Oktober 2017, Balikpapan Deflasi -0,22%

Oktober 2017, Balikpapan Deflasi -0,22%

118
0
SHARE

INFO TERKINI EKONOMI KOTA MINYAK

Oleh: Harry F. Darmawan/GoDiscover

KOREKSI harga beberapa bahan makanan pada kelompok Volatile Foods sebesar -0,24% (mtm) menjadi pemicu Kota Balikpapan mencatat angka deflasi sebesar -0,22% (mtm) pada Oktober kemarin. Angka tersebut lebih rendah dari bulan sebelumnya, yakni 0,20% (mtm).

Selain Volatile Foods, kelompok Core juga memberi andil pada deflasi itu. Didorong oleh kenaikan harga mobil dan sewa rumah, kelompok ini memberi andil sebesar 0,02% (mtm). Sementara kelompok Administered Prices cenderung stabil. Beberapa komoditas yang terpantau mengalami sedikit kenaikan, yakni tarif angkutan laut dan solar.

INFLASI: Andil inflasi Oktober 2017.

Melalui siaran pers resmi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Kepala Perwakilan BI Balikpapan Suharman Tabrani mengungkapkan, secara tahunan inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen) tercatat sebesar 2,64% (yoy). “Diperkirakan sampai akhir tahun, masih dalam koridor sasaran,” sambungnya.

Disagregasi inflasi Balikpapan.

TPID KUATKAN KELEMBAGAAN

Sesuai Keppres No. 23 Tahun 2017, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Balikpapan menguatkan kelembagaan dengan menyesuaikan struktur organisasi, antara lain Sekretaris Daerah (Sekda) yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua dialihkan ke Walikota pada Oktober lalu.

Pada periode yang sama, dua daerah hinterland Kota Balikpapan, Kabupaten Paser dan Kabupaten Penajam Paser Utara menggelar High Level Meeting (HLM) TPID dalam rangka konsolidasi program kerja pengendalian inflasi menjelang akhir tahun 2017. Ini juga sebagai tindak lanjut Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) TPID Juli lalu di Jakarta.

Suharman menerangkan, kesimpulan HLM tersebut mencakup empat poin. Pertama, TPID Kabupaten Paser dan Kabupaten PPU akan segera menyesuaikan struktur organisasi TPID sesuai ketentuan terbaru. Kedua, menyepakati pilar strategi pengendalian inflasi yang di antaranya mencakup penguatan kelembagaan dan inovasi, jaringan distribusi dan konektivitas yang handal, produksi berkualitas, pengendalian ekspektasi, serta ketersediaan pasokan dan pemantauan berkelanjutan.

Ketiga, menjalankan beberapa program pengendalian inflasi dalam mengantisipasi hari besar keagamaan nasional dan akhir tahun. “Dan yang terakhir, meningkatkan pemantauan inflasi melalui ketersediaan data harga komoditas secara lebih rutin dan timely,” ujarnya.

Ke depan, ada beberapa faktor yang diperkirakan akan memberikan tekanan inflasi. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kota Balikpapan masih berpotensi terpapar gelombang air laut yang tinggi. “Ini menyebabkan fluktuasi harga barang dari luar daerah dan pasokan ikan yang berkurang akibat menurunnya aktivitas melaut,” paparnya.

Inflasi Balikpapan vs Nasional.

Selain itu, tren kenaikan harga barang-barang konsumsi menjelang akhir tahun, potensi kenaikan harga BBM non-penugasan dan potensi naiknya tarif angkutan udara seiring dengan meningkatnya aktivitas/event yang dihelat di Kaltim diyakini bisa memicu tekanan inflasi Balikpapan.

“Untuk mengantisipasinya, tetap diperlukan koordinasi yang baik antara Pemerintah Daerah, Bank Indonesia dan instansi terkait guna mengambil langkah antisipatif menghadapi kenaikan harga tersebut,” tutup Suharman. [*]

LEAVE A REPLY