Home Business Saatnya Batik Balikpapan

Saatnya Batik Balikpapan

3012
0

Napak tilas perjalanan batik Balikpapan bisa terlihat dari keberadaan para pelopor yang bertahan hingga saat ini. Cikal bakal batik Balikpapan dimulai pada 1991. Ketika Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi menggelar program pelatihan keterampilan. Diantara sekian program yang ditawarkan, beberapa orang tertarik dengan membatik.

Namun batik, berbeda dengan kain motif batik. Batik dihasilkan melalui proses kreatif yang panjang. Mulai dari melukis, mencanting dengan malam (lilin), hingga pewarnaan yang seluruhnya dibuat oleh tangan tangan terampil perajin. Pesatnya teknologi memang bisa mempercepat proses pembuatan ribuan motif batik dan bisa diaplikasikan dimana pun. Tetapi, perajin batik tulis punya tempat tersendiri.

Inilah para pelopor batik Balikpapan yang telah memulai dan masih menjalani proses kreatif mengawal budaya bangsa nan adiluhung. Kami rekam agar generasi muda dan pecinta batik di manapun berada dapat mengenal, sekaligus menghargai warisan budaya nusantara yang tak ternilai harganya. Ini lah saatnya Balikpapan untuk lebih percaya diri mengembangkan identitasnya. Inilah para pelopor batik kota ini…

BATIK AMPIEK

Bawa Pesan Unik, Lembut dan Melindungi | Bringing Unique, Tender and Preserving Message

Yang memberi nama usahanya adalah istri mantan Gubernur Kalimantan Timur, Farida Ardans. Ketika itu, tahun 1995, Emi Alaydrus mengelar fashion show di Lamin Etam dengan model-model berpakaian batik. Farida Ardans menyebut kata “Ampiek” yang berarti ukiran khas Kutai. Selanjutnya, abadilah nama itu sebagai nama usaha.

It was Mrs Farida Ardans(wife of ex Governor of Kalimantan Timur) who name this batik. At that time, in 1995, Emi Alaydrus held a fashion show at Lamin Etam whom models are wearing batik. Mrs Farida ardans mentioned “Ampiek” which means Kutai’s unique craft. Then, it lasts as a brand.

PAGELARAN adibusana popular dan ikonik, Top Model Ampiek, menjadi barometer di bidang seni dan bakat. Dimulai tahun 2002, Top Model Ampiek telah melahirkan banyak remaja berbakat di bidang seni dan budaya. Di eranya, acara tersebut bukan hanya mampu mengangkat kepercayaan diri anak-anak muda Kalimantan Timur, namun juga sekaligus bisa mengenalkan kekayaan motif batik lokal. Emi Alaydrus, nama dibalik pagelaran adibusana yang terkenal itu, adalah orang yang sama dengan pemilik Bati Ampiek.

Ampiek Top Model is a popular, iconic fashion couture in art and talent. It was started in 2002, Ampiek Top Model has delivered many talented teenagers in art and culture. In its era, the show was not only to encourage the teenagers, but also to promote the local batik motif. Emi Alaydrus is the owner of Batik Ampiek as well as the founder of Ampiek Top Model.

Ketika datang ke Balikpapan tahun 1989, Emi tidak langsung tertarik membuat batik Balikpapan. Saat itu, ia masih suka menggunakan motif Tenggarong yang sarat dengan pola kerajaan, atau motif dayak yang sudah umum di Kalimantan.

When she first came to balikpapan in 1989, Emi was not instantly interested in making batik Balikpapan. At the time, she prefers to make Tenggarong batik which is full of kingdom motifs or common dayak motifs in Kalimantan.

MOTIF AMPIEK BALIKPAPAN

Inspirasi Ampiek Balikpapan adalah geografi kota ini, yaitu: hutan, bukit dan laut. Dari ketiganya, muncul pola akar bakau, karamunting dan pesut atau lumba-lumba air tawar. Pada setiap desain yang dikeluarkan, Ampiek punya filosofi yang ingin disampaikan pada pemakainya.

