Sampah Jadi Berkah

Sampah Jadi Berkah

1973
0
SHARE

MEMBENTUK RASA CINTA LINGKUNGAN DENGAN EDUWISATA

DISEBUT “Tempat Pemrosesan” tentu bukan tanpa sebab. Yak, di sini, sampah yang masuk tidak hanya dibiarkan begitu saja. Di sini, sampah-sampah itu melalui berbagai tahap, mulai dari pemilahan sampai penggunaan kembali dengan asas 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Lalu, bagaimana proses pemakaian kembali sampah yang dihasilkan seluruh warga Balikpapan? Simak penjelasan berikut!

SEJARAH PEMBANGUNAN AWAL TPA MANGGAR

Sekitar 19 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1997 sampai 1998, proyek pembangunan TPA Manggar dimulai. Dana pembangunannya sendiri berasal dari dana Program Pembangunan Perkotaan Wilayah Kalimantan (dana hibah dari Bank Dunia).

Fasilitas milik Pemerintah Kota Balikpapan ini berdiri di atas lahan seluas 27,1 hektar di Jl. Proklamasi RT. 36, Manggar.

Setelah 4 sampai 5 tahun pengerjaan proyek pembangunan rampung, tepatnya pada 13 Januari 2002, TPA Manggar resmi beroperasi dan hingga kini terus bersolek sehingga tak hanya menjadi tempat penampungan sampah semata.

Sejak 2015, kami terus berbenah. Sudah ada beberapa fasilitas, sarana dan prasarana yang kami bangun untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke mari,” terang Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) TPA Manggar Andi Irwan.

TAK SEJOROK YANG DIPIKIRKAN

Untuk menuju destinasi Edu Wisata ini cukup mudah apabila kita menggunakan kendaraan pribadi. Bila menggunakan angkutan umum, kita harus berjalan kaki sekira 1 km lebih atau menumpang ojek pengkolan yang ada di mulut jalan masuk menuju TPA.

Memasuki gerbang TPA, petugas keamanan akan memberikan tanda pengenal berupa badge agar kita bisa memasuki area TPA Manggar. Kita tidak akan ditarik biaya retribusi saat mengunjungi kawasan ini.

Jika kita memikirkan hal menjijikan dan gunungan sampah yang beratnya sampai satuan ton, sebaiknya buang jauh-jauh pikiran itu lebih dulu dan melangkahlah ke dalam. Kita akan disuguhkan pemandangan asri lengkap dengan hijaunya pepohonan, kebersihan yang terjaga dan pastinya, udara segar tanpa tercium aroma “khas” sampah.

FASILITAS LENGKAP DAN RAMAH ANAK

Di bagian dalam, kita akan menjumpai pondokan yang sudah disiapkan oleh pengelola untuk wisatawan yang berkunjung. Di masing-masing pondokan, ada kompor yang bahan bakarnya dari gas methane, yakni gas yang dihasilkan dari pengolahan sampah. Kita pun dipersilakan menggunakan kompor tersebut untuk memasak. Tenang saja, meskipun bahan bakarnya hasil dari olahan sampah, makanan atau air yang kita masak tetap aman dikonsumsi.

Tak cuma itu, di sini, lokasi bermain anak pun juga telah disediakan. Anak-anak akan dimanjakan dengan bebagai permainan, seperti ayunan, jungkat-jungkit, jembatan gantung, flying fox, mobil ATV, “bus” wisata yang dimodifikasi berbahan dasar sampah dan Motor Cross.

Suka membaca? Atau ingin mengajak anak-anak untuk membaca? Di sini bisa. Pengelola TPA Manggar juga menyiapkan area taman bacaan lengkap dengan ratusan koleksi buku bertema lingkungan hidup. Kita akan merasakan pengalaman membaca yang sangat berbeda dibanding saat berada di perpustakaan

MENELISIK LEBIH DALAM PROSES PENGOLAHAN SAMPAH

Saat berada di sini, jangan lewatkan kesempatan untuk melihat langsung proses pengolahan sampah, mulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik, pelaksanaan program 3R (Reduce, Reuse, Recycle), proses pengolahan sampah menjadi gas methane, sampai penggunaan sampah sebagai tenaga pembangkit listrik.

