Home Article Phubbing, Lakalantas, dan E-TLE

Phubbing, Lakalantas, dan E-TLE

206
0

Oleh: Harry F. Darmawan

FENOMENA phubbing kini marak ditampilkan di berbagai media sosial. Phubbing ialah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang sedang asyik mengulik handphone-nya dan tidak mengacuhkan atau cuek bebek terhadap teman atau orang di sekitarnya.

Di media sosial ada tayangan seorang ibu duduk di taman asyik dengan handphone-nya. Anaknya, usia dua tahunan, main sendiri. Seorang penculik anak membujuk anak itu dan membawanya lari. Si ibu baru sadar bahwa anaknya raib setelah perhatiannya terlepas dari layar handphone.

Ada lagi, seorang bapak menuruni tangga sebuah mal bersama istrinya yang sedang hamil. Si bapak asyik dengan handphone dan cuek dengan kondisi istrinya yang nyaris terjatuh. Untung ada pria lain yang memperhatikan, menyelamatkan ibu itu. Suaminya terus menuruni tangga sambil main handphone tak peduli dengan istrinya. Si penolong marah, merebut HP itu dan membantingnya berkeping-keping. Suaminya baru tahu istrinya tertinggal di tangga atas, dikerubuti dan ditolong orang banyak.

Gambaran lain juga suka ditayangkan di berbagai media sosial, misalnya, orang yang asyik melakukan phubbing sering menjadi sasaran pencurian dan copet. Tas atau dompet disambar pencuri tanpa dia sadari.

Phubbing menjadi terkenal setelah asisten profesor pemasaran Meredith David dari Baylor University, Texas, memopulerkannya sebagai kependekan dua kata, phone dan snubbing. Kata itu menggambarkan tindakan tidak acuh seseorang yang kelewat asyik dengan gawainya ketimbang berinteraksi dengan orang lain atau lingkungannya.

Phubbing disebutkan telah menghancurkan hubungan dengan sesama. Secara khusus, penelitiannya menunjukkan hubungan dengan pacar atau pasangan hidup terganggu dan berpotensi rusak karena phubbing.

Selain itu, phubbing mengganggu hubungan dengan orang di lingkungan mereka. Misalnya dalam suatu pertemuan di restoran atau meja makan. Mereka mestinya bercanda dan berkomunikasi secara langsung. Namun, kalau ada yang melakukan phubbing, pasti kelakuan itu akan merusak suasana kebersamaan. Di satu sisi, ia mengasingkan diri dari lingkungannya dan di pihak lain teman atau mitranya yang dicueki juga kesal dengan perlaku si phubber.

Penelitian terhadap mahasiswa Universitas Diponegoro oleh Ita Musfirowati Hanika (Jurnal Interaksi, Volume 4 Januari 2015), menemukan sebagian besar responden (60 orang) memang belum mengenal istilah phubbing, tetapi mereka sudah melakukannya.

Alasan melakukan phubbing ialah menerima panggilan (54%), membuka chat/medsos (32%), dan bosan dengan pembicaraan (12%). Walaupun mereka suka melakukan phubbing, 64% mengaku terganggu kalau ada orang lain melakukannya. Sebelum melakukan phubbing, hanya 36% yang minta izin kepada temannya, sementara 64% tak minta permisi.

Dalam lain kasus, phubbing juga menjadi salah satu faktor utama terjadinya kecelakaan lalu lintas. Konsentrasi pengemudi yang terbelah antara melihat kondisi jalan dan layar handphone ditengarai menjadi penyebabnya.

E-TLE JADI UPAYA POLRI

Sebelum pandemi Covid-19 terjadi, upaya tegas Polri dalam menyadarkan pengendara agar tidak menggunakan handphone saat berkendara dilakukan dengan Operasi Zebra.

Di Kalimantan Selatan misalnya, pada 2019 lalu, Ditlantas Polda Kalsel berhasil menjaring 415 pengendara yang kedapatan menggunakan ponsel saat berkendara dalam kurun waktu 14 hari operasi.

Kondisi ini tentu sangat miris, mengingat banyaknya pengendara yang lalai akan sejalan dengan jumlah terjadinya kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Dilansir dari Antara News, Hingga triwulan ketiga tahun 2019, jumlah lakalantas di Kalsel tercatat sebanyak 420 kasus, dengan korban meninggal dunia 190 jiwa, luka berat 67 orang, dan luka ringan 407 orang.

Saat ini, Polri sudah menginisiasi berbagai inovasi penegakkan hukum di bidang lalu lintas. Salah satunya yakni Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) atau tilang elektronik.

E-TLE menjadi upaya bagi Polri untuk memberi penegasan kepada para pengendara yang masih berani mengaktifkan handphone saat mengemudi. E-TLE merupakan sebuah sistem penegakkan hukum yang berbasis teknologi informasi dengan menggunakan kamera pemantau. Sistem ini mampu mendeteksi berbagai jenis pelanggaran lalu lintas. E-TLE sendiri sudah dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia, Kota Balikpapan salah satunya.

Polda Kaltim kemudian memberikan sentuhan tambahan guna lebih mengefektifkan upaya penekanan angka lakalantas dengan menghadirkan program bernama Mobile E-TLE. Mobile E-TLE dilaksanakan dengan memberikan kamera pengintai kepada petugas yang berpatroli untuk mengidentifikasi berbagai jenis pelanggaran lalu lintas, di mana penggunaan ponsel saat berkendara tak luput dari pantauan.

***

Upaya dan inovasi yang sudah dilaksanakan Polri tak akan optimal bila tidak didukung oleh masyarakat. Terkait lakalantas akibat phubbing ini, kita sebagai pengguna jalan sudah seharusnya memiliki kesadaran bahwa keselamatan berkendara adalah hal yang paling utama.

Kesadaran untuk berkendara aman dan selamat ini harus dimaknai bahwa keselamatan bukan hanya untuk diri sendiri saja, tapi juga pengguna jalan lainnya. Coba bayangkan saja kita menjadi korban lakalantas akibat kelalaian pengendara lain yang asyik bermain handphone kala berkendara? Pasti menyebalkan, bukan?

Selain itu, degradasai adab akibat phubbing akan terus terjadi apabila para phubber tak memiliki rasa simpati dan saling menghargai. Kebiasaan itu dapat dikurangi, dimulai dengan memupuk kesadaran diri dalam menggunakan handphone dan media sosial secara bijak. [*]

Previous articleRS Bersalin Sayang Ibu Terganjal Lahan
Next articleWakil Ketua DPRD Balikpapan Dukung Pemkot Subsidi Siswa di Sekolah Swasta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.