News

BI Fokus Pemulihan Ekonomi Domestik

PERTUMBUHAN EKONOMI 2016 NAIK 4,8 PERSEN

KONSISTEN dengan upaya mengoptimalkan pemulihan ekonomi domestik dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 14-15 Desember kemarin memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) tetap sebesar 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00% dan Lending Facility tetap sebesar 5,50%. Keputusan itu berlaku efektif sejak hari ini, Jumat (16/12). Bank Indonesia memandang, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah dilakukan sebelumnya dapat terus mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Di tengah kondisi perekonomian global yang diwarnai dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata dan pasar keuangan yang diliputi ketidakpastian, justru perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang membaik, ditopang oleh permintaan domestik yang tetap terjaga.

Pertumbuhan ekonomi 2016 diperkirakan mencapai 5,0% (yoy), meningkat dari 4,8% pada tahun 2015. “Pertumbuhan ini didukung oleh konsumsi dan investasi, khususnya bangunan, yang tercatat cukup kuat,” sebut Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara.

Sementara itu, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2016 diperkirakan membaik dengan surplus yang relatif besar dan defisit transaksi berjalan yang berada di bawah 2% dari PDB. “Besarnya surplus NPI terutama ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang meningkat cukup besar dibandingkan tahun 2015,” sambung Tirta.

Posisi cadangan devisa Indonesia akhir November 2016 tercatat sebesar 111,5 miliar dolar AS, atau meningkat dari 105,9 miliar dolar AS pada akhir 2015. Meskipun lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Oktober 2016 yang sebesar 115,0 miliar dolar AS, posisi cadangan devisa per akhir November 2016 tersebut tetap cukup untuk membiayai 8,5 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

NILAI TUKAR RUPIAH STABIL

Penguatan rupiah berlangsung hingga Oktober dan tertahan di bulan November 2016 pasca Pemilu AS. Secara point to point, rupiah menguat 1,70% (ytd) pada level Rp13.550 per dolar AS pada akhir November 2016.

“Ini didukung oleh sentimen positif terhadap perekonomian domestik, seiring dengan kondisi stabilitas makroekonomi yang terjaga dan implementasi UU Pengampunan Pajak yang berjalan dengan baik,” lanjut Tirta.

Angin segar pertumbuhan ekonomi Indonesia terlihat dari sisi perkembangan inflasi. Pada November 2016, inflasi tercatat sebesar 0,47% (mtm) sehingga secara kumulatif (Januari – November) dan tahunan masing-masing mencapai 2,59% (ytd) dan 3,58% (yoy).

“Dengan perkembangan tersebut, inflasi untuk keseluruhan tahun 2016 diperkirakan akan rendah dan berada di sekitar 3,0%-3,2%. Untuk tahun 2017, inflasi diperkirakan akan berada pada sasaran inflasi, yaitu 4±1%,” jelasnya.

“Sejumlah risiko terhadap inflasi perlu terus diwaspadai, terutama terkait volatile food dan rencana penyesuaian administered prices. Sehubungan dengan itu, koordinasi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat, dengan fokus pada upaya menjaga pasokan dan distribusi berbagai kebutuhan pokok serta terkait waktu pemberlakuan harga yang diatur Pemerintah,” tutupnya. [hfd]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button