Tahap pertama, pemilahan sampah. Saat sampah dari rumah tangga, pabrik, rumah sakit dan lain-lain masuk ke TPA, tim teknis akan memisahkan sampah tersebut menjadi dua kategori, organik dan anorganik.

Setelah terpisah, masuk ke tahap selanjutnya yaitu program 3R. Sampah yang masih bisa digunakan kembali akan disortir lalu nantinya akan diberi “sentuhan” menjadi barang yang siap pakai.

Sedangkan sampah yang dapat didaur ulang akan masuk ke pengolahan dari masing-masing kategori. Sampah organik akan diolah menjadi pupuk kompos lalu dipasarkan di kalangan terbatas. Rencananya, kompos tersebut akan didistribusikan untuk reklamasi lahan bekas tambang. Selain itu, akan dibuat tanaman percontohan, terutama tanaman yang jarang tumbuh di Balikpapan dan memiliki banyak manfaat.

Untuk sampah anorganik, akan diolah menjadi berbagai produk dan kerajinan tangan seperti tas berbahan kantong plastik, baju, dompet, tempat tisu, vas bunga, bantal dan masih banyak lagi.

img_0247z

img_0253z

img_0258z

Khusus sampah dari rumah sakit, akan dipisahkan lalu dibakar di dalam insenerator. Sedangkan lindi atau cairan sampah, akan dialirkan melalui jaringan pipa ke dalam penampungan guna menetralisir kandungannya lalu dialirkan lagi ke penampungan terakhir, tempat di mana terdapat puluhan ikan yang sengaja dipelihara pengelola sebagai tanda bahwa air yang sudah dinetralisir bahwa air tersebut sudah steril dari zat berbahaya dan aman untuk digunakan.

MAMPU MENDONGKRAK PENDAPATAN DAERAH

TPA Manggar setiap tahunnya selalu dikunjungi oleh wisatawan baik dari dalam maupun luar daerah. Tak hanya itu, pejabat-pejabat daerah lain juga acapkali berkunjung ke sini, mulai dari diskusi ringan seputar pengolahan sampah sampai studi banding.

Setiap bulan, kami dikunjungi sekira ribuan orang. Terbanyak dari rombongan pelajar dari Play Group sampai SMA, bahkan mahasiswa. Mereka sering mengadakan kegiatan bertema lingkungan di sini,” papar Andi.

Dengan potensi tersebut, bukan hal yang mustahil bila dari tempat “berkumpulnya” sampah ini, pundi-pundi pendapatan daerah bisa terdongkrak.

“Tamu dari luar daerah yang berkunjung ke mari biasanya bermalam di sini. Bermalamnya di hotel, belanja oleh-olehnya di Kebun Sayur dan tak jarang mereka menyempatkan singgah ke restoran-restoran ternama di Balikpapan. Otomatis, pendapatan daerah bertambah,” sambungnya

Selain dari kunjungan, pengolahan pupuk kompos pun sebenarnya bisa saja dikomersilkan. Setiap hari, TPA Manggar mampu memproduksi 150 ton pupuk kompos, itu pun nyantai, tidak dikebut. “Kalau dikebut, kami bisa memproduksi sampai dua kali lipatnya,” tambahnya.

Pemerintah Kota Balikpapan bisa saja memanfaatkan peluang ini. Akan sangat mubazir bila jumlah sebanyak itu tidak digunakan untuk meningkatkan perekonomian daerah.

“Selama ini, kami hanya membagikan secara gratis pada siapapun yang ingin melakukan penghijauan di lingkungannya. Padahal, bila orang lain melihat gunungan sampah itu hanyalah sampah, kami di sini melihatnya sebagai tumpukan uang,” tegasnya.

BERMANFAAT UNTUK SEKITAR

Manfaat TPA Manggar selain berfungsi sebagai wadah menampung sampah sisa aktifitas sehari-hari warga Balikpapan, juga mampu memberikan dampak positif untuk warga yang tinggal di sekitar TPA.

