Data Satelit Sempurnakan Peta Lempeng Tektonik Bumi, Ini Hasilnya

Data Satelit Sempurnakan Peta Lempeng Tektonik Bumi, Ini Hasilnya

86
0
SHARE

Para ilmuwan dari Kiel University, Jerman, dan British Antarctic Survey (BAS) baru saja menggambarkan struktur tektonik Bumi. Hasil ini mengungkapkan hubungan antara Antartika dengan seluruh benua di muka Bumi.

Untuk mendapat hasi tersebut, mereka menggunakan data yang dikumpulkan oleh Gravity Field and Steady-State Ocean Circulation Explorer (GOCE) milik Badan Antariksa Eropa (ESA).

Dengan data tersebut, para ilmuwan mulai mengidentifikasi struktur litosfer yang menentukan pergerakan dan evolusi benua di Bumi.

Analisis dari data tersebut menawarkan gambaran tentang teknonik Bumi yang berbeda dengan survei seismik.

Apalagi, hingga kini gambar detail mengenai struktur tektonik Antartika sangat sulit didapatkan. GOCE mengukur adanya perbedaan komponen horizontal dan vertikal bidang gravitasi yang disebut gradien.

Gradien ini bisa menjadi sangat kompleks untuk diinterpretasikan. Untuk itu, para ilmuwan melakukan analisis dengan menggabungkannya dengan “gambar kelengkungan” yang lebih sederhana.

Dengan cara ini, mereka bisa menjelaskan fitur tektonik berskala besar di litosfer.

Gambar kelengkungan tersebut kemudian dirilis bersama laporan ilmiah dalam jurnal Scientific Reports.

“Citra gradien gravitasi satelit kami yang baru meningkatkan pengetahuan kita tentang struktur bumi yang dalam,” ungkap Jorg Ebbing, profesor dari Keil University dikutip dari UPI, Senin (5/11/2018).

“Data gravitasi satelit dapat dikombinasikan dengan data seismologi untuk menghasilkan gambar yang lebih konsisten dari kerak dan mantel atas (Bumi) dalam bentuk 3D. Ini sangat penting untuk memahami bagaimana lempeng tektonik dan dinamika lapisan dalam (Bumi) berinteraksi,” imbuhnya.

Struktur tersebut nantinya akan membantu menjelaskan hubungan antara benda-benda tertutup es, seperti Antartika dan benua lainnya.

” Satelit gravitasi telah merevolusi kemampuan kita mempelajari litosfer dari seluruh Bumi, termasuk benua yang paling tidak dipahami, Antartika,” ungkap Dr Fausto Ferraccioli, co-author penelitian ini dari BAS.

“Di Antartika Timur, misalnya, kita mulai melihat mozaik yang lebih kompleks dari wilayah litosfer kuno. GOCE menunjukkan kesamaan mendasar, tapi juga perbedaan tak terduga antara litosfer Antartika dengan benua lain, yang 160 juta tahun lalu menyatu,” imbuhnya dilansir dari Phys.org, Senin (5/11/2018).

Source : Sains Kompas

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.