka pun tak lagi sebanyak dulu. Pengalaman Tim Discover saat mengeksplorasi kawasan ini, hanya dua pedagang asongan yang terlihat. Masing-masing dari mereka menjual bakso dan es doger.

Di saat bersamaan, Tim Discover juga bertemu dengan rombongan Polres Balikpapan yang sedang berpatroli di kawasan Kampung Atas Margasari. Turut hadir Kapolres Balikpapan AKBP Jeffri D. Juniarta, SH, S.IK, dan Dandim Letkol Inf Heri Setya dan jajaran.

Di ujung jembatan ulin, warga sekitar yang kebanyakan nelayan kerap menjajakan hasil tangkapannya. Kalau ingin mencari ikan yang masih sangat segar dengan harga yang lebih miring, tidak ada salahnya kalau kita mencoba peruntungan dengan datang ke sini. Bila beruntung, kita akan menjumpai nelayan tersebut.

Soal gazebo, saat ini sudah tidak seramai dulu. Ada beberapa gazebo yang kini sudah tak beroperasi lagi dan dimanfaatkan warga sekitar untuk duduk santai. Gazebo yang akrab disebut “Café Beton” oleh warga Balikpapan ini hanya beroperasi mulai menjelang senja sampai malam hari.

Pilihan makanan yang tersedia pun tak selengkap dulu. Saat ini, hanya ada pilihan makanan dan minuman yang umum dijumpai di café seperti mie goreng, kentang goreng, cappuccino, jus buah, sisha dan lain-lain.

Kondisi yang mulai kurang terawat seperti jalan di jembatan beton yang bergelombang, jembatan ulin banyak yang bolong, dan tidak adanya lahan parkir kendaraan dirasa menjadi penyebab mulai redupnya “pesona” berwisata di Kampung Atas Air Margasari.

Banyak warga berharap agar Pemerintah Kota Balikpapan maupun PT. Pertamina (Persero) — yang dulu memasukkan kawasan ini sebagai tempat program Corporate Social Responsibility (CSR) mereka — kembali menghidupkan kawasan ini untuk menarik minat wisatawan berkunjung. Sangat disayangkan apabila kawasan dengan potensi wisata yang cukup baik ini tidak “disentuh”.

Margasari Above the Water Village

This area received an award for outstanding Innovation in City Management (IMP) in 2013. A success story in turning a slum into a well-organised and greener area.
It has since been to put aside due to other projects.

In its glory days, people came here to watch the sun goes down. People were racing to be the first ones here to get the perfect spot. The street vendors were always the first.

There are gazebos along the concrete bridge that sell things from food to shisha. Some buildings are used for children learning activities. Those belonging to the Association of Home Schooling and Alternative Education (Asah Pena) led by the mayor’s wife, Mrs. Arita Rizal Effendi.

This 6.7 hectare village remains green despite being located above the water. The residents grow all sorts of potted flowers along the village road.

Margasari above the Water Village not only offers the sunset and waves, it also a site for the natural Mangrove forestry and oil refinery. The forever torch that never goes out is directedly located behind PERTAMINA’s oil processing plant.

We can easily reach this village with any kinds of land vehicle. One should take either the public transport number 5 (in yellow) or number 6 (in dark blue) from Balikpapan Permai Terminal. Continue with motorbike for hire or on foot for about 900 meters from Kebun Sayur Plaza.

Private cars can only go through Sepaku Road and Polsek Balikpapan Barat Alley for motorbikes. Everyone is welcomed to visit at any time of the day and night.

Source : Majalah DISCOVER BALIKPAPAN Edisi 57, September 2016

LEAVE A REPLY