Ampiek Balikpapan is inspired by this city’s contour, consist of forest, hills and seas. They inspire the birth of mangrove root, karamunting, Irrawaddy motifs. In every design, ampiek delivers certain philosophy in it.

Akar bakau mengandung makna sebagai tumbuhan yang kokoh dan pelindung. Seperti keberadaan bakau yang menjadi instrumen penting melindungi pantai di Balikpapan.

Mangrove root means a strong and protective plant. It is similar to the existence of mangrove which is important to protect beaches in Balikpapan.

Daun karamunting memiliki arti peneduh. Dengan kombinasi warna yang lembut, motif karamunting Batik Ampiek Balikpapan memancarkan kehangatan.

Karamunting leaves means shading. Karamunting motifs always deliver tender colours which shows tenderness.

Sedangkan motif pesut membawa pesan keunikan Balikpapan. Penggunaan pola tersebut, selain menampilkan ciri khas Balikpapan, juga membawa pesan pelestarian lingkungan.

While in irrawady motif means the uniqueness in Balikpapan. It also means environment conservation.

Motif Ampiek baru-baru ini juga menjadi pilihan salah satu anggota Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi adalah salah satu pengguna Ampiek sejak beberapa tahun silam. Bahkan pada acara yang diselenggaran Kementrian Luar Negeri sejak beberapa tahun terakhir, desain Ampiek kerapkali digunakan.

Ampiek Motifs has recently been worn by Retno Marsudi (Ministry of External Affairs Indonesia). She has been Ampiek customers since a few years ago. She wears ampiek several times in ministry’s events.

Pelanggan tetap dari kalangan atas datang dari Kelompok Ibu Berkain yang konsisten mengoleksi batik motif Balikpapan.

One of customers of Ampiek is the Kelompok Ibu Berkain whom consistently collects Balikpapan batik motifs.

PENGHARGAAN
– Pelopor Pembangunan Bidang UKM 2002.
– Pelopor Batik 2014
– Penghargaan Apresiasi Wisata atas upaya pengembangan pariwisata di Balikpapan 28 Agustus 1994 oleh Walikota H Tjutjup Suparna.
– Penghargaan oleh IWSS pada HUT Ke-3 Sebagai Perempuan Pegiat Pembangunan Kota Balikpapan sebagai Pesetari Batik Bidang Kebudayaan dan Pariwisata.

Awards
– Pioneer in UKM Development 2002
– Pioneer in Batik 2014
– Tourism Appreciation award in effort to developing tourism in Balikpapan, 28th august 1994 by Mayor H Tjutjup Suparna
– Award by IWSS in 3rd birthday as Women whom preserving Batik, Tourism and culture division.

RUMAH AMPIEK
Jl Jend Sudirman Kompl Balikpapan Permai Blok L No 16
T 0542-426216

BATIK VI

Melejit dengan Khas Jahe | Rocketing with Ginger

Umur usahanya paling muda. Namun soal karya, produktivitas Batik Vi termasuk yang paling banyak; ada 35 motif dilahirkan. Berdiri sejak 15 Mei 2013, nyaris satu bulan 2 motif dikeluarkan.

Its career is very early. But in terms of productivity, Batik Vi has launched 35 motifs. Established in May 2013, they produce estimated 2 motifs each month.

Ida Roy Nirwan adalah nama dibalik usaha Batik Vi. Toko displaynya ada di kawasan E-Walk, BSB. Vi, kesan yang sederhana dan ringkas, diambil dari nama belakang anakanaknya, dengan harapan punya kesan singkat dan mudah diingat.

Ida Roy Nirwan is the person behind Batik Vi. They own a store in e-walk, BSB. Vi is the nick name of her daughter. Its simplicity is the brand so that people can remember the name easily.

Pada banyak khas dan corak motif yang dikeluarkan, Ida menjatuhkan pilihan kekuatan produknya pada satu ciri khas tanaman asli Balikpapan: jahe.

Among many motif they produced, Ida points the strong point of their design. The designs are inspired by one of the particular herbs of Balikpapan, ginger.

