Tidak Semua Buruk, Tidak Semua Baik

Tidak Semua Buruk, Tidak Semua Baik

116
0
SHARE

Oleh: radenarisda

TIDAK semua polisi itu baik. Ungkapan semacam itu kurang lebih sama dengan, misalnya, tidak semua guru itu pintar. Atau, tidak semua dokter itu bisa mengobati. Atau misalnya ada orang menyukai ayam goreng, lalu dia mengatakan “tidak semua ayam goreng itu enak” Indikator kebaikan, kepintaran dan kemampuan seseorang bisa relatif. Juga soal rasa enak dan tidak enaknya makanan.

Satu ayam goreng yang tidak enak bisa menorehkan trauma rasa bagi penggemarnya. Dokter atau guru yang salah, bisa mencoreng nama baik profesinya atau menciderai korps sejawatnya. Sama halnya, jika jumlah anggota Polri sebanyak lebih dari 470 ribu personel di seluruh wilayah Indonesia, dan ada satu dua atau saja yang tidak baik, maka kalimat “tidak semua polisi baik” di atas tadi sudahlah sah secara makna. Kan yang penting tidak semua?

***

Masifnya perkembangan sosial media bisa dengan cepat menggiring opini dari awalnya A berbalik menjadi Z. Ambil contoh misalnya demonstrasi yang melibatkan kepolisian dalam pengamanannya. Saya, dan mungkin banyak di antara pembaca ketika ramai-ramainya demontrasi terjadi, paling tidak menemukan satu informasi yang secara sepihak menyudutkan polisi secara umum. Di saat ramai demonstrasi UU Cipta Kerja belum lama ini, saya menerima video di salah salah grup whatsapp yang menggambarkan oknum polisi memukuli orang. Tidak lama saya menemukan lagi video yang sama di social media Instagram. Entah apa alasannya. Entah siapa yang memukul dan dipukul. Entah di mana. Tak ada penjelasan itu semua ketika video tersebut dikirim, tapi tulisan yang menyertai adalah justifikasi yang menyudutkan. Saya lupa persisnya, tapi narasinya bernada negatif dan kebencian semacam “Polisi antek PKI”, “Polisi bejat” atau “polisi tidak humanis”, dsb.

Memang benar dalam video itu tergambar oknum berseragam polisi yang memukuli warga. Polisi yang memukuli itu tentu punya alasan, tapi katakanlah dia salah atau tidak baik dalam pandangan kita, namun jelas tidaklah bijak jika kemudian kita katakan bahwa semua polisi sama tidak baiknya. Saya sendiri tidak setuju dengan aparat yang menggunakan kewenangannya dengan sewenang wenang. Namun itu satu hal. Sementara menjeneralisir satu kejadian seolah semuanya sama, apalagi menyebarkan sudut pandang bernada kebencian secara terbuka, adalah hal lain. Pandangan ini bersifat universal, bahkan bisa terjadi pada profesi apapun seperti guru, dokter, sampai wakil rakyat di DPR. Jika dibalik, begitu seringnya  rakyat dikecewakan oleh kasus-kasus oknum anggota dewan sehingga begitu buruknya citra DPR di mata rakyat, tetaplah, saya juga masih meyakini bahwa tidak semua anggota DPR itu buruk. Minimal ada satu-dua yang baik, he-he.

***

Terkait aksi demonstrasi UU Cipta Kerja di Balikpapan, saya kebetulan melihat sendiri aksi sekumpulan mahasiswa yang berunjuk rasa dan ratusan personel kepolisian Polda Kaltim yang diterjunkan untuk berjaga-jaga. Jauh sebelum agenda demonstrasi dimulai, polisi-polisi sudah siaga sejak pagi. Di warung sebelah Kantor DPRD Balikpapan, banyak dari polisi itu bahkan menyempatkan ngopi, Saya berusaha mengamati semua dalam sudut pandang mereka sebagai manusia. Semua punya kepentingan, tapi yang paling mendasar adalah kepentingan mereka sebagai manusia sebenarnya sama, ya butuh didengarkan aspirasinya, butuh makan, butuh ngopi, atau yang lebih luas lagi butuh menjalankan tugas untuk menafkahi anak istri.  Sebagian polisi itu juga ada yang sudah tua.

***

Saya jadi ingat tentang rasio perbandingan jumlah polisi yang tidak pernah seimbang karena jumlah yang pensiun tidak jauh berbeda dengan bertambahnya personel baru. Padahal jumlah penduduk Indonesia terus bertambah. Pakar Sosiolog Kriminalitas UGM Suprapto pernah merilis rasio polisi dan masyarakat di Indonesia masih tinggi, yakni 1:2000. Padahal rasio di negara lain sekitar 1:600. Dengan rasio yang tidak seimbang, maka jelas menyulitkan polisi untuk melakukan pengamanan secara optimal. Idealnya,  jumlah polisi disbanding masyarakat adalah 1:350. Namun perbandingannya saat ini sekira 1:750 dengan jumlah yang tidak merata di setiap daerah. Ini tentu bukan sebuah pembenaran bagi polisi jika lalai melakukan tugasnya. Tapi semoga bisa memunculkan sebuah pandangan bahwa keamanan dan ketertiban yang kita inginkan haruslah kita upayakan bersama. Dalam kaitan itu, membantu polisi tidak perlu harus menggantikan tugasnya. Sederhana yang bisa kita lakukan semacam ikut menjaga kondusivitas di lingkungan terdekat kita. Itu saja jika dilakukan konsisten, kita sudah berpartisipasi menjaga keamanan dan ketertiban NKRI. (***)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.