“Pesta Demokrasi”, Siapa yang Sebenarnya “Berpesta”?

“Pesta Demokrasi”, Siapa yang Sebenarnya “Berpesta”?

96
0
SHARE

Oleh: Harry F. Darmawan/GoDiscover

MENJELANG Pilpres atau Pilkada, acapkali kita mendengar istilah “pesta demokrasi”. Entah siapa yang pertama kali melabelinya, tapi saya sendiri merasa saya tak sedang ”berpesta”. Padahal saya juga salah satu dari jutaan pemilih lainnya. Lalu, siapa dong yang berpesta?

Seperti diketahui, saat ini beberapa partai politik tengah gencar mempersiapkan kader yang diusung untuk menghadapi Pilkada, tak terkecuali Pilkada Kaltim. Tak hanya itu, strategi, taktik dan aspek teknis soal pemenangan Pilkada pun saat ini tengah dipersiapkan.

Masih segar di ingatan, perang taktik antar Partai Politik maupun organisasi pendukung salah satu calon dengan calon lainnya berani menghalalkan segala cara untuk menang. Contohnya, pada Pilpres 2014 lalu yang dihiasi persaingan ketat antara Jokowi dan Prabowo. Saat itu taktik tak hanya mengangkat sisi positif dan prestasi sang calon, tapi juga mengungkit sisi negatif sang lawan. Tidak cukup, isu SARA dan berita hoax mewarnai peperangan opini di Republik ini.

Isu SARA dan hoax saat persaingan pemilihan pemimpin dilanjutkan oleh Pilgub DKI Jakarta beberapa bulan lalu, dengan intensitas dan sensitivitas yang jauh lebih besar — banyak yang bilang Pilgub rasa Pilpres. Warga yang termakan berita hoax itu seringkali naik pitam. Demonstrasi di berbagai daerah, konflik bahkan kontak fisik – yang tak terekspose media – menghiasi keseharian warga. Melihat kejadian itu, oknum yang memfabrikasi berita hoax ini saya nilai “berhasil”. Ya, mereka berhasil mengadu domba sesama anak bangsa, bahkan sampai saat ini.

Berita hoax ini juga berhasil merepotkan berbagai instansi negara, khususnya Polri yang memegang mandat untuk menjaga ketertiban umum. Polri pun aktif menyuarakan perlawanan terhadap berita hoax, tak terkecuali Polda Kaltim. Berbagai program digelar, sosialisasi sana-sini, memantau penuh dunia maya yang menjadi media paling efektif menyebarkan hoax, dan lain sebagainya rutin digelar jajaran Polda Kaltim.

Bahkan, hoax ini berhasil “memaksa” Kapolda Kaltim Irjen Pol Drs. Safaruddin “turun gunung”. Dalam kunjungan kerja ke wilayah hukum Polda Kaltim, Kapolda aktif menyuarakan anti-hoax pada warga Kaltim lewat khotbah di Safari Jumat, Safari Ramadhan dan kegiatan lainnya.

Kinerja baik Polri ini terbukti saat berhasil mengungkap jaringan penyebar berita hoax Saracen beberapa waktu lalu. Polda Kaltim pun tak ketinggalan berhasil memproses hukum beberapa oknum yang terbukti menyebarkan hate speech dan hoax di akun mereka.

Tapi perlu kita sama-sama tahu, dengan tertangkapnya oknum-oknum itu, tak lantas penyebaran hoax, hate speech ataupun isu SARA lainnya hilang dari sosial media. Gerakan masif mereka masih mampu menyedot atensi netizen.

Pertanyaannya: para oknum penyebar hoax itu kah yang dimaksud “berpesta” pada kata “pesta demokrasi”? Atau Partai Politik yang berhasil memenangkan kadernya yang “berpesta” — karena rakyat seperti saya dan banyak pemilih lainnya tidak begitu merasakan euforianya sebuah pesta. Seringkali yang terjadi justru bertikai antar sesama. Kali ini, sungguh saya berharap apa yang saya rasakan tidak sepenuhnya benar. Karena jika benar, rasanya sia-sialah pesta yang berujung pada pertikaian dan pertengkaran semata. [*]

LEAVE A REPLY