Home Community G2B: Gemstone Balikpapan Borneo

G2B: Gemstone Balikpapan Borneo

1128
0
Gemstone Balikpapan Borneo
Lantai Dasar Balcony Blon N-2 No 1-2
Telp. 0813 4789 9988

Batu akik identik dengan dukun, mistik, tahayul. Tapi itu dulu. Lihatlah sekarang. Tua-muda, pria-wanita, dari pinggir jalan hingga pusat shopping mewah, tak ragu memamerkan cincin dengan mata dari batu berwarna-warni.

Di Balikpapan, penggemar batu akik dari berbagai kalangan, membentuk komunitas. Gemstone Balikpapan Borneo atau G2B punya visi mengenalkan kekayaan batu batu mulia di Indonesia. Itulah mengapa grup ini rajin menggelar lapak di tempat-tempat umum. Seperti Lapangan Merdeka, pusat perbelanjaan hingga pada acara-acara pameran. Hampir setiap pekan mereka memamerkan koleksi agar dapat dinikmati masyarakat.
“Jumlah anggota kami cukup banyak. Padahal komunitas ini belum lama dibentuk,” kata Paulo Escobar, penggagas komunitas G2B. Komunitas ini bahkan punya ijin dari notariat. Menurut pemakai Zamrud, Red Borneo dan Reda Baron ini, ia ingin warga Balikpapan mengenal serta menghargai batu mulia Indonesia yang memiliki banyak keistimewaan.
Ia mencontohkan Red Borneo yang sedang digandrungi berbagai kalangan. Batu itu merupakan batu mulia yang hanya bisa diperoleh di Kalimantan. “Para kolektor datang dari berbagai daerah, juga dari negara tetangga seperti Malaysia, Brunai, Singapura, hingga Taiwan untuk memburu batu ini,” kata dia.
Paulo bilang penggemar batu mulia dari luar daerah biasa menyebut Red Borneo dengan Ruby Kalimantan. Red Borneo memiliki keunikan yang tak dimiliki batu dari daerah lain. Coraknya merah muda dan punya tali air atau bias hitam. Selain itu, batu ini punya kekuatan tinggi, yakni antara 5-6 skala Mohs.
Dengan ukuran tersebut, Batu Merah Borneo tak mudah pecah. Apalagi jenis ini juga memiliki kadar badar besi. Red Borneo adalah jenis pertama yang keluar dari struktur tanah. Selanjutnya juga ada Green Borneo yang belum banyak terekspos. Red Borneo sudah bisa dijumpai di Pasar Kebun Sayur dan pusat penjualan batu mulia Balcony.
Komunitas ini juga mengedukasi masyarakat agar tak terjebak paradigma batu akik bagian dari mistik atau tahayul. “Ini hanyalah perhiasan. Sama halnya dengan memakai jam tangan, atau cincin,” kata dia. [yos]

Source : Majalah DISCOVER BALIKPAPAN Edisi ke 41 April 2015

Previous articleNicolas Lumanauw: “Potensi Kaltim Lebih Luar Biasa dari Bali”
Next articleA City Designed to be Smarter

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.