Apa dampaknya? Warga sekitar dapat menikmati gas methane hasil pengolahan sampah di rumah mereka untuk keperluan memasak secara gratis. Sekira 150-an Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di kawasan komplek TPA Manggar tercatat sebagai penerima aliran gas yang menghasilkan api biru dan tidak berbau tersebut.

“Kami juga membantu memasarkan makanan yang dimasak menggunakan gas methane oleh warga sini. Kami akan menempatkan panganan tersebut di Workshop 3R Anorganik dan menawarkan kepada pengunjung untuk datang langsung ke warung mereka. Penghasilan mereka pun bertambah.

Benar saja, setelah puas mengeksplorasi tiap sudut TPA Manggar, tim Discover diajak Pak Andi mengunjungi salah satu warung yang beroperasi dekat pintu gerbang TPA Manggar. Warung itu menjual makanan ringan seperti gorengan, berbagai cemilan, dan minuman ringan.

“Dari gas ini, kami bisa meraup pendapatan 100-200 ribu Ripuah per hari. Kebanyakan pembeli datang dari pengunjung TPA atau pegawai TPA itu sendiri. Warung ini sendiri buka dari jam 7 pagi sampai jam setengah 6 sore,” sebut Nina, pemilik warung tersebut.

Khusus listrik dari gas methane, pengelola TPA Manggar belum membagikannya pada warga. Listrik yang dihasilkan masih digunakan untuk mengaliri seluruh instalasi di TPA Manggar.

TERUS BERINOVASI

Edu Wisata di kawasan TPA Manggar ini dinilai lengkap. TPA ini juga lah yang pernah “menyelamatkan” penghargaan Adipura untuk Kota Balikpapan pada tahun 2010 lalu, seiring dengan merosotnya nilai pada beberapa titik pantau saat itu.

Meski dirasa lengkap, pengelola tak berhenti berinovasi. Saat ini, pengelola telah menyiapkan pembangunan Ruang Steam Sauna di dalam area TPA. Rencananya, wahana berkapasitas awal 20 orang ini berukuran 4×4 meter dan memanfaatkan energi panas dari gas methane dan limbah kayu sebagai konstruksi ruangannya. Proses pembangunannya pun sudah mencapai 80%.

“Awalnya, saat kami memaparkan rencana pembangunan sauna ini ke Pemkot, saya disangka gila. Mereka berpikir untuk apa ada sauna di sini. Padahal, ini adalah bentuk kepedulian kami pada pegawai yang setiap hari bergelut dengan sampah. Saya berniat menggunakan sauna ini untuk menstrelisasi karyawan guna menjaga kondisi mereka tetap fit dan bersih,” ucap Andi.

Ruang Steam Sauna ini sendiri berada di belakang galeri produk kerajinan, dengan konsep ramah lingkungan. Material pembangunannya memanfaatkan yang ada di TPA dan tanaman herbalnya pun ditanam sendiri oleh pengelola. Tanaman herbal tersebut di tanam di dekat kolam pemancingan yang juga sedang dalam proses pembangunan. Pembangunan fasilitas ini ditargetkan rampung pada Oktober nanti.

Yak, di sini akan ada juga wahana pemancingan untuk umum. Akan ada 3 kolam pemancingan berukuran 15×20 meter dan 20×30 meter dengan kedalaman 4 meter, serta menjadi pusat dari kawasan eduwisata TPA Manggar.

“Kami sudah menebar 10.000 bibit ikan lele dan nila. Kemungkinan 5 bulan lagi ikan-ikan itu sudah siap untuk dipancing. Kami juga membangunan kolam pemancingan khusus untuk anak-anak, tentu dengan ukuran yang lebih kecil,” ujarnya.

Tim pengelola juga telah merintis lahan di sekitar area pemancingan untuk ditanami berbagai tanaman. Kawasan pemancingan ini hanya berjarak sekira 20 meter dari bibir jalan tol yang sedang dalam proses pengerjaan. Jadi, pemandangan dari jalan tol akan diisi dengan pemancingan dan taman di TPA Manggar.