Ini bukan sembarang jahe. Etlingera Balikpapanensis, nama ilmiah tanaman obat itu, ditemukan oleh ilmuwan Denmark, dan hanya ada di Hutan Lindung Sungai (HLSW). Melalui sejumlah riset dan pertimbangan, Ida yang kini ditunjuk sebagai Ketua Ikatan Pengrajin Batik Balikpapan (IPBB) mengunggulkan motif jahe dalam promosi batiknya.

Well, it is not common ginger. Etlingera Balikpapanensis is the name of it. Found by Danish scientist, and it is only found in HLSW. Ida,which is a head of batik artist of Balikpapan (IPBB) favors such ginger in her designs.

“Bentuk jahe Balikpapan itu unik, ada bunga di atasnya, cocok untuk motif-motif batik,” katanya.

“It has very unique shape. It has flowers on top of it. Very neat to make batik designs,” she said.

Selain jahe, Batik Vi juga memproduksi motif seperti beruang madu, kantung semar, jamur, buah pepaya, buah salak, dan motif Kalimantan Timur pada umumnya. Dari tema Balikpapan Tempo Doeloe, lahir motif rumah panggung, taksi jamban, kilang minyak dan lainnya.

Other than ginger, Batik Vi has also produced several motifs such as sunbear, kantung semar, mushrooms, papaya, salak, and other common Balikpapan motifs. From Balikpapan Old-Schools, they have stagehouse, taksi jamban (old version cab), oil refinery and many more.

Taksi jamban ia sadur sebagai motif karena punya kekhasan dan keunikan. “Pada tahapan pencarian ide, unsur Balikpapan dan Kalimantan Timur kami padukan. Begitu bertemu kombinasi dan ciri khusus, baru kami produksi dan siap dipasarkan,” papar Ida.

Taksi jamban, to Ida, has its own uniqueness. She said that when she searched for ideas, they combine Balikpapan and East Kalimantan. Then, when it is ready, they began producing and put it into market.

Setidaknya ada lima warna yang jadi ciri Batik Vi, merah, hitam, biru, coklat dan kuning. Warna merah kerap ditemui sebagai warna dominan, mengikuti warna Etlingera — si jahe Balikpapan itu.

There are at least five colors Batik Vi offer; red, blue, black, brown and yellow. Usually, red become the dominant color, because it is similar to Etlingera — the famous Balikpapan ginger.

Ida adalah tipikal pengusaha yang santai dan menjalankan sesuatu dengan enjoy. “Bapak (suaminya, Roy Nirwan) yang biasa usaha. Saya ini lebih sering di rumah sebagai ibu rumah tangga,” sebutnya merendah. Meski begitu, setahunan ini Batik Vi mendapat cukup banyak permintaan pemesanan, khususnya dengan motif jahe. Pesanan bahkan sampai Eropa dan Turki.

Ida is a businesswoman which is quite modest in business. “My husband is the one who is used to business, so I put myself mostly as a wife”. Though, Batik Vi has already gotten themselves some orders from Europe and Turkey.

Batik Vi
Komplek Balikpapan Superblock E/13, Balikpapan | Telp. 0822 1144 4425

RUMAH KREATIF BALIKPAPAN | Creative House of Balikpapan

Bagi para perajin batik yang bernaung di Rumah Kreatif Balikpapan (RKB), membatik tidak hanya soal mendatangkan materi. Lebih dari itu, menumbuhkan kepercayaan diri.

To batik artists in Creative House of Balikpapan, dying batik is not only to earn some money. More than that, it increases their confidence.

PADA Juni 2011, Chevron Indonesia menyerahkan bantuan alat bantu gerak kepada penyandang disabilitas. Melalui pemberian kursi roda dan kaki palsu, warga Balikpapan yang kurang beruntung ini beranjak bangkit dan mandiri. Setidaknya, untuk aktivitas sehari-hari.

In June 2011, Chevron Indonesia gave aid in the form of prosthetic orthotic for the disables. Thanks to this aid, disabled citizens began to rise and independent, at least for daily activities.

