Home Technology and Tips Agar Jari Tidak Tersesat

Agar Jari Tidak Tersesat

649
0

Memasuki era internet dan media sosial, rasanya belum pernah terjadi sebelumnya bagaimana seseorang begitu cepat mendapatkan informasi serta menyampaikan kembali secara kilat. Hal ini terutama difasilitasi oleh kemajuan telepon pintar yang semakin lama semakin banyak memberikan kemudahan mengakses informasi.

Dulu di akhir 90-an hingga awal 2000-an, telepon genggam atau handphone merupakan barang mewah. Jangankan handphone, telepon rumah saja tidak semua orang memilikinya. Maka di masa tersebut jangan heran jika ada keperluan, maka nomor yang diberikan adalah nomor telepon tetangga. Biasanya tetangga yang baik hati akan memanggilkan jika ada yang menumpang menghubungi ke nomornya.

Bukti handphone sebagai barang mewah saat itu juga ditandai dengan harganya yang super mahal. Penulis masih ingat betul harga HP Ericsson T10 di tahun 2000 adalah 6,5 juta rupiah. Padahal harga emas sa-ameh masih sekitar Rp. 175.000,-. Membeli nasi bungkus dengan dendeng batokok saja masih Rp. 4.500,-.

Tidak HP-nya saja yang mahal, kartu perdananya juga sangat mahal. Harga kartu perdana saat itu adalah sekitar Rp. 400.000,-. Beli pulsanya pun tidak ada pilihan lain selain nominal Rp. 100.000,-. Caranya, beli kartu plastik tebal yang luks seperti kartu ATM, kemudian digosok dengan koin. Padahal fasilitas HP saat itu hanya untuk telepon dan sms saja. Itu pun tarifnya sangat mahal dan ada roaming pula.

Sekarang?

HP sudah sangat murah. Ketika penulis mengetikkan kata kunci “handphone murah” di Google, langsung keluar 792.000 halaman hasil pencarian. HP tersebut sudah dilengkapi dengan fasilitas internet, media sosial, kamera, video, radio, serta puluhan fungsi lainnya, banyak yang dibanderol dibawah 1 jutaan. Bahkan kalau mau lebih irit lagi, banyak HP keluaran Cina yang bisa ditebus dengan uang di bawah 200 ribuan.

Apa yang terjadi dengan adanya fenomena di atas?

Hampir semua orang sekarang telah melek teknologi. Minimal sudah bisa mengoperasikan WhatsApp ataupun Facebook. Akses berita yang dulunya harus ditunggu secara khusus melalui koran, berita televisi atau radio, sekarang bisa dilihat kapan saja dan di mana saja dengan satu sentuhan ujung jari. Sehingga kita pun kebanjiran informasi dari berbagai sumber. Baik kabar yang perlu, maupun yang recehan.

Memegang dan membaca informasi yang masuk di HP sudah bisa diibaratkan seperti menimba air laut. Habis membaca status dan foto di facebook, masuk pula WhatsApp, habis baca WhatsApp datang lagi BBM, habis BBM buka pula Twitter, habis Twitter masuk pula pesan dari Path, belum pula sempat melihat foto-foto selebritis dan teman-teman di Instagram, tapi membaca-baca berita di detikcom juga perlu disempatkan.

Jika semua sudah dilihat dan dibaca, ternyata di facebook sudah ada pula yang baru. Di WhatsApp sudah ada pula yang baru, sudah masuk pula broadcast BBM. Begitu terus sehingga kita tenggelam di depan layar HP.

Makanya orang-orang tua sering garuk-garuk kepala melihat tingkah anak-anaknya jika sudah memegang HP. Melimpahnya berita dan informasi juga membuat kita kewalahan dalam memaknai sebuah kabar. Apakah memang berita ini benar, apakah hanya hoax (kabar menyesatkan). Apalagi saat ini media sosial dan kanal berita sering dijadikan alat propaganda bagi pihak-pihak tertentu

Bagi yang senang menganalisis dan membandingkan, tentunya ini tidak menjadi masalah. Artinya, ia “mengunyah-kunyah” setiap informasi yang ia baca sebelum mempercayainya. Yang menjadi masalah adalah orang yang mudah percaya begitu saja pada apa yang ia baca. Sehingga seringkali salah dalam memaknai sesuatu.

