FeaturedNews

Fintech, Solusi Baru Masalah Ekonomi

PADUKAN TEKNOLOGI DENGAN FITUR JASA KEUANGAN

Oleh: Harry F. Darmawan/GoDiscover

JIKA selama ini layanan keuangan selalu identik dengan perbankan, maka saat ini hadir sebuah terobosan baru yang mampu menjembatani masyarakat dengan layanan keuangan berlandaskan teknologi. Terobosan itu disebut dengan Financial Technology (Fintech).

Mulai berkembang sejak 2015 silam, model bisnis ini masih bisa dibilang baru. Pun dengan definisi pasti model bisnis usaha yang seperti apa yang termasuk dalam fintech juga masih dalam proses pendalaman oleh Bank Indonesia.

Manajer BI Fintech Office Kusuma Ayu Kinanti menjelaskan dalam acara Pelatihan Wartawan Ekonomi Kaltim dan Kaltara, Kamis (9/2) di Hotel Crowne Plaza Bandung menerangkan, suatu bisnis bisa dikatakan fintech apabila di dalam usahanya yang bergerak secara digital terdapat layanan jasa keuangan, bukan hanya transaksi jual-beli. Misal, saat masih belum bisa transfer saldo ke rekening bank yang berbeda, lalu muncul jasa di online berupa website yang mampu menjembatani proses tersebut, maka perusahaan tersebut masuk dalam kategori fintech.

ERA DIGITAL: Manajer BI Fintech Office Kusuma Ayu Kinanti saat memaparkan model bisnis layanan keuangan terbaru berbasis teknologi. (Foto: M. Ghofar/ANTARA)

Lebih lanjut, wanita yang akrab disapa Ayu ini mencontohkan sebuah startup yang sedang naik daun di Indonesia, Go-Jek. Saat Go-Jek belum membuka layanan Go-Pay, maka Go-Jek masih bersifat transportation services. “Saat layanan Go-Pay muncul, barulah Go-Jek bisa dikatakan fintech,” lanjutnya.

Saat ini pun, Ayu memaparkan, Bank Indonesia masih cukup kesulitan memilah mana yang fintech, mana yang e-commerce. “Karena memang belum ada definisi tetap tentang fintech itu sendiri,” sebutnya.

Ditambahkan, saat ini, sudah banyak perusahaan fintech itu dan belum teregulasi dengan baik. “Jadi kami bekerjasama dengan Asosiasi Fintech Indonesia untuk merangkul perusahaan-perusahaan tersebut satu per satu,” tuturnya.

TEMBUS ANGKA 15 MILIAR DOLLAR

Kurang lebih setahun perjalanan berkembangnya model bisnis fintech di Indonesia, mereka berhasil mencetak catatan transaksi dengan nominal yang fantastis. Ya, di tahun 2016, total transaksinya mencapai US$ 15,02 miliar, dengan porsi terbesar tercatat pada kategori Digital Payment.

MILIARAN: Transaksi fintech menembus lebih dari US$ 15 miliar hanya dalam waktu satu tahun semenjak berkembang.

Ayu mengungkapkan, dari data yang diterima Bank Indonesia dari Asosiasi Fintech Indonesia pada November 2016 lalu, tercatat ada lebih dari 142 perusahaan fintech yang beroperasi di Indonesia, dengan perusahaan di bidang payment system yang memiliki jumlah terbanyak. “Ada 50% lebih (dari total 142 perusahaan) yang masuk dalam kategori Payment, Clearing and Settlement System,” paparnya.

Sedangkan di tahun 2017, pihaknya memperkirakan total transaksi yang dicatat fintech akan naik menjadi US$ 16-17 miliar.

SALING SUPPORT

Dengan semakin berkembangnya fintech, ada kekhawatiran bahwa masyarakat akan tidak lagi menggunakan jasa perbankan. Ayu pun mengakui, model bisnis fintech ini mereplikasi model bisnis lembaga keuangan formal, khususnya perbankan.” Tapi, di Indonesia sesungguhnya segmentasinya beda,” jelasnya.

BISA BERMITRA: Melalui fintech, perbankan bisa menjangkau masyarakat yang sebelumnya belum tersentuh layanan keuangan.

Ayu melanjutkan, jika selama ini ada 200 juta jiwa lebih warga Indonesia, 60%nya sudah tersentuh layanan keuangan dari perbankan, maka sisa 30%-40% itulah yang coba diambil oleh fintech. “Saat ini bank didorong untuk bisa bekerjasama dengan perusahaan fintech, karena fintech bisa memberikan infrastruktur tambahan untuk bank memperluas customer basenya,” imbuhnya.

TELITI SEBELUM MEMBELI

Karena fintech masih bisa dibilang model bisnis baru, maka masyarakat masih banyak yang belum paham mengenai fintech. Hal inipun diakui oleh Ayu. Dijelaskan, Bank Indonesia juga terus melakukan penjajakan guna mendalami sekaligus mengenali berbagai model yang dijalankan oleh para perusahaan maupun pelakunya.

Dalam upaya pendalaman tersebut, pihaknya sering berdiskusi dengan para pengusaha fintech dengan harapan bisa memecahkan setiap masalah yang mungkin terjadi. “Sekaligus dalam upaya menetapkan regulasi agar bisnis di bidang ini juga memiliki payung hukum,” sambungnya.

Saat ini Bank Indonesia membiarkan industri fintech bermain dan merebut konsumen dari masyarakat. Namun mereka dibatasi dalam hal-hal tertentu, seperti anggotanya tidak boleh lebih dari seribu orang dan jangkauannya hanya daerah tertentu saja.

Begitu pula soal keamanan dari layanan fintech. BI mengimbau agar masyarakat mengenali lebih dulu tentang produk layanan keuangan yang ditawarkan. “Kami dari Bank Indonesia sangat concern dengan perlindungan konsumen. Untuk itu juga dari sisi kami, kami melakukan asistensi pada pihak player (unit usaha fintech),” ucap Ayu.

Saat ini BI tengah mensosialisasikan pada masyarakat mengenai apa itu fintech dan mengingatkan agar lebih berhati-hati dalam memilih produk layanan keuangan. Ayu menekankan, yang terpenting adalah pengenalan mengenai risiko produk layanan keuangan tersebut. “Jadi tidak mudah tergiur dengan keuntungan yang akan didapatkan, tapi perlu mengetahui dulu secara pasti produknya apa, kemudian kenali risikonya,” ungkapnya.

Dirinya melanjutkan, kalau memang risikonya itu sudah dikenali dan sudah bisa dimitigasi, maka akan memperkecil peluang terjadinya pelanggaran. “Jadi untuk konsumen, kenali produknya, teliti sebelum membeli dan kenali risikonya,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button