Pemberian bantuan ini dihadiri Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Balikpapan Arita Rizal Effendi. Melihat antusiasme para penerima bantuan, Arita mengajak Chevron untuk meningkatkan bantuan.

The aid ceremony was held by Mrs Arita Rizal Effendi as the Head of Dekranasda (Board of Local Craft). Looking at the disables enthusiasm, she gathers Chevron to increase their aid.

Keterbatasan yang dimiliki para penyandang disabilitas sesungguhnya tidak mengurangi mereka untuk mandiri dalam ekonomi. Mereka mampu bekerja dan berpenghasilan. Atas tantangan ini, Chevron membuat pusat pengembangan ekonomi kreatif.

The limitation of the disables was never to limit their willingness to be economically independent. They can work and make incomes. On this challenges, Chevron creates centre of creative economy development.

Enam bulan kemudian, Chevron memfasilitasi pelatihan membatik selama dua pekan. Mereka juga menyiapkan pendampingan, instruktur serta fasilitas. Program ini diketuai Etty Nuzuliyanti. Tingginya minat peserta mendorong perusahaan minyak asal Amerika itu mengontrak sebuah rumah sebagai workshop sekaligus galeri.

In the next 6 months, Chevron facilitates batik training for two weeks. They prepared counseling, instructor as well as facilities. This program had Etty Nuzuliyanti as their chief. The great interest from the participans encourage Chevron to rent a house to be a Batik workshop as well as gallery.

Dari sinilah RKB menghasilkan karya tenun dan batik tulis bermutu tinggi. Perlahan namun pasti, para penyandang difabel mendapatkan penghasilan serta kepercayaan diri. Hingga saat ini, semua jenis kerajinan tangan dihasilkan dari tangan-tangan terampil para perajin.

This is where RKB produces high-quality weaves and hand-painted batik. Slowly but sure, the disables earn money and their confidence. Up until now, they keep on producing crafts.

Produk sampingnya mulai tenun Ulap Doyo, daur ulang plastik dan kertas hingga aksesori lain. Ada tas dari daur ulang plastik, box dan pigura dari daur ulang kertas, boneka hingga sepatu. Semua limbah non organik dikerjakan di RKB.

Another product is the Ulap Doyo weavings, recycles of plastics and papers, as well as other accessories. They are producing crafts made from recycled such as hand bags, paper boxes, frames, dolls and shoes. They can work using almost all non-organic recycled waste.

Karena memiliki banyak anggota, RKB telah mengeluarkan banyak motif. Salah satu yang digemari adalah Jejeran Buah Mangrove. Pola buah bakau dikombinasikan dengan ukir Dayak menghasilkan harmoni. Motif ini juga memiliki filosofi masyarakat Balikpapan yang heterogen. Mangrove atau bakau menggambarkan masyarakat pesisir, pohon karangmunting melambangkan kota dan sulur melambangkan suku Dayak.

Having a lot of members, RKB produces many motifs. One of them is Jejeran Buah Mangrove. This mangrove fruit is combined with Dayak carvings to make a harmony in design. The motif resembles heterogenic people of Balikpapan. Mangrove resembles people in shore, Karamunting tree resembles city, and its tendril resembles Dayak Tribe.

Rumah Kreatif Balikpapan Sandaran Ekonomi Penyandang Disabilitas

YULIANA, dulunya adalah remaja ceria. Namun, kecelakaan saat mengendarai sepeda motor membuat hidupnya berbalik 180 derajat. Kakinya cacat. Semangat Yuli redup. Dia hanya berdiam diri di rumah selama bertahun-tahun. Melihat kondisi itu orangtuanya pesimistis Yuliana bisa menjadi anak yang produktif. Sementara, Agus Sudarmanto adalah penyandang polio. Di usia dua tahun, kaki Agus lumpuh selama tiga bulan. Meski sempat kembali normal, namun lambat laun kakinya semakin layu hingga tidak bisa berjalan stabil sampai sekarang.