ATASI KETERBATASAN KAPASITAS TPA

Andi kekeuh tidak ingin merencanakan pembukaan lahan baru untuk zona landfill. Saat ini sudah ada 3 landfill, dimana zona landfill 1 sudah ditutup untuk menambah tumpukan sampah. Hanya zona landfill 2 dan 3 yang kini menjadi lahan menampung sampah-sampah itu.

“Saat ini, Pemkot sedang membuka lahan baru sebagai zona landfill 4 yang masih tahap desain permukaan lahan,” katanya.

Ia menambahkan, sebenarnya ada cara lain yang bisa dilakukan selain terus membuka lahan. Yakni dengan mempercepat proses pengolahan sampah menjadi pupuk kompos

“Jadi sampah yang sudah lama seperti zona 1 itu dijadikan kompos secepat mungkin. Setelah kosong, sampah baru pun masuk ke situ. Lalu, giliran sampah di zona 2 yang dikebut pengolahannya. Begitu seterusnya sehingga siklus tumpukan sampah tidak terlanjur memenuhi landfill-landfill itu. Selalu ada ruang kosong untuk sampah yang baru masuk,” terang Andi

TEMPAT MENARIK DI SEKITAR

1. BUKIT ALPHA, DESTINASI LAWAS YANG KINI “MATI”

Tak jauh dari kawasan TPA Manggar, terdapat padang rumput berbukit yang dinilai mirip dengan bukit di serial TV anak-anak, Teletubies. Padang rumput berbukit tersebut sering disebut dengan Bukit Alpha.

Sekira 1-2 tahun yang lalu, tempat ini cukup dikenal oleh warga Balikpapan. Muda-mudi silih berganti mengunjungi tempat ini, baik yang hanya sekedar menikmati pemandangan alamnya, berselfie ria, bahkan piknik bersama keluarga.

Tapi saat ini, semua keindahan itu tak lagi terlihat. Bukit itu banyak yang dikeruk tanahnya, rumputnya tak lagi hijau dan merunduk karena seringnya diinjak/diduduki. Inilah yang menjadi “biang keladi” menurunnya minat berkunjung ke tempat ini.

Kita akan sangat sulit menemui sekumpulan orang yang bersantai di sini, membidik nuansa alam dengan lensa mereka, ataupun sebuah keluarga yang menggelar tikar mengobrol santai dengan kudapan di tangan mereka.

Padahal, bila tempat ini terus dijaga kondisinya, bukan tidak mungkin Bukit Alpha akan menjadi salah satu destinasi wisata alam andalan Kota Balikpapan.

2. BUKIT “TANPA NAMA”, BUKIT ALPHA YANG “TERLAHIR KEMBALI”

Tapi, masih di sekitar kawasan TPA Manggar, ada sebuah destinasi yang dapat menjadi “obat” penawar rindu akan keindahan Bukit Alpha. Yap, sekira 2 km dari akses masuk ke Bukit Alpha, ada sebuah padang rumput berbukit yang hampir sama persis dengan Bukit Alpha.

Bedanya, tempat ini masih belum banyak diketahui warga. Bahkan bukit ini belum memiliki nama yang disematkan. Tim Discover Balikpapan yang terjun langsung ke kawasan tersebut masih belum dapat mengetahui namanya.

Di bukit seluas sekira 1 hektare ini menyajikan suasana sama persis dengan Bukit Alpha. Rumput-rumput di sini masih sangat terjaga kondisinya. Di tengah-tengah padang rumput tersebut, ada jalan setapak yang dapat kita lalui dengan berjalan kaki.

Menyusuri setapak demi setapak, kita akan dibuat takjub dengan keindahannya. Jika kita berkunjung pada sore hari, kita akan dapat menyaksikan cantiknya proses tenggelamnya matahari. Rona kuning-merah menghiasi awan. Ini menjadi salah satu opsi bagi kita menikmati sunset.

