Home Technology and Tips MENERAPKAN 3 M DI RANAH SOCIAL MEDIA

MENERAPKAN 3 M DI RANAH SOCIAL MEDIA

194
0

Oleh: Radenarisda

PERLUKAH menerapkan pendisiplinan diri pada social media untuk kesehatan dan keamanan diri kita? Secara singkat kita akan menjawab perlu. Tapi mengapa itu perlu dan bagaimana caranya?

Mengutip halodoc.dom, Riset National Institute of Mental Health merilis bahwa penggunaan media sosial dapat meningkatkan risiko gangguan mental pada remaja usia 18–25 tahun. Penelitian jurnal JAMA Psychiatry menemukan bahwa remaja yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari, berisiko tinggi terhadap masalah kesehatan mental. Dan berdasarkan laporan GlobalWebIndex pada 2018 lalu, remaja berusia 16–24 tahun memang menghabiskan rata-rata tiga jam dalam penggunaan sosial media setiap harinya.

Uraian singkat di atas setidaknya menjawab sebagian alasan mengapa mendisiplinkan diri dalam bersocial media menjadi perlu. Riset itu memang menyasar usia remaja, tapi pendisiplinan diri sesungguhnya aplikatif pada semua usia pengguna social media karena potensi dampak negatifnya sama. “Filter” penerimaannya saja yang mungkin berbeda, dan itu relatif berkaitan dengan kebijakan penggunanya (baca kedewasaan berfikir dan mencerna).

***
Kita mengingat istilah 3 M sejak lama. Jauh sebelum virus corona, kita mengenal istilah 3 M pada kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Kita mengerti arti 3 M untuk DBD berfungsi semacam reminder atau pencegahan. Yakni; 1. MENGURAS tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, dan lain-lain. 2. MENUTUP tempat-tempat penampungan air seperti drum. 3. MENGUBUR atau memanfaatkan kembali barang bekas yang memiliki potensi perkembangbiakan nyamuk Demam Berdarah.

Lalu datanglah masa Pandemi Corona. Penerapan 3M kemudian digaungkan demi keselamatan bersama. Kampanye yang dilakukan berdasar penelitian internasional ini dilakukan untuk menekan penyebaran virus COVID-19. Maka dijalankan sosialisasi yang massif agar menjadi pembiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Sama persis kata dan hurufnya dengan DBD, 3 M. Namun berbeda jauh arti dan penerapannya. Perilaku 3 M di masa pandemi ini adalah 1. MEMAKAI MASKER. 2. MENCUCI TANGAN dan 3. MENJAGA JARAK (Menghindari Kerumunan).

***

Tulisan ini bernuansa “cucoklogi” jika dibaca secara linier. Yakni, sebuah ide pendisiplinan diri untuk menerapkan 3 M, pada social media. Bagi saya, penerapan 3 M sebagai simbol perilaku pendisiplinan diri memungkinkan terus berkembang sesuai konteksnya.

Saya ambil contoh peristiwa terupdate yang paling menyita perhatian publik di berbagai saluran berita dan social media pada akhir November hingga minggu pertama Desember 2020 ini. Tertangkapnya dua menteri karena korupsi, tindakan tegas kepolisian menembak pihak FPI yang disebut melawan aparat, dan pilkada serentak. Tulisan ini tidak untuk menyinggung siapa yang benar dan salah karena masing-masing kita punya opini dan mungkin punya jagoannya. Saya hanya menyampaikan betapa dari satu dua kasus yang terjadi saja, dampak keributan di sosial media begitu dashyatnya, hingga masuk ke ranah pembicaran pribadi di keluarga. Saya bukan hanya mengamati, tapi juga mengalami. Semakin dalam kita terlibat, berpotensi semakin terganggu mental dan pikiran kita.

Lalu terpikirlah istilah 3 M dalam protokol kesehatan Covid-19. Demi kesehatan mental kita, kenapa tidak kita coba hal itu di social media dengan mengubah sedikit ilustrasi penerapannya?
MENJAGA JARAK, bisa kita artikan sebagai detoksifikasi social media. Detoks media sosial adalah upaya secara sadar untuk membatasi penggunaan media sosial selama waktu tertentu. Para ahli pun menyarankan hal ini, khususnya bagi mereka yang merasakan dampak negatif, untuk membatasi waktu penggunaannya.
MENCUCI TANGAN, bisa kita artikan “membersihkan” tangan dan jari-jari kita dari ketikan yang kontraproduktif atau sebaran yang berpotensi memicu konflik.
MEMAKAI MASKER, bisa kita artikan dengan menjaga dan menutup mulut dari omongan yang tidak perlu diumbar di social media, cacian, hasutan, hate speech, khususnya bagi yang biasa memproduksi konten dengan narasi bicara sebagai bahannya.

***
Apakah hal itu bisa efektif? Ya tergantung. Penerapan 3 M pada Protokol Covid-19 juga tidak bisa menghilangkan Pandemi secara langsung. Tapi berdasar penelitian internasional, tentu sebagian dari kita pernah membaca, MEMAKAI MASKER dapat menurunkan risiko penularan Covid-19 sebesar 45%, MENCUCI TANGAN bisa menurunkan risiko penularan Covid-19 sebesar 35% dan MENJAGA JARAK (Physical Distancing) secara universal terbukti efektif menekan penyebaran Covid-19.
Penelitian 3M di social media tentu belum ada. Tapi secara individu, saya sudah berusaha mempraktekkannya. Jika menurut Anda bermanfaat, kenapa tidak ikut mencoba? (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.