Dua orang itu, Yuli dan Agus, adalah contoh penyandang cacat yang bisa menemukan dirinya kembali saat bergabung dengan Rumah Kreatif Balikpapan (RKB). Dari aktivitas mencanting batik di RKB, Yuli membawa pulang setidaknya Rp 1,5 juta dari hasil kerjanya. Agus, yang dulu tidak punya pekerjaan tetap dan hampir semua biaya hidup ditopang dari penghasilan istrinya menjahit, kini justru dipercaya menjadi Ketua RKB. Keseriusan mengikuti pelatihan-pelatihan membawa hasil. Pesanan terus datang, sampai sekarang. Lebih dari sekadar materi, Agus dan Yuli adalah contoh pihak yang memetik manfaat dari RKB; di tempat yang tepat, mereka mampu membangun kembali kepercayaan diri.

Puluhan anggota aktif pengurus dan anggota RKB terus berlomba menuangkan kreativitas mereka. Menggunakan media katun dan sutra, para perajin batik di RKB membuat kain, selendang, baju, kemeja, dan gamis.

Selain batik, RKB juga sangat mengandalkan produk dari bahan daur ulang. Produknya bervariasi mulai dari tas tangan, baju boneka, suvenir, boneka Dayak, baju rajut, dompet, dan lain-lain, semuanya dari bahan bekas pakai atau daur ulang, kebanyakan adalah jenis plastik. Mengingat banyaknya warga negara asing yang datang ke galeri mereka, sebanyak 8 anggota RKB secara khusus dikursuskan bahasa Inggris agar bisa berkomunikasi dengan para ekspatriat.

DARI PELATIHAN SAMPAI KOPERASI

Berawal dari donor kaki palsu untuk para penyandang disabilitas di Balikpapan, manajemen Chevron Kalimantan Operations menggelar audiensi dengan Arita Rizal Effendi, Ketua Dekranasda Balikpapan. Saat itu, Arita bertanya, “Jika sudah memiliki kaki menyerupai sempurna, lalu apa yang dilakukan berikutnya?” Arita mendorong untuk tidak hanya menyempurnakan fisik, tapi juga hidup, baik rohani maupun materi. Dari situlah mengemuka usulan industri rumah tangga di sektor sandang.

Di Balikpapan, kala itu, belum ada usaha home industry bidang sandang. Kalau pangan sudah banyak. Bordir dan batik, belum ada. Namun, karena bordir masih harus pakai mesin dan kaki, maka yang dipilih adalah batik, karena hanya mengandalkan tangan. Mereka bisa bekerja meski duduk di kursi roda.

Berlanjut dari pembicaraan tersebut, Chevron pun menggelar pelatihan untuk para penyandang disabilitas dan dilatih langsung oleh pembatik dari Balai Besar Batik di Yogyakarta. Selain itu, batik dipilih karena tidak memerlukan mobilitas yang tinggi. “Kami menyeleksi peserta yang bersungguh-sungguh dengan mekanisme wawancara psikolog. Kami ingin hal ini berkelanjutan dan bukan berhenti sampai pelatihan saja,” tutur Etty Nuzulyati, staf PGPA Chevron Kalimantan Operations.

Ternyata para peserta punya kemampuan, kendati awalnya mereka tidak punya dasar keterampilan tentang batik. Produk batik RKB juga tidak diperbolehkan menggunakan pewarna kimia. Semua pewarnaan harus menggunakan pewarna alami. Ini sejalan dengan prinsip Chevron untuk melindungi manusia dan lingkungan. Dengan keunikan ini, harga jual batik RKB praktis bisa lebih tinggi. Warna-warna alam didapat langsung dari kayu-kayu yang tumbuh di Balikpapan. Kemudian diolah, sehingga menjadi pewarna yang aman buat manusia dan lingkungan.