Untuk bisa masuk ke bukit ini, kita akan sedikit disulitkan dengan pagar kawat berduri yang melintang di sepanjang bibir bukit. Yaaa, beranikan diri sedikit lah. Toh perjuangannya setimpal dengan apa yang akan kita dapatkan begitu tiba di dalam. [hfd]

INTERMEZZO 1

Pengolahan sampah di TPA Manggar menggunakan sistem sanitary landfill, yakni menimbun sampah dengan tanah agar membusuk. Sebelumnya, tumpukan sampah dilapisi biomembrane yang berguna untuk menahan air limbah sampah (leachate/lindi) sehingga tidak mencemari tanah sekitar.

Kemudian air yang tertampung di biomembrane dialirkan menuju bak penampungan air limbah melalui pipa-pipa resapan air yang terpasang pada setiap bagian biomembrane. Air tersebut lalu diteruskan ke instalasi pengolahan air limbah untuk dinetralisir agar tidak membahayakan.

Sistem ini berguna untuk mengurangi bau dari sampah yang mengalami pembusukan di dalam tanah. Teknik ini juga menghambat terbuangnya gas metana ke udara yang menjadi sumber bau dari sampah yang membusuk.

INTERMEZZO 2

Saat ini, Pemerintah Kota Balikpapan tengah menggodok proposal kerjasama dengan Uni Eropa yang berniat mengucurkan hibah guna pengembangan pengelolaan sampah di TPA Manggar.

Salah satu yang menjadi fokus pemberian bantuan itu adalah dengan memperkenalkan teknologi terbaru dalam pengolahan sampah, yang dikenal dengan sebutan Integrated Treatment Facility (ITF). Teknologi ini menjadikan pengelolaan sampah menjadi lebih sederhana, karena sampah yang telah dipisah terlebih dulu akan dimasukkan kedalam mesin yang menghasilkan produk turunan.

INTERMEZZO 3

Rata-rata, sampah yang masuk ke TPA Manggar mencapai angka 163,269 ton/tahun. Sedangkan jumlah sampah yang sudah dipilah terdiri dari 20,303 ton/tahun sampah anorganik, 11,008 ton/tahun sampah organik dan 115,266 ton/tahun sampah yang sudah tidak dapat digunakan lagi.

INTERMEZZO 4

Pada tahun 2014, terdapat 65-unit bank sampah dan 38 unit Rumah Kompos yang tersebar di hampir semua wilayah Kota Balikpapan.

Di tahun yang sama, total ada 65 pegawai di dalam tim Unit Pengelola Teknis TPA Manggar. Jumlah tersebut terdiri dari 10 orang Pegawai Negeri Sipil, 2 orang Staf Administrasi dan 51 orang Staf Operasional.

Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Manggar
Jl. Proklamasi RT. 23, Manggar
Balikpapan Timur

Walking Around TPA Manggar

CARING FOR THE ENVIRONMENT DESTINATION

It is called the Refuse Processing Area because it does exactly that. The rubbish gets separated accordingly and employing the 3R (Reduce, Reuse & Recycle) Golden Rule.

How do they actually reuse the rubbish created by the city of Balikpapan? Keep on reading.

THE EARLY DAYS OF MANGGAR TPA

The construction of Manggar TPA started about nineteen years ago in 1997. The World Bank actually helped fund the project through the Kalimantan Urban Development Program fund.

This city-run facility sits on a 27.1-hectare land on Proklamasi Road in Manggar area.

The project was completed in January 2002. It has been operational since and continues getting the necessary facelift.

The head of Technical Operation Unit of TPA Manggar, Andi Irwan, explained that there is a continuous reinvention of the facilities, structures and infrastructures to attract visitors since 2015.

IT’S NOT AS FILTHY AS ONE MIGHT THINK

One can use private vehicles to reach this tourism destination. If one takes the public transport, then one will end up walking for over a kilometer or alternatively catch a ride on the motorbike for hire instead.

There is no fee to visit this place. However, one will be given an identification card upon entering the gates.

