Taman Tiga Generasi, Nama Merepresentasikan Fungsi

Taman Tiga Generasi, Nama Merepresentasikan Fungsi

174
0
SHARE

TAK sedikit orang tua yang mengajak anaknya bermain di mall atau taman-taman bermain demi memenuhi hak anak untuk bermain. Sah-sah saja sebenarnya. Tapi beberapa kalangan menganggap bahwa mall atau taman bermain bukanlah konsep ideal bagi kawasan ruang bermain anak.

Salah satunya ialah Seto Mulyadi (Kak Seto), tokoh pemerhati dan pencinta anak. Ia menyebut, selain komersil, mall atau taman bermain juga terkesan diskriminatif karena hanya kalangan berekonomi cukup yang bisa mengaksesnya. “Yang dibutuhkan anak adalah udara segar dan tempat lapang agar anak bisa berlari-lari dan berkejar-kejaran,” ujar Kak Seto. “Itu berguna bagi pertumbuhan fisik anak dan baik pula untuk perkembangan jiwanya. Bebas, lepas dan lebih kreatif!” sambungnya.

Menjawab hal tersebut, Pemerintah Kota Balikpapan pun membangun sebuah taman kota yang di dalamnya terdapat zona khusus anak, yakni Taman Tiga Generasi. Keberadaan zona anak ini adalah upaya pemerintah untuk menjaga kota ini sebagai daerah dengan predikat Kota Layak Anak. Keberadaan fasilitas bermain di taman terbuka juga bagian dari pemenuhan hak-hak anak, yakni, berhak memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan.

Melalui taman ini, pemerintah memberi sinyal, ketika banyak kota di Indonesia masih minim ketersediaan ruang publik yang memiliki taman bermain, di Balikpapan kebutuhan anak-anak terus ditingkatkan sesuai amanat undang-undang Perlindungan Anak Indonesia.

Fasilitas bermain anak di taman yang terbagi menjadi 3 zona ini dipusatkan di zona B. Di sini, juga ada satu sangkar burung berukuran jumbo. Sangkar ini diisi puluhan burung dara beraneka warna. Di dalamnya juga terdapat beberapa rumah-rumahan burung berbahan kayu, sebagai tempat mereka bertelur. Adanya sangkar burung raksasa ini pun menjadi pusat perhatian anak-anak.

Tak hanya ramah anak, Taman Tiga Generasi juga menarik perhatian kalangan dewasa/umum dan lansia. Ya, kaum lansia akan dipuaskan di zona A. Di sini ada sarana terapi batu refleksi. Batu kecil berbentuk bulat lonjong yang ditata berderet rapi dan disusun mengelilingi sebuah kolam air mancur. Lazim ditemukan pemandangan di mana para lansia berjalan memutari kawasan ini bertelanjang kaki, dan sebagian tampak berjalan dituntun anaknya pada sore hari.

Zona A sekaligus menjadi zona utama. Kolam air mancur menjadi magnet keindahan taman seluas 1,5 hektare ini. Sore hari, sejumlah warga berolahraga dan jogging memutari taman. Sebagian duduk bercengkrama di sekitar kolam.

Sedangkan zona C didedikasikan untuk kalangan dewasa atau umum. Zona yang merepresentasikan zona pendidikan ini dilengkapi taman bacaan, beberapa gazebo, ruang publik, ruang singgah dan jogging track.

Ruang publik bernama Ruang Publik Revolusi Mental ini dibangun sejak 4 April lalu, dengan menyerap anggaran dari Pemerintah Pusat lebih dari Rp 440 juta. Fasilitas ini difungsikan sebagai sarana edukasi dan sosialisasi, seperti sosialisasi peraturan perundang-undangan dan pemutaran film.

Pemutaran filmnya pun semuanya berkiblat kepada film-film yang bermuatan positif, yang membangkitkan semangat kebangsaan dan memupuk rasa cinta kepada Indonesia. Film yang diputar memuat informasi kebaikan demi mensukseskan revolusi mental rakyat Indonesia.

Awalnya, fasilitas ini akan dilengkapi sebuah videotron untuk visualisasi. Namun karena pengadaan videotron cukup mahal dan anggaran yang terbatas, sebagai solusinya ditambahkanlah sebuah layar tancap.

Ruang Singgah Colloseum dibangun bersamaan dengan Ruang Publik Revolusi Mental. Ruang Colloseum ini membentuk seperti bulan sabit, dengan diameter 12 meter. Ruang ini dilengkapi sebuah panggung beton berukuran 4×4 meter dan tempat duduk sebanyak 16 buah berbahan kayu ulin yang dibentuk senatural mungkin. Fasilitas ini bisa digunakan oleh siapa saja dan untuk berbagai jenis kegiatan secara gratis.

Jogging track yang ada di zona C dibangun menggunakan 10 ribu paving block. Tujuannya, memberikan kesan keindahan yang bernuansa alami, menambah variasi pola taman, dan ramah lingkungan. Ya, ramah lingkungan karena paving block bisa menyerap air hujan ke tanah.

Dalam peraturannya, sebuah taman adalah ruang terbuka hijau yang sifatnya harus mencerminkan kelestarian alam. Perbandingan pembangunannya harus melebihkan ruang terbuka hijau daripada bangunan beton. Bangunan cor semen di Taman Tiga Generasi hanya 20% saja dari luas keseluruhan taman. [*]

LEAVE A REPLY