Hingga pada 20 April 2013, dibukalah tempat produksi di Jalan Wiluyo Puspoyudo No 1 RT 23 Balikpapan yang resmi bernama Rumah Kreatif Balikpapan, yang berkonsep galeri, bukan toko. Dalam perjalanannya, para pengurus RKB ingin mengubah status RKB menjadi koperasi. “Agar bisa lebih mandiri dan profesional. Karena RKB punya peluang pasar yang besar. Sehingga harus berbadan hukum,” ujar Etty. Harapan ke depan, RKB bisa menjadi salah satu ikon kota Balikpapan, dan menjadi salah satu tujuan wisata kota ini.

Rumah Kreatif Balikpapan
Workshop & Gallery
Jl Wiluyo Puspoyudho No. 1
Klandasan Ulu Balikpapan

Kontak:
Etty Nuzuliyanti: 0812 542 9180

Batik SHAHO

Pionir Batik dari Gang Kecil | Batik pioneer from alley

BATIK SHAHO
Jl. Abdul Wahab Syahrani
Gang LKMD RT 05 No.45
Batu Ampar, Balikpapan Utara
T 0542-413634

Dari gang kecil di pinggir Balikpapan Utara, SHAHO melalang buana. Karyanya dipakai pejabat hingga ekspatriat. Tak terasa, sudah 20 tahun sejak mengawali pertama pada 1994.

From an alley in North Balikpapan, Shaho has travelled throughout the world. Its product has been worn by government officers to expatriate. It has been 20 years since its birth in 1994.

SEBAGAI sesepuh dan industri kerajinan batik tertua, Batik SHAHO bersikap layaknya orang tua; menebarkan semangat bagi anak-anak dan menjaga budaya mengayomi dan merawat.

As one of the elderly in batik industry, Batik Shaho has been inspiring the youth and preserving culture in Batik.

Ada saja terlihat tingkah polah lucu murid-murid dan anak TK yang terlihat di tempat produksi Batik SHAHO, dalam kesempatan field trip, untuk belajar membatik. Anak-anak itu biasanya dipandu untuk menumpahkan karyanya bukan pada bahan pakaian, tapi sapu tangan, untuk kemudian bisa dibawa pulang. SHAHO memang bukan hanya memproduksi batik untuk seragam, namun juga ada produk lain seperti taplak, sprei, sarung bantal, dan sapu tangan tadi.

There was very fun in seeing kindergarten students having field trip in Shaho. They were trying to make batik. Shaho usually had the student to craft in a handkerchief, so that they can go home with it. Shaho, not only making batik for uniforms, but also other fabrics such as table cloths, bed sheets, pillowslips, and handkerchieves.

Selama puluhan tahun, Batik SHAHO menjaga produknya secara ekslusif. Karya batik yang workshopnya berada di Jl LKMD ini cuma bisa diperoleh di tempat pembuatannya. Juga sesekali di momen pameran . Eksklusivitas dijaga, sampai SHAHO baru mengeluarkan 100 motif selama perjalanan usahanya.

For decades, Shaho Batik has exclusively preserving its quality. We can only get their batik in their workshop in Jl LKMD. To preserve its quality, up until now Shaho has produced limited 100 motifs throughout the career.

Menariknya, di tahun-tahun pertama produksi, usaha ini tak punya nama untuk batiknya. Sampai ketika Disperindagkop menanyakan nama usaha ketika memperoleh penghargaan sebagai pencetus batik motif Balikpapan dari Walikota Imdaad Hamid pada HUT kota ke – 111.

Interestingly, in her early career, she didn’t have a name for her batik. She realized she need a name when she was awarded as the pioneer of Balikpapan batik motif in 111th birthday of Balikpapan.

Baru pada saat itu merek batiknya diberi nama sesuai huruf depan nama anggota keluarga: Supratono, Hariyati, Ardi Rahayu, Hendri Astuti dan Oki Hendro – yap, jadilah nama SHAHO!

At that time, there was only one name she could think of, Supratono, Hariyati, Ardi Rahayu, Hendri Astuti dan Oki Hendro. She took all the initials, and voila, SHAHO.

Nama yang sederhana, unik dan orisinal , dan kini dikenal sebagai merek batik Balikpapan yang populer.