Don’t start imagining disgusting things or one-ton landfills. Take a step inside and one will be greeted by beautiful scenery; plenty of trees, clean areas without the usual unpleasant rubbish smell.

KID-FRIENDLY FACILITY

There are huts available that one can use. Methane-fueld cookers are available within the huts. The methane gas is a byproduct of the rubbish. One can be sure that the methane gas provides a clean fuel for cooking and drinking.

The kid-friendly playground has swings, seesaws, foot bridges, Flying Fox, ATVs, dirt bikes and environmentally-friendly tour buses.

Fond of reading? Do you want encourage children to read more? The management provides hundreds of environment books in the Reading Area, which has a different feel than the usual library.

REFUSE PROCESSING PLANT

Don’t miss out on the actual Refuse processing facility. It starts from the separation of organic and inorganic rubbish. Carrying out the 3R Golden Rules, Methane gas conversion and using rubbish as fuel for the power generator.

The technical team separates the rubbish from homes, factories, hospitals into two distinct categories; organic and inorganic.

Next, is the process of sorting out which ones can be Reduced, Reuse and Recycled.

Recycled rubbish go to their respective processing plants. Organic ones will be made into compost and distributed to certain clients, such as former mining sites. There will be plant nurseries that grow useful plants that are not natives to Balikpapan.

Inorganic rubbish will be reused to make hand-made tote bags, clothing, wallet, boxed tissue covers, vases, cushions and so on.

Hospital rubbish are burned in the incinerator. Liquid waste or Lindi are passed through special pipes that neutralizes the chemicals that lead to a pond full of of fish. The fish are deliberately kept as an indicator that the water has been properly sterilized and is safe to use.

BOOSTING UP THE LOCAL ECONOMY

Visitors come from in out of the area throughout the year. Other city officials frequently visit Manggar TPA for a quick chat of rubbish processing or doing case studies.

From pre-school aged children to high school students take turn visiting this place every month in order to fulfill the environmental curriculum in their respective schools.

It is a place where the rubbish gather, but it might actually help boost up the local economy.

Out of towners that visit Manggar TPA have to spend the night at the local hotels. Shop at the local Kebun Sayur souvenir centre and dine at top Balikpapan restaurants, said Andi Irwan.

Andi Irwan Kepala UPTD TPA Manggar
Andi Irwan Kepala UPTD TPA Manggar

Manggar TPA is capable of producing 150-ton of compost on a slow day. In theory, it can be sold commercially. That amount can easily be doubled, if needed.

The city offcials will cease this opportunity to make it more profitable. Andi Irwan explained that this whole time the Manggar TPA has been distributing the compost for free for the locals who need it.
There’s more than meets the eyes, he added.

BENEFICIAL FOR ITS SURROUNDINGS

Manggar TPA can also benefit the people that live nearby beyond its purpose as a landfill.

What are the impacts? The nearby residents are given Methane gas for free to fuel their stoves. There are about 150 households that receive this gas that is odorless and creates a blue flame.

The TPA management also helps market the food cooked by the locals. The food is placed in the 3R Inorganic Workshop and offers them to directly obtain the food from the stalls, which benefit the locals.

After going through every corners of Manggar TPA, Disocover and Andi Irwan stopped by a kiosk that serves fry-ups, snacks and beverages.

We take in about 100-200,000 IDR daily revenue from the help of Methane gas. Most of the customers are visitors and employees of TPA. A kiosk owner, Nina, said the shop is open from 07:00 am until 05:30 pm.

Electricity produced in the facility is currently only used to power the whole Manggar TPA facility.

CONTINUOUS INNOVATION

Manggar TPA also helped the city of Balikpapan maintain its clean city award, the Adipura, in 2010 when there were some observed points were showing less-than-clean conditions.

The facility is considered well-equipped. However, the management is preparing to build a Sauna. This 4×4 steam room is big enough for 20 individuals. Recycled wooden planks will be used to construct it. Also, the heat will be generated from the methane gas. It is currently 80% completed.

Andi explained that the City council found it appalling when he first came up with the idea of sauna. This facility is intended to lift up the morale of the employees. At the same time, keeping the employees extra clean through steaming so they would maintain their good health, he added.

