Luar Biasa! Anak Muda Indonesia dapat Penghargaan dari YouTube

Luar Biasa! Anak Muda Indonesia dapat Penghargaan dari YouTube

122
0
SHARE

Dua orang anak muda dari Indonesia akan mendapat penghargaan dari YouTube di acara YouTube Creator Summit Asia Pacific di Seoul, Korea Selatan.

Kedua anak muda ini bernama Ketut Yoga Yudistira dan Gerald Sebastian. Mereka adalah para pendiri channel di YouTube yang menggunakan nama ‘Kok Bisa’.

Kok Bisa adalah sebuah channel yang bergerak di bidang edukasi, yang membawakan konten sains dengan cara menghibur. Mereka adalah perwakilan Indonesia dalam bidang edukasi dalam acara tersebut.

Prestasi Kok Bisa semakin mentereng. Karena selain akan mendapatkan penghargaan Gold Play Button dari YouTube, channel Kok Bisa pun kini sudah tembus di angka satu juta subscribers. Luar biasa!

Tentu saja ini kabar yang menggembirakan. Pasalnya, di tengah begitu banyaknya konten negatif menghantui internet di Indonesia, ada kabar harum dari anak muda Indonesia yang sedang beraksi di kancah dunia.

Melalui pencapaiannya dalam meraih satu juta subscribers tersebut, Kok Bisa berhasil membuktikan bahwa konten mendidik pun juga bisa populer bagi anak muda di Indonesia.

Hal inilah yang dibagikan oleh Gerald dan Ketut kepada audiens yang datang dari 15 negara dari berbagai penjuru Asia, dalam acara tersebut. Melalui pencapaian ini, Kok Bisa juga dinobatkan sebagai channel YouTube edukasi pertama yang mampu meraih satu juta subscribers.

“Kami ingin membuktikan bahwa anak muda Indonesia juga bisa bikin konten pendidikan sekelas luar negeri, yang bisa dihargai oleh audiens mancanegara,” ujar Gerald, Minggu (26/8).

Melalui platform populer bagi anak muda Indonesia (16-25 tahun), channel YouTube Kok Bisa sudah menerbitkan lebih dari 160 video edukasi dan sudah ditonton total lebih dari 95 juta views dari berbagai penjuru Indonesia.

Berkat hal tersebut, mereka beberapa kali diundang mewakili Indonesia di acara tingkat internasional yang diselenggarakan YouTube. Sebelum ke Seoul, mereka pernah diundang di San Francisco, Amerika Serikat, dan Melbourne, Australia.

Dari Keresahan, Timbul Pencerahan

Berawal dari keresahan terhadap banyaknya konten-konten negatif yang bertebaran di Indonesia, Gerald dan Ketut memulai Kok Bisa pada Juni 2015. Saat itu, selagi kuliah dan menyusun skripsi, mereka rela begadang demi menerbitkan video baru tiap minggunya.

Awalnya, banyak penonton meragukan hal-hal seperti ini bisa laku atau booming di Indonesia. Tapi dengan pembelajaran yang mereka lalui dalam membangun Kok Bisa, mereka percaya kuncinya ada pada cara mengemasnya, hingga akhirnya konten edukasi mereka ramai dinikmati banyak orang seperti hari ini.

Salah satu hal yang selalu mereka terapkan juga di dalam video-video Kok Bisa adalah interaksi dengan audiens. Pertanyaan-pertanyaan seputar, apa topik menarik berikutnya atau bagaimana pendapat audiens mengenai pembahasan di dalam video sebelumnya adalah sebuah keharusan yang menjadikan Kok Bisa terus berkembang.

“Kami nggak mau berhenti di sini. Kami kepengin konten pendidikan asli buatan anak muda Indonesia ini juga bisa dinikmati sampai ke audiens mancanegara juga”, ujar Ketut.

Ke depannya, mereka berencana untuk go international dengan cara membuat konten-konten dalam Bahasa Inggris. Mereka juga menyiapkan kolaborasi-kolaborasi dengan para kreator YouTube lain di luar Indonesia yang bisa mendongkrak audiens mereka di luar negeri.

Source: Detik Inet

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.