Home Lifestyle Orang Cerdas Lebih Bahagia Sendiri

Orang Cerdas Lebih Bahagia Sendiri

669
0

Tak diragukan lagi, manusia membutuhkan teman dalam hidup. Selama ini Anda mungkin meyakini komunikasi antar makhluk sosial menguntungkan.

Namun, apakah kita benar-benar membutuhkan komunikasi untuk merasa bahagia dan puas dalam hidup? Untuk menjawab pertanyaan itu dua peneliti dari London School of Economics dan Singapore Management University mengadakan riset.

Dikutip Business Insider, psikolog Satoshi Kanazawa, Norman Li dan tim sampai pada beberapa kesimpulan. Semakin banyak waktu yang dihabiskan seseorang bersama teman-teman, semakin bahagia pula mereka.

Hal tersebut berlaku secara umum, kecuali untuk orang yang benar-benar cerdas. Karena semakin tinggi IQ seseorang, ia hanya butuh sedikit komunikasi konstan.

Orang berotak encer cenderung tidak merasa puas dalam hidup saat terlalu aktif secara sosial. Mereka tak suka peran anak gaul.

“Menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-teman, membuat orang cerdas tidak bahagia.” – Kanazawa dan Li

Ini terjadi karena cara kerja otak mereka berbeda. Efeknya, cara mereka memperlakukan komunikasi pun lain sendiri.

Untuk orang dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata, aktivitas sosial cenderung seperti kebiasaan buruk yang sesekali tetap dibutuhkan, bukan esensi kehidupan. Jadi tak heran jika kebanyakan genius adalah penyendiri.

Semakin mereka harus berkomunikasi dengan sesama, semakin tidak bahagia pula mereka. Hanya segelintir orang yang bisa memahami dan menerima kondisi ini.

Orang cerdas lebih antusias akan hal-hal yang menurut mereka penting. Komunikasi, bukan salah satunya.

Periset menyimpulkan hal-hal tersebut setelah melakukan dua penelitian. Keduanya menggunakan data dari National Longitudinal Study of Adolescent Health.

Penelitian itu meliputi wawancara dengan lebih dari 15 ribu orang usia 18 hingga 28 tahun, pada tahun 2001 dan 2002.

Untuk riset pertama, periset melihat hubungan antara tiga faktor, nilai tes kecerdasan partisipan, populasi densitas area tinggal mereka, dan seberapa puas partisipan dengan hidup mereka.

Hasil menunjukkan, mereka cenderung lebih bahagia dalam area yang populasinya tak terlampau padat. Hal ini tak berlaku bagi orang cerdas.

Sementara untuk riset kedua, peneliti melihat hubungan nilai IQ partisipan, kepuasan hidup, dan seberapa sering mereka bersosialisasi.

Lagi-lagi, frekuensi interaksi dan kebahagiaan berbanding lurus, kecuali untuk mereka yang cerdas. Bahkan, semakin sering bergaul, semakin tak puas mereka akan hidup.

Periset dan pakar ekonomi kebahagiaan di Brookings Institution, Carol Graham beranggapan hasil riset ini tak megherankan.

Kata Graham, orang cerdas menggunakan sebagian besar waktu mereka untuk mencapai tujuan jangka panjang. Mereka menemukan kebahagiaan lewat aktivitas yang berorientasi pada hasil.

Dokter yang berusaha menemukan vaksin kanker, penulis yang mencipta novel keren, tak butuh banyak interaksi dengan orang lain. Karena hal itu dapat mengalihkan perhatian mereka dari aktivitas utama.

Jika hal itu terjadi, ada efek negatif pada rasa bahagia. Akhirnya itu akan mengganggu harmoni dalam hati.

Namun teori kebahagiaan Kanazawa dan Li, menawarkan penjelasan yang berbeda. Ide mereka berawal dari premis bahwa otak manusia berevolusi memenuhi tuntutan lingkungan nenek moyang kita terdahulu di padang rumput Afrika.

Komunitas mereka berjumlah tak lebih dari 150 orang. Mereka tinggal di desa kecil dengan populasi satu orang per kilometer. Karenanya harus bersatu untuk bertahan di lingkungan yang berbahaya.

Nah, kita merasa bahagia dalam situasi dan keadaan yang sama dengan nenek moyang kita yang hidup ribuan tahun lalu.

Kini, kita hidup di era teknologi, dikelilingi banyak sekali orang. Bagaimanapun, sebagian besar orang di sekitar tetap mengusung kualitas bawaan evolusi.

Seolah-olah badan hidup di area padat penduduk, sementara otak melanglang savanna. Begitulah sebagian orang, meski tak semuanya demikian.

Mereka yang cerdas, tak seperti orang dengan tingkat kecerdasan rata-rata. Pada tahap tertentu evolusi berhasil menghadapi jarak antara memori masa lalu, dan masa kini.

Secara umum, mereka lebih mampu beradaptasi. Sepertinya alam mengajarkan mereka cara memecahkan masalah-masalah baru.

Itu mengapa orang cerdas dapat dengan mudah hidup menurut aturannya sendiri tanpa mengikut kebiasaan pendahulunya. Kecerdasan yang tinggi memberi mereka kebebasan untuk tidak harus selalu bergantung pada orang lain sepanjang waktu.

Mereka bisa menata tujuan hidup dengan independen. Mereka memiliki keselerasan dengan diri sendiri, karenanya hanya perlu komunikasi yang dekat dari waktu ke waktu.

Source : Beritagar.id

Previous articleCara Efektif Cegah Anak Jadi Pemberontak
Next article5 Fobia Saat Travelling dan Cara Mengatasinya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.