The sauna is located behind the Crafts Gallery. It has an environmentally-friendly theme that reused old materials. There is also an Herb Garden that is located near the fishing pond that is also under construction. They are due to be completed by October.

It is now officially a Public Fishing Area. There are three ponds that are 4-meter deep. Their sizes vary from 15×20 meter and 20×30 meter.

The management have added 10,000 young Tilapia and small Catfish which will be fully-grown in 5 months. There will also be a special pond for children with smaller fish.

The fishing area is only about 20-meter from the Toll Road. The construction of the toll road is underway, which will then have a nice view of the fishing area within the green Manggar TPA.

OVERCOME LIMITATIONS OF CAPACITY LANDFILL

Andi insisted that there will not be a new landfill as there are already two working ones; Landfill zones 2 and 3. Landfill zone 1 has been closed for any kind of dumping of rubbish.

The City is currently planning to build Landfill Zone 4, which is still in the design process.

Another way to free up space and speed up the composting process is by digging underground.

Landfill zone 1 will be converted into compost as soon as possible. When that’s completed, landfill zone 2 will be next to be processed. So, taking quick turns processing the landfills will free up the space for more.

NEARBY AREAS

1. ALPHA HILL, AN OLD PARK

Not far from Manggar TPA, there is a grassy hill similar to the one on the Teletubbies children’s show called the Alpha Hill.

People come here for picnics, taking selfie photos while enjoying the view on the grassy hills about 1-2 years ago.

However, that beauty is now gone. Parts of the hills are missing and turf is no longer green from being stepped on and sat on too much without any maintenance.

People hardly visit this place anymore. No one comes with their cameras or picnic baskets to have a laid-back conversation on the hill.

Hopefully, with proper maintenance this hill once again become a nice place to visit.

2. NO NAME HILL – “ALPHA HILL REBORN”

Luckily, there’s a similar looking hill about 2-km away that looks almost like Alpha Hill.

The difference is that is not well-known, nor it has a name yet. The Balikpapan Discover team managed to visit the place.

It has a view that resembles the Alpha Hill. It is about 1-hectare in area with well-kept grass. There is path for pedestrian through the field.

It is a nice place to catch the stunning view of the sunset. The yellow-red hues paint the sky as the sun goes down at dusk.

Word of caution, there is a razor wire fence that stretches along the edges of the hill. However, if one is courageous enough to go through it, the view is worth the journey.

INTERMEZZO 1

Manggar TPA uses the sanitary landfill system which is piling the rubbish with soil, making it degradable. A bio membrane is used to line the pile so the leachate does not leak out to surrounding soil.

There are pipes installed on certain points of the bio membrane so the waste water collected can pass through to be neutralized into a safe liquid in a waste water processing site.

This system reduces the unpleasant odour from the rubbish that go through degradation process underground. It also impedes the emission of methane gas into the outside air that causes the odour.

INTERMEZZO 2

Currently, the City officials are in talks with the European Union in regards to rubbish processing in Manggar TPA.

As a tradeoff, extra funding given will be in the form of the latest technology of rubbish processing called the Integrated Treatment Facility (ITF). This technology will simplify the waste management since the rubbish would already be separated accordingly prior to entering the machine that produces semi-finished materials.

INTERMEZZO 3

It averages out to 163,269 tons of waste annually that goes into Manggar TPA. The inorganic makes up 20,303 tons/year, the organic is about 11,808 tons/year and the largest Refuse is 115,266 tons/year.

INTERMEZZO 4

As of 2014, there are 65 Rubbish Banks and 38 Compost Houses in Balikpapan.

The Manggar TPA consists of a team of 65 technical management unit; 10 civil servants, 2 administrative and 51 operational staffs.

Manggar Refuse Processing Area (Manggar TPA)
Proklamasi Road RT 23
Manggar, East Balikpapan

Sumber : Majalah DISCOVER BALIKPAPAN Edisi 58, Oktober 2016

LEAVE A REPLY