Home Technology and Tips Tanggung Jawab Orang Melek Internet: Buat yang Lain Merasa Tidak Sendirian

Tanggung Jawab Orang Melek Internet: Buat yang Lain Merasa Tidak Sendirian

841
0

Tampaknya kita harus berterima kasih pada seorang pemuda bernama Justin Hall untuk tindakanya pada tahun 1990-an. Justin Hall hanyalah seorang mahasiswa biasa di Swarthmore College pada tahun 1993.Dia adalah seorang maniak komputer yang memiliki hobi untuk mengutak-ngatik sesuatu. Justin Hall kala itu hidup di saat web dan internet sedang naik daun serta membuat heboh seisi Amerika.Ini adalah masa dimana komunitas online mulai menjamur dengan lahir nya web dan berbagai platform digital yang memfasilitasi diskusi di dunia maya, seperti America Online (AOL). Mungkin web atau platform AOL ini seperti kaskus, saya juga tidak tahu. yang jelas tampilanya masih full teks (ciri khas Web 1.0).

Perkembangan internet ini tentu di manfaatkan oleh pemerintah dan berbagai perusahaan Amerika dalam menyediakan konten.Saat itulah Justin Hall merasa jengah karena konten-konten yang disediakan lembaga dan pemegang otoritas terasa membosankan. “Hampir semua terbitan daring terkesan amatiran, sedangkan isinya menjemukan.”Ujarnya hingga akhirnya dia memutuskan untuk membuat konten sendiri.

Sekalipun blog sudah menjamur di tahun saya mengenal internet, tapi rasa-rasanya konten di dalamnya masih sepi, tentu bukan sepi dalam arti sebenarnya.Karena ada banyak sekali blog yang menulis berbagai tema di internet. Maksudnya begini, blog seperti blogger ataupun wordpress biasanya berdiri sendiri-sendiri. Untuk membacanya pun, langkah awal yang harus kita lakukan adalah berpikir akan mencari apa, lalu mengetiknya di Google. Timbul pertanyaan, bagaimana kalau saya tidak tahu ingin membaca apa, tapi yang jelas saya ingin membaca sesuatu yang fresh dan menarik? Disinilah masalah timbul.

Tentu pilihan saat itu jatuh pada media digital seperti kompas.com, Detik.com, Sindonews, dll. Tapi seperti yang dikatakan Justin Hall, adakalanya web ataupun platform yang dikelola perusahaan (ataupun pemerintah) itu menjenuhkan. Karena konten mereka di kelola dengan teliti oleh pakar dan para profesional, dan lagi, mereka memiliki kode etik dari menulis sampai mempublikasikan kontennya. Belum lagi para invisible hand yang coba menyetir untuk kepentingan pribadi mereka. Jadilah konten tak lagi murni, tapi sudah disisipi “doktrin” yang coba menyetir perspektif pembaca.

Kembali pada kisah Justin Hall, konten pertama yang dia buat dalam Web Log nya (sekarang disingkat menjadi Blog) adalah, “Hai.”. Dia menulis seperti sedang bercakap-cakap (waktu itu hal ini terasa ganjil dan tidak umum). “Inilah dunia komputer abad ke-21. Layakkah kita menyisihkan waktu untuknya? Kau membaca yang kuterbitkan ini untuk mencari jawabannya kan?”.

Demikian pula Justin Hall menulis puisi menusuk hati tentang ayahnya yang bunuh diri, renungan tentang hasrat seksualnya, cerita memprihatinkan tentang ayah tiri, dan cerocos lain yang barangkali lebih baik disimpan sendiri saja. Singkat kata Justin Hall adalah pionir Blogging.

Justin Hall berkaca pada pengalaman SMA nya untuk melawan anggapan bahwa internet hanya dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang ilmiah. “Saya menjadi anggota redaksi majalah sastra sewaktu SMA. Saya sempat menerbitkan karya-karya yang sangat personal.” Resep itulah yang digunakan oleh Justin Hall dalam blognya (inilah cikal bakal, hingga saat ini, banyak penulis blog yang menulis dengan bahasa yang nyeleneh dengan kosa kata sehari-hari).

Bahkan suatu hari dia pernah menulis tentang organ intimnya yang sakit setelah berhubungan intim dengan seorang perempuan di blognya. Ini adalah salah satu kisah lain yang teramat personal yang dituliskanya di blog untuk kemudian dibaca banyak orang. Itu sebabnya Justin Hall juga dianggap sebagai pelopor gaya buka-bukaan yang kelak menjadi kelaziman pada zaman internet dewasa ini.

Dengan kita menuliskan masalah-masalah personal (dalam batasan tertentu), semakin banyak yang membaca, makin banyak pula orang yang merasa tidak sendiri. Mereka akan menyadari bahwa banyak yang memiliki pengalaman serupa. Hal tersebut dapat menciptakan dan men-sharingkan sebuah solusi bagi yang lain. Tulisan yang personal dapat merengkuh banyak orang, membuat orang merasa tidak sendirian memang merupakan salah satu esensi internet. Begitulah keyakinan Justin Hall.

KOMPASIANA DAN TANGGUNG JAWAB PARA PENULIS BLOG

Bagi saya pribadi Kompasiana dengan segala keberadaan dan kekuranganya masih lebih asyik dibandingkan menulis di blogspot.com atau pun wordpress, alasanya Kompasiana membuat saya tak perlu bekerja dengan teramat keras untuk mendatangkan pembaca. Menulis di blog pribadi justru banyak kesepianya, berbeda dengan kompasiana yang meriah (walaupun dari pengamatan saya banyak penulis yang menghilang dan mulai terasa sepi). Sekalipun dengan menuliskan hal-hal pribadi dan nyeleneh di kompasiana seperti anggota Kenthir kemungkinan dapat Highlight ataupun Headline nya kecil tapi soal jumlah pembaca mereka tidak kalah dengan yang menulis topik-topik serius.

Tapi terlepas dari itu, tak terhitung berapa banyak penulis yang menceritakan kisah pribadinya dan manfaatnya dapat sangat dirasakan oleh pembaca. Pertanyaanya, apakah hal-hal personal seperti itu tersaji pada “rumah” digital yang dikelola perusahaan ataupun pemegang otoritas? Jawabanya pasti tidak. Kita kebanyakan hanya disuguhkan kehidupan para birokrat elit yang tiada henti bergaduh.

Source : Kompasiana (Boris Toka Pelawi)

Previous articleDandito Raih “Indonesia Best Restaurant 2016”
Next articlePolisi Muda Ikut Mengantar Akun Polda Teraktif di Indonesia | @PoldaKaltim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.