Parahnya, berita yang salah tersebut mudah pula disebarkan ke mana-mana. Hanya butuh satu sentuhan jari pula. Sehingga semakin banyak pula yang ikut tersesat.

Sebagai contoh. Carilah artikel-artikel sehubungan dengan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Cari saja di Google. Akan muncul jutaan artikel yang membela isu tersebut. Bahkan banyak pula yang menggunakan pembenaran secara “ilmiah”.

Begitu pula dengan isu-isu lainnya seperti komunisme, Syiah, dan lain sebagainya. Jika ingin masuk ke komunitas tersebut, mudah saja, tinggal klik. Anda akan diterima dengan gegap gempita oleh kelompok-kelompok tersebut.

Ingin beli baju dengan logo palu dan arit? Tidak perlu ke Vietnam atau ke Cina. Bisa beli secara daring (online). Nanti akan diantarkan dengan kemasan tertutup. Ingin buku-buku tips bagi LGBT, tinggal unduh saja dalam bentuk pdf. Ingin mendengarkan ceramah dari ustad Syiah, ada banyak di Youtube. Ingin pornografi, apalagi.

Maka, menurut hemat penulis, langkah pemerintah yang saat ini gencar mengumpulkan dan membakar buku-buku yang berkaitan dengan komunisme sebenarnya sudah tidak efektif lagi. Jika di zaman Orde Baru dulu memang bisa, karena buku-buku tersebut beredarnya memang dalam bentuk fisik, stensilan dan fotokopian. Tapi sekarang? Bagaimana caranya mengawasi buku elektronik (ebook) yang dalam bentuk softcopy diedarkan melalui internet atau flashdisk?

Untuk itu, yang penting diajarkan kepada kita semua adalah bagaimana memfilter informasi yang masuk. Karena berbagai informasi tersebut tersedia secara melimpah dan menyebar dengan cepat melalui internet di dalam HP.

Sebuah informasi yang sesat tidak akan berpengaruh bagi seseorang yang sudah kuat filternya. Paling tidak lebih susah masuknya. Karena sebelum membaca, ia sudah tahu mana yang bisa ditelan dan mana yang harus dimuntahkan kembali.

Bagi orangtua yang membelikan HP kepada anaknya, tentunya harus lebih canggih dan melek teknologi daripada si anak. Sekarang sering kali anak lebih menguasai teknologi daripada orangtua. Sehingga anak mudah menyembunyikan sesuatu di dalam HP-nya tanpa sepengetahuan orangtua.

Padahal jika orangtua mau belajar, sebenarnya perangkat komputer dan HP bisa dibatasi dengan mengunduh aplikasi-aplikasi sensor dan rating. Cari saja di Google, masukan kata kunci “parental control”. Akan muncul banyak sekali aplikasi-aplikasi yang bisa digunakan orangtua untuk mengawasi penggunaan internet anaknya.

Seperti salah satu contoh aplikasi yang penulis temukan “K9 Web Protection”, aplikasi ini bisa otomatis memblokir setiap kali sebuah HP digunakan untuk menjelajahi situs-situs porno, LGBT, dan lain-lain. Bahkan pada saat anak membuka situs tersebut, otomatis akan muncul pemberitahuan ke HP orangtua. Demikianlah semestinya, sembari memberikan pendidikan kepada anak sehubungan dengan berbagai informasi yang berbahaya.

Tidak hanya kepada anak, kepada orang-orang dewasa juga sebaiknya saling mengingatkan. Jangan sampai informasi yang entah benar atau tidak menjadikan perpecahan dan pertengkaran di forum-forum daring seperti saat ini.

Jadikanlah internet dan media sosial sebagai wadah untuk bersilaturahmi dan membagikan ilmu yang bermanfaat. Sehingga menghabiskan waktu dengan memegang HP tidak hanya menjadi kegiatan sia-sia, namun juga mendatangkan manfaat dan mudah-mudahan berpahala.

Source : Qureta (Okki Trinanda Miaz)

Previous articleTradisi Unik Ramadan di Berbagai Negara
Next articleStudi : Minuman Panas Terkait dengan Kanker

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.