Simple, unique and original name, having its popularity in batik Balikpapan.

Sejak pertama membatik, SHAHO telah mengenalkan motif yang lebih modern sambil menggabungkan unsur tradisional. Salah satu ciri yang dipertahankan adalah motif ukiran khas Kalimantan; melengkung, spiral, lingkaran, dan totem atau patung dayak. Bentuk melengkung terinspirasi liukan akar atau ranting pohon.

From the first time dying batik, Shaho has introduced modern motifs and traditional motifs. One of the preserved motif is Kalimantan’s characteristic motif; curvy, spiral, circle, totems or dayak statue. Curvy shape is inspired by the wriggle of tree’s branch or root.

Berbeda dengan produsen batik lain, SHAHO juga terbuka bagi para pecinta batik untuk menciptakan motif sendiri. Kita dapat memesan batik sekaligus menggambar motif, memilih tema, hingga proses pencetakannya. Prosesnya berlangsung tradisional, termasuk bagian finishing.

Unlike other producers, Shaho is always open for batik lovers to create their own motif. We can order batik by designing, choosing theme as well as its printing. The processes are traditional, including its finishing process.

ARNESTA BATIK

Pesona Balikpapan yang Diburu | The hunted Balikpapan charm

Lahir di Kampung Batik Trusmi, Cirebon Jawa Barat, lalu menumpahkan hasrat membatik di Balikpapan karena mengagumi kekayaan alam di Kalimantan Timur. Itulah Rones Triyono dengan Arnesta Batik.

Rones Triyono was born in Batik Village Trusmi, in Cirebon, West Java. He put his passion in batik in Balikpapan since he admired he wealth of nature in East Kalimantan.

KALTIM menyediakan berbagai macam inspirasi bagi perajin dan pelaku seni. Untuk motif batik, apalagi. Dari alamnya, budaya, seni maupun masyarakat. Bagi perajin seperti Rones Triyono, mencari inspirasi untuk mengembangkan motif batik hanya soal kejelian perajin dan kemauannya membuka mata dan telinga.

East Kalimantan has provided many inspiration for artist and craftsman, especially for batik motifs. For artist like Royes Triyono, searching for inspiration to develop batik motifs is only a matter of diliigency and willingness to open one’s eye and ear.

Batik Arnesta muncul pada tahun 2001, saat Rones hijrah ke Balikpapan . Begitu menginjakkan kaki di Borneo, Rones langsung kagum dengan kekayaan alam Bumi Etam, termasuk arsitektur bandara yang dipenuhi ornamen ukir Dayak . Saat itu juga, dia bertekad menciptakan motif batik Balikpapan.

Arnesta batik came in 2001. Once rones came, he admired the nature of East Kalimantan, as well as the crafts of Dayak in airport ornaments. He became focused on creating Balikpapan batik motifs.

Berbeda dengan yang lain, Rones mengawali batik printing dulu sebelum memulai batik tulis. “Alasannya praktis saja, karena baru memulai usaha, saya harus menjual dan mengenalkan motif baru sebanyak banyaknya,” sebut Rones. Dengan batik printing, dalam satu hari bisa mencetak puluhan meter kain. Sedangkan untuk batik tulis, untuk menyelesaikan satu kain memakan waktu berhari-hari.

In the beginning, he started by making block-printed batik. He chose that way in order to sell and producing new motifs as many as possible. Using block-printed batik, he can make dozens meters of fabric a day. Meanwhile, hand-printed batik require days of production for a piece of fabric.

ANDALKAN PESONA BALIKPAPANEmphasizing the charm of Balikpapan

Batik Arnesta mengambil tema-tema kombinasi pesona Balikpapan. Pakis Balikpapan, tanduk rusa, buah naga, kapal, gelombang, pesona bawah laut. Pola ini dipadukan dengan unsur Dayak untuk memperkuat unsur Kalimantan-nya.

Arnesta batik creates themes in terms of the charm of Balikpapan. Ferns, rose horns, dragon fruits, ships, waves, and underwater view. These patterns are combined with dayak theme to enhance the art.

