Home Technology and Tips Bully via Internet Makin Marak, Orang Tua Harap Waspada

Bully via Internet Makin Marak, Orang Tua Harap Waspada

600
0

Bully di masa kini banyak dilakukan di dunia maya. Tak heran jika orang tua semakin khawatir anaknya ikut terkena. Setidaknya, itulah yang terungkap dalam laporan 2016 Norton Cyber Security Insights Report: Family Edition.

Laporan itu mengungkap, meski 49% orang tua di Indonesia memperbolehkan anak-anaknya yang berusia di bawah 11 tahun mengakses internet, banyak dari mereka memiliki berbagai kekhawatiran. Misalnya, lebih dari 4 dari 10 (41%) orang tua di Indonesia yakin bahwa anak-anak mereka lebih mungkin di-bully online dibanding di dunia nyata.

“Kekhawatiran bagi banyak orang tua adalah cyberbullying tak berhenti saat anak mereka pulang dari sekolah. Selama anak mereka masih menggunakan perangkat, pelaku bully dapat terhubungkan ke mereka,” ujar Chee Choon Hong, Director, Asia Consumer Business, Symantec dalam keterangannya.

Selain cyberbullying, kekhawatiran utama orang tua adalah anak mereka mungkin mengunduh program berbahaya atau virus (72%), memberi terlalu banyak informasi pribadi pada orang tak dikenal (68%), terbujuk bertemu orang asing di dunia nyata (71%) dan melakukan aktifitas online yang membuat seluruh keluarga jadi rentan (62%), membuat keluarga malu (61%) atau menghantui mereka di masa depan (53%).

Orang Tua Mulai Mengambil Langkah Keamanan Cyber

Norton Cyber Security Insights Report: Family Edition, menunjukkan para orang tua di Indonesia mulai menyadari cyberbullying dapat memberikan dampak buruk bagi anak-anak mereka dan mengambil tindakan-tindakan pencegahan yang perlu dilakukan.

Contohnya, 68% orang tua mengecek riwayat browser anak, 56% hanya memberi izin ke situs tertentu, 56% hanya memberi izin online dengan pengawasan, 40% meninjau dan menyetujui semua aplikasi sebelum diunduh, 32% memberikan akses internet hanya di area umum rumah serta 41% membatasi informasi yang bisa diposting anak pada medsos dan 34% menyiapkan kontrol orang tua melalui home routers.

“Banyak para orang tua yang masih tidak tahu cara mengenali tanda-tanda cyberbullying dan hal apa saja perlu dilakukan jika anak-anak mereka mengalaminya. Langkah pertama bagi semua orang tua adalah mengedukasi diri mereka sendiri tentang tanda-tanda cyberbullying dan mempelajari cara berkomunikasi secara terbuka dengan anak-anak,” tambah Chee.

Norton Cyber Security Insight Report mengindikasikan hanya 14% dari orang tua di Indonesia yang melaporkan anaknya mengalami cyberbully. Walaupun di permukaan cyberbullying nampaknya bukan masalah, nyatanya banyak para orang tua tak tahu cara mengenali tanda-tanda cyberbullying, sehingga tak dilaporkan. Selain itu, banyak anak memilih diam ketika mengalaminya.

Jika mencurigai atau khawatir tentang cyberbullying, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah berkomunikasi. Cyberbullying adalah subjek sensitif, dan memulai percakapan bisa jadi hal yang sulit. Beberapa tanda yang mengindikasikan anak mengalami bully antara lain:

· Mereka tampak gugup ketika menerima pesan teks/online atau email.
· Kebiasaan mereka dengan perangkat berubah. Mereka mungkin mulai menghindari telepon genggam mereka atau menggunakannya secara berlebihan
· Mereka membuat alasan untuk menghindari pergi ke sekolah
· Mereka menjadi lebih defensif atau tertutup mengenai aktifitas online mereka
· Mereka menarik diri dari teman dan keluarga
· Mereka memiliki gejala fisik seperti susah tidur, sakit perut, sakit kepala, dan turun berat badan atau naik badan
· Mereka tertinggal di sekolah, atau bertindak di luar kebiasaan
· Nilai mereka mulai menurun
· Mereka nampak seperti marah, frustasi atau sedih, terutama setelah online atau mengecek telepon genggam mereka
· Mereka menghapus media sosial atau akun email mereka. (fyk/fyk)

Source : Detik Inet

Previous articleAncaman Robot ‘Curi’ Pekerjaan Manusia Makin Mengkhawatirkan
Next articleIni Sebabnya Kantuk Selalu Datang Saat Sedang Tak Enak Badan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.