100 Tahun Lagi Alam Bisa Berubah Wujud

100 Tahun Lagi Alam Bisa Berubah Wujud

120
0
SHARE

Dunia bisa mengalami perubahan bentuk atau wujud akibat pergantian iklim yang terus menerus tidak menentu.

Jika dunia gagal mengendalikan emisi gas rumah kaca, hampir setiap ekosistem darat di bumi, dari hutan ke padang rumput hingga rawa-rawa akan mengalami “transformasi besar”.

Kondisi tersebut akan sepenuhnya mengubah bioma dunia, seperti yang diperingatkan tim berisi 42 ilmuwan dari seluruh dunia.

Dipublikasikan dalam jurnal Science, perubahan ini akan mengancam keanekaragaman hayati global dan memutus pasokkan penting yang disediakan alam untuk umat manusia, seperti air bersih, penyimpanan karbon, dan rekreasi.

“Jika kita membiarkan perubahan iklim tidak terkendali, vegetasi planet ini akan terlihat benar-benar berbeda dari yang ada saat ini, dan hal itu berarti risiko besar bagi keragaman planet Bumi,” kata Jonathan Overpeck, dekan School for Environment and Sustainability di University of Michigan sekaligus penulis studi, dalam sebuah pernyataan.

“Kami berbicara tentang perubahan lanskap global yang ada di mana-mana dan dramatis. Kami sudah mulai melihatnya di Amerika Serikat, juga di seluruh dunia,” imbuhnya.

Para peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan geologi Connor Nolan dari University of Arizona, meneliti bukti fosil dari hampir 600 lokasi di seluruh dunia tentang bagaimana ekosistem berubah pada akhir deglaciation (pencairan es) terakhir — periode yang dimulai sekitar 21.000 tahun yang lalu.

Kemudian, mereka melihat pemanasan empat sampai tujuh derajat Celsius — sebanding dengan prediksi empat hingga lima derajat Celsius yang ilmuwan buat untuk periode selama satu atau dua abad ke depan.

Perubahan yang terlihat selama deglaciation terakhir memberikan, “perkiraan konservatif tentang sejauh mana transformasi ekologi yang akan dilakukan planet ini di bawah skenario iklim masa depan,” tulis para penulis.

Para peneliti menggambarkan karya mereka sebagai penelitian paling komprehensif hingga saat ini, berdasarkan pada serbuk sari dan catatan fosil tumbuhan dari 594 situs di seluruh dunia yang berasal dari 21.000 dan 14.000 tahun yang lalu. Setiap benua kecuali Antartika dilibatkan.

Perubahan dalam dunia tumbuhan paling signifikan terlihat di pertengahan hingga garis lintang atas di Belahan Bumi Utara, begitu juga di Amerika Selatan bagian selatan, Afrika Selatan yang beriklim tropis dan beriklim sedang, kawasan Indo-Pasifik, Australia, Selandia Baru, dan negara-negara lain di Oceania.

Dalam 100-150 tahun ke depan, perubahan ini kemungkinan akan meluas ke sabana, gurun, dan hutan, merusak ekosistem dan membahayakan kehidupan tanaman dan hewan.

Jika emisi terus meningkat, para ilmuwan menyimpulkan, kemungkinan terjadi perubahan vegetatif skala besar, lebih tinggi dari 60 persen.

Namun, apabila negara-negara berhasil memenuhi komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca Perjanjian Paris, kemungkinan transformasi ekologi skala besar kurang dari 45 persen.

“Kita sedang berbicara tentang jumlah perubahan yang sama dalam 10 hingga 20 ribu tahun yang akan dijejalkan menjadi satu atau dua abad,” kata Stephen T. Jackson, direktur Geological Survey’s Southwest Climate Adaptation Center dan rekan penulis studi, dalam sebuah pernyataan.

Ada 195 negara di dunia yang sepakat untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata global ke bawah dua derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

Nantinya, apabila tercapai, hasil dari perjanjian ini secara signifikan dapat mengurangi dampak perubahan iklim.

Namun, dari studi yang berbeda, kesimpulan yang lebih buruk mungkin terjadi jika Perjanjian Paris gagal dipenuhi.

Jika Bumi melewati titik kritis, memenuhi target Perjanjian Paris pada tahun 2100 akan menjadi tidak mungkin. Titik kritis tersebut dikatakan berlangsung hanya 15 tahun lagi.

Jadi, bila Bumi terus menghangat dengan laju yang cepat dan pemimpin-pemimpin negara tidak bertindak tegas untuk menghentikan tren ini, umat manusia akan melewati titik kritis pada tahun 2035.

Suhu permukaan rata-rata Bumi telah meningkat sebesar satu derajat Celsius selama masa pra-industri, dengan tingkat 0,17 Celsius per dekade.

Pemanasan dua Celsius dapat mengubah ekosistem di darat dan di laut sehingga memicu pencairan gletser dan permukaan laut yang lebih cepat.

“Dalam penelitian, kami menunjukkan bahwa ada tenggat waktu yang sempit untuk mengambil tindakan atas iklim,” kata salah satu penulis studi Henk Dijkstra dari Utrecht University di Belanda.

“Kami menyimpulkan bahwa sangat sedikit waktu yang tersisa sebelum target Paris (untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 Celsius atau 2 Celsius) menjadi tidak layak bahkan jika memberlakukan strategi pengurangan emisi yang drastis,” urainya.

Tim ilmuwan mengatakan bahwa kita hanya memiliki batas waktu hingga 2027 untuk memulai strategi peningkatan penggunaan sumber daya yang dapat diperbarui pada rerata lima persen per tahun.

Source: Beritagar

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.