Home Lifestyle Sains Membuktikan, Lebih Baik Memberi Daripada Menerima

Sains Membuktikan, Lebih Baik Memberi Daripada Menerima

464
0

Anda pasti pernah mendengar ucapan populer bahwa memberi lebih baik daripada menerima.

Faktanya, kini ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa berbuat baik untuk orang tersayang adalah tindakan yang lebih menguntungkan bagi Anda–daripada menerima. Bahkan, aksi memberi tetap menguntungkan ketika pasangan tak menyadari tindakan murah hati tersebut.

“Studi kami dirancang untuk menguji hipotesis yang diajukan Tenzni Gyatso–Dalai Lama saat ini–bahwa kepedulian berbelas kasih demi kesejahteraan orang lain meningkatkan kondisi afektif seseorang,” jelas penulis utama riset, Harry Reis. Reis adalah profesor psikologi di University of Rochester.

Reis dan tim menyurvei 175 pengantin baru heteroseksual. Wawancara terhadap mereka dilakukan setiap hari selama dua pekan. Para pengantin baru itu diamati suasana hatinya, juga seberapa banyak mereka telah memberi dan menerima.

Tim riset secara khusus tertarik pada “aksi belas kasih” yang mereka definisikan sebagai “perhatian yang diberikan secara cuma-cuma, difokuskan pada pemahaman dan penerimaan tulus akan kebutuhan dan harapan pasangan, serta diungkapkan lewat keterbukaan, kehangatan, dan kemauan untuk mendahulukan keinginan pasangan di atas keinginan sendiri.”

Termasuk di dalam aksi tersebut tindakan-tindakan seperti mengubah rencana pribadi demi pasangan, melakukan sesuatu yang menunjukkan betapa berharganya pasangan, dan mengekspresikan sikap lembut pada pasangan.

Salah satu contoh spesifik adalah saat suami membersihkan mobil istri. Dalam hal ini, sang suami tidak memberi rangkaian bunga atau berlian, namun tindakannya berarti bagi sang istri.

Reis dan tim meminta partisipan riset untuk mengisi buku harian selama dua pekan. Di situ mereka mencatat contoh-contoh saat pasangan mengesampingkan keinginan demi kebutuhan mereka.

Namun para periset juga perlu menilai kesejahteraan emosional keduanya. Maka mereka meminta partisipan mencatat suasana hati harian selama 14 hari. Apakah mereka bahagia, kalem, sedih, marah atau merasa sakit hati.

Dalam dua pekan, para suami dan istri melaporkan rata-rata.65 aksi memberi dan .59 aksi menerima setiap hari.

Setelah mengontrol variabel lain, para periset menemukan bahwa aksi belas kasih diasosiasikan dengan emosi yang lebih positif, baik bagi pemberi dan penerima. Namun efek positif bagi pemberi lebih kuat.

Jika penerima harus menyadari pemberian pasangannya untuk dapat merasakan manfaat aksi ini, lain halnya dengan para pemberi. Mereka tetap mendapat manfaatnya, tak peduli apakah pasangan menyadari kemurahan hati mereka atau tidak.

Seperti dinyatakan dalam kesimpulan studi “Hasil ini menunjukkan bahwa dari segi kesejahteraan emosional, bagi para pemberi, berbelas kasih boleh jadi merupakan imbalan tersendiri.”

Kini Reis sedang bekerja sama dengan alumni Rochester, Peter Caprariello untuk penelitian baru. Mereka berniat mencari tahu keuntungan emosional dari membelanjakan uang untuk orang lain.

Sejauh ini, hasil menunjukkan hal itu dapat membuat si pemberi merasa lebih baik. Namun, ini bisa terjadi hanya jika tujuannya bermanfaat bagi penerima. Jika hanya untuk mengesankan sikap baik saja, maka tujuan itu tak tercapai.

Source : Beritagar.id

Previous articleTernyata, Email Ditemukan Oleh Bocah 14 Tahun Asal India
Next articleLima Kiat Menumbuhkan Jambang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.