Home Entertainment Pesan Moral di Balik Renyahnya Kerupuk

Pesan Moral di Balik Renyahnya Kerupuk

994
0

Budayawan Semarang, Prie GS, menilai kerupuk bukan sekedar penganan pelengkap makan tanpa makna. Jika dicermati seksama, kerupuk juga menyimpan pesan moral terkait kehidupan manusia.

Sejauh ini, menurut dia, jarang pakar gizi membahas manfaat kerupuk. Atau mungkin, barang ini cuma sedikit bermanfaat saja sehingga tak perlu ada pembahasan atasnya.

Walau kerupuk tidak dipentingkan di takaran wacana, Prie menilai kerupuk memiliki kedudukan amat sentral.

“Sebelum melar menjadi sebesar wajan, kerupuk mentah bisa kecil sekali. Saya belum pernah menemukan jenis pemekaran yang seagresif kerupuk saat sudah jatuh di bejana penggorengan,” kata Prie GS, Selasa (26/4/2016).

Pemelaran yang dramatis itulah yang kemudian mendatangkan efek dramatik di mulut. Kerupuk meramaikan kedudukan sayur dan nasi walau penuh menipu lidah.

“Itulah kenapa bagi pengemarnya, gabungan antar pedas dan kerupuk adalah duet maut. Menu paling sederhana sekalipun menjadi gegap gempita jika dua aksesoris ini turut serta,” kata Prie GS.

Jadilah kerupuk sebagai makanan kultural karena keakraban yang terbangun di atasnya. Ia sebetulnya tidak penting, tetapi harus ada. Karena harus ada, jadilah ia penting. Kebiasaan itu turun ke dalam kenyataan.

“Pesan moralnya, di dalam kenyataan, betapa banyak mementingkan soal-soal yang tidak penting. Lalu, terjadilah kekacauan urutan antara tidak penting, penting, dan mendesak. Pertukaran tempat di antara ketiganya tinggi sekali di negeri ini,” kata Prie GS.

Saat ini sangat banyak barang yang tidak penting tidak cuma diubah menjadi penting, tetapi juga ditingkatkan jadi mendesak. Salah urutan itu telah menjadi kebiasaan. Ada sebuah tata nilai yang lebih suka merangsang untuk pintar mencari sumbangan jika penuh keterlibatan warga.

Contoh konkret adalah saat membangun rumah ibadah. Lebih senang musala mewah hasil “ngemis” dengan proposal, dibanding musala sederhana hasil swadaya.

“Apa jadinya jika tradisi mendahulukan sensasi ala makan kerupuk itu diam-diam ada dalam diri kita sebagai pribadi, keluarga, masyarakat, sampai negara? Apa jadinya jika seorang pengangguran lebih mendahulukan televisi cuma untuk menghibur diri ketimbang mengembangkan diri?” kata Prie GS.

Prie menandaskan, apa jadinya jika kesibukan negara ternyata bukan untuk kepentingan negara tetapi lebih untuk kepentingan politiknya sendiri. Kerupuk memang sensasional, tetapi satu soal yang disepakati: ia ramai di mulut tapi rendah di gizi.

Source : Liputan 6

Previous articleNgeri, Ini 10 Foto Selfie yang Bikin Geger Dunia Maya
Next article3 Strategi Berhemat Tanpa Mengorbankan Gaya Hidup

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.