Aman Bersocial Media Cara Sun Tzu

Aman Bersocial Media Cara Sun Tzu

49
0
SHARE

Oleh: Radenarisda | Pemerhati Social Media

 

MASA pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita banyak stay di rumah sebagai konsekuensi keharusan menjaga jarak, membawa impact peningkatan aktivitas online dan social media. Dengan begitu,  intensitas sosialisasi dan komunikasi juga banyak diarahkan via daring, tak terkecuali kepolisian Polda Kaltim.

Hal-hal dalam tulisan menjadi perspektif agar kita tersadar tentang luasnya belantara social media untuk selanjutnya jika sudah menyadari, bisa membuat kita makin aware pada positioning kita dan selanjutnya semoga membawa kita senantiasa waspada dalam aktivitas online maupun sosial media.

  1. Jika internet itu diibaratkan bumi, maka social media itu lautannya. Sisanya (yang bukan social media) adalah daratannya. Begitu luasnya lautan sehingga melingkupi 70 persen luas bumi.

  2. Jika ada 4,5 miliar pengguna internet di dunia, dan 3,8 miliarnya adalah pengguna sosial media, maka social media lebih luas dari perbandingan lautan di bumi.

  1. Jika ingin mengarungi lautan di bumi, potensi bahayanya seperti: cuaca ekstrem, ombak besar, kapal karam, gunung es, ikan ganas, atau bajak laut/ perompak, dll. Kita perlu kemampuan mumpuni menakhodai kapal untuk bisa aman melewati ancaman yang ada.

  1. Jika perspektif lautan dibawa ke ranah social media, maka potensi bahayanya seperti: waktu produktif yang dikorbankan, dampak penyebaran konten negatif pada moral dan pikiran, adiktif/berlebihan pada eksistensi diri, berkurangnya empati atau kemampuan sosial di dunia nyata, dan yang paling umum kita temukan: kejahatan seperti penipuan dan hoax.

Penting memahami baik-buruk social media secara luas, sebelum mengerucutkan ke yang lebih spesifik. Jika definisi aman adalah sebuah kemenangan — dan pertempurannya adalah social media; maka perlu kita kenali dulu medan tempurnya. Mungkin kita bisa melengkapi pemahaman dengan strategi Sun Tzu “mengenali musuhmu” (potensi baik-buruk/ bahayanya), “mengenali dirimu” (sadar akan kemampuan/ batasannya).

Tentu susah mengidentifikasi langkah aman (baca: kemenangan) — jika kita tidak punya cukup pengetahuan teritori medan. Memahami bahaya social media dari maraknya kejahatan online/hoax, jelas penting dan tidak salah sama sekali. Tapi mungkin sama seperti hanya memahami bahaya bajak laut dan perompak saja di ganasnya samudera. Padahal kita bisa dihajar ombak dan karam tiba-tiba.

MELAWAN TEMPLATE DENGAN TEMPLATE

Jika mengerucut pada kasus kriminal online, mungkin kita menjadikan data ini sebagai study kasus. Ada total 2.300 laporan social engineering yang masuk ke Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya pada 2019. Dibanding subdit lainnya, angka ini jauh lebih tinggi karena setiap direktorat rata-rata hanya 100 laporan setiap tahunnya.

Data ini menjadi sample bukan hanya menunjukkan betapa ekstremnya modus rekayasa sosial (social engineering) dalam berbagai bentuk penipuan online, tapi juga harus dilihat betapa mudahnya pertahanan masyarakat dijebol. Minim pengetahuan? Kurang edukasi?  Mungkin ada benarnya. Tapi pemahaman akan pola dan sikap pelaku kriminal di ranah online/ social media mungkin juga perlu kita ketahui.

Jika kita amati, para pelaku kriminal online rata-rata punya template dan prosedur yang kurang lebih sama.

AMATILAH:

  • Cara promosinya seolah memberikan reward/ hadiah/ harga yang murah.
  • Jika ditelpon, bicaranya seperti dibuat-buat agar tampak seperti customer service profesional.
  • Seringkali logatnya/ arah instruksi/ permintaannya juga sama.

Jika kita bisa memahami pola dan template itu, mungkin kita akan lebih waspada. Kita juga bisa membuat template jawaban versi kita sendiri.

PENGALAMAN SAYA BEGINI:

  • Niatkan dulu bahwa kita memang tidak akan beli, tidak akan mengirim uang dan tidak akan mengikuti kemauan penipu. (Kadang saya melakukannya saat tidak punya uang, jadi tidak mungkin beli atau transfer)
  • Jangan dengarkan semuanya. Jawab sekenanya. (Aktifkan loudspeaker HP sambil kita tetap melakukan aktivitas lainnya)
  • Ulangi pertanyaan seolah kita tidak paham instruksinya, sampai si penelepon kesal.
  • Jika cukup waktu, beraktinglah seolah kita mau mengikuti kemauannya. (Seolah mau transfer uang atau kode) Tapi ingat: jangan sampai dilakukan.
  • Penipu biasanya menelepon terus, tetaplah pura-pura sibuk atau beri alasan lain.
  • Jika pada akhirnya keluar kata-kata caci maki, jangan marah. Karena itu tandanya kita menang.

 

Sekilas perspektif dan sharing di atas berdasar pengalaman otentik yang saya alami dan mungkin bisa dicoba. Namun tetap saja, untuk menangkal bahaya agar aman di social media semuanya kembali ke diri kita. (*)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.