Beberapa motif Arnesta yang sudah cukup dikenal antara lain Pesona Balikpapan yang menonjolkan kekayaan flora. Motif ini mendapat pengakuan pemerintah dan ditetapkan sebagai juara desain batik.

There are several motifs that are already well known, such as The Charm of Balikpapan which explores the wealth of flora. This motif has earn government acknowledge and was awarded as the champion in Batik designs.

Motif Terumbu Karang yang menggambarkan kekayaan bawah laut, Rumput Laut, berpadu dengan warna-warni cerah membuat motif Arnesta banyak diburu kolektor, bahkan sebelum dipasarkan.

Another best-selling motif is The coral reef motif, which shows the rich in underwater life. It has bright colours.

Kini, Arnesta giat mengembangkan batik tulis. Visinya mengenalkan motif daerah dan menjaga kelestarian budaya membatik di tanah air. Untuk mewujudkan visi itu, Arnesta membuka pelatihan membatik tanpa biaya. Rones tak segan turun sendiri mengajari masyarakat yang berminat membatik.

Now, arnesta is developing hand-painted batik. They have a vision to promote local motifs and to preserve batik culture in the nation. To fulfill that, arnesta open a free batik course. Rones himself is seen to teach people to draw batik.

ARNESTA BATIK
Jl. Mulawarman I No. 19 RT 29, (Samping Lapangan AURI), Sepinggan Raya, Balikpapan
Kontak : 082152808080, SMS 0853 5353 9090

BATIK SULYA

Bermain di Sutera, sampai Sepatu Batik | Made of silk, from purses to shoes.

Seperti kebanyakan batik di Indonesia, Sulya dirintis oleh sebuah keluarga. Dari keturunan ketiga perajin batik Maesan, Sulya mengembangkan motif Balikpapan.

As in most batik in Indonesia, Sulya was pioneered from a family. Sulya came from the third generation of Maesan batik artist, and they started making Balikpapan themes into batik.

Sulya sesungguhnya sudah ada sejak tahun 1985. Batik ini dirintis oleh mendiang Lilik Soewondo, ketua kelompok Karang Taruna Desa Sumbersari, Kecamatan Maesan, Bondowoso, Jawa Timur.

Sulya existed in 1985. It was pioneered by the late Lilik Soewondo, a chief of youth in Desa Sumbersari, Kecamatan Maesan, Bondowoso city, East Java Province.

Awal tahun 2011, Sulya mulai membuat dan memasarkan batik dengan desain-desain motif Kalimantan Timur. Produk-produk yang dihasilkan kemudian diberi merek sesuai namanya sendiri. Beberapa tahun terakhir, Sulya agresif mengeluarkan motif dengan ciri khas Balikpapan, seperti beruang madu, kilang minyak, karamunting dan Hutan Lindung Sungai Wain.

In 2011, he began making and selling batik in East Kalimantan motifs. They also made the brand of their own name, Sulya. In recent years, sulya aggressively has been making motifs align with Balikpapan specialties, such as Sun Bear, Oil Refinery, Karamunting and the preserved forest of Sungai Wain.

Salah satu rancangan Sulya mendapat apresiasi dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Balikpapan sebagai Juara Favorit Desain Batik Balikpapan 2013. Motif yang dilombakan adalah pulau Kalimantan dengan mangrove, obor pertamina, beruang madu bakau. Warna yang dia pilih adalah hitam, putih, biru, dan coklat.

One of the designs was awarded the Favourite Batik Design in 2013 by the Tourism Board of Balikpapan. The motifs brought into competition were mangrove, refinery flare, mangrove sunbear. He chose black, white, blue and brown colour.

Jl. Telaga Sari Rt.25 Balikpapan
Telp. 0812 530 9788

Source : Majalah DISCOVER BALIKPAPAN Edisi ke 39 Februari 2016

Previous articleRekatkan Kerjasama Pariwisata dengan Bandung
Next articleDipatenkan dan Dipromosikan, Hingga Diikutkan Pameran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.