Misophonia, Kala Otak Bikin Anda Risih Saat Dengar Bunyi Mengecap

Misophonia, Kala Otak Bikin Anda Risih Saat Dengar Bunyi Mengecap

934
0
SHARE

Apakah Anda termasuk orang yang mendadak marah jika mendengar bunyi mengecap makanan? Di sebagian kalangan masyarakat, mengecap memang dianggap tidak sopan. Namun, bisa jadi Anda membenci bunyi tersebut karena mengidap gangguan misophonia.

Orang dengan misophonia merasa risih mendengar hembusan napasan, decit pintu, ketukan pada tombol komputer, dan bunyi yang dikeluarkan saat mengatupkan bibir atas dan bawah.

Untuk mengetahui penyebab gangguan tersebut, para peneliti dari Universitas Newcastle di Inggris merekrut 20 orang dengan misophonia. Para partisipan dipastikan memang tidak menyukai bunyi berulang seperti decakan lidah.

Peneliti kemudian turut mengikutsertakan 22 partisipan yang normal yang tidak membenci suara berulang.

Kedua kelompok kemudian dihadapkan dengan bunyi-bunyi tertentu, seperti tangisan bayi, helaan napas, dan suara ketel mendidih. Respons dua kelompok ini lantas dibandingkan ketika diperdengarkan suara yang repetitif.

Hasilnya, golongan misophonia menunjukkan denyut jantung yang lebih kencang dan konduktivitas kulit yang meningkat drastis.

Respons emosional ini terjadi akibat perubahan aktivitas pada lobus frontal otak dan anterior insular cortex (AIC) yang melonjak.

Perlu Anda ketahui, AIC yang berada di antara lobus frontal dan lobus parietalis, bagian dari lobus temporal otak, berfungsi untuk menyelaraskan sinyal dari dunia luar dengan informasi dari dalam tubuh.

Pada mereka yang tidak menderita misophonia, bunyi repetitif juga menimbulkan reaksi pada AIC. Namun, tidak adanya peningkatan aktivitas pada lobus frontal kelompok non-misophonia menunjukkan adanya perbedaan kontrol di antara kedua kelompok.

Pada penderita misophonia, aktivitas di bagian otak lain seperti ventromedial prefrontal cortex (vmPFC), hippocampus, dan amygadala juga ikut meningkat.

Para peneliti juga mendapati bahwa insulin myelin dalam struktur vmPFC, yang berfungsi untuk menyampaikan pesan antar saraf, milik penderita misophonia lebih tebal.

Semua tanda-tanda ini menunjukkan bahwa penderita misophonia memiliki otak yang kesulitan mengontrol penyebaran pesan ketika dihadapkan dengan bunyi-bunyi tertentu.

“Temuan ini, bagi pasien misophonia, adalah kabar baik. Sebab, untuk pertama kalinya, kami berhasil menampilkan perbedaan struktur dan fungsi otak para penderita,” ujar ketua peneliti, Sukhbinder Kumar, dilansir dari Science Alert, Rabu (28/3).

Lantas, kita tidak boleh meremehkan kondisi pasien misophonia. Pasalnya, otak mereka bekerja lebih keras supaya tidak emosi ketika menangkap bunyi-bunyi aneh. Apa yang perlu dilakukan adalah menghargai mereka dengan cara tidak mengeluarkan bunyi saat mengunyah makanan.

Source: Kompas Sains

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.