Home Article TikTok sebagai Media Sosialisasi yang Efektif

TikTok sebagai Media Sosialisasi yang Efektif

35
0

Oleh: Harry F. Darmawan

“ZAMAN sekarang harus pakai metode yang lebih fun. Misalnya, kalau ada program baru jangan hanya diumumkan di website. Bikinlah di akun Tik Tok. Pengguna mau tak mau melihat videonya. Jadi pesannya akan dapat”. Begitulah pernyataan Donny Eryastha, Head of Public Policy TikTok Indonesia, Malaysia, dan Filipina dalam sebuah wawancara dengan media.

TikTok adalah jejaring sosial berbagi video pendek yang memungkinkan pengguna untuk berkreasi di dalam videonya, baik menyanyi atau menari. Kini, kontennya terus berkembang, tak melulu soal hibur-menghibur. Platform ini begitu populer. Pada 2020 telah digunakan di 154 negara dengan 800 juta pengguna aktif setiap harinya. Mengapa aplikasi ini begitu populer di masyarakat, khususnya anak muda?

Pertumbuhan TikTok, menurut konsultan kreatif Yoris Sebastian, didorong perilaku anak muda yang cenderung memiliki perhatian yang singkat terhadap sesuatu. Lebih dari itu, fitur-fitur yang ditawarkan, menurut Yoris, mampu menarik anak muda yang saat ini gemar membuat konten. Misalnya, banyaknya pilihan lagu, serta filter dan sticker yang beragam, sehingga pengguna tidak perlu keluar ke aplikasi lain untuk mengedit video.

Meski pernah dicap sebagai aplikasi alay dan pernah disetop layanannya oleh Kemenkominfo, TikTok berusaha berbenah diri dengan aturan yang berlaku. Pertumbuhan penggunanya semakin banyak. Sampai 2020, pengguna di Indonesia mencapai lebih dari 30 juta dengan rata-rata mengonsumsi 100 video per hari atau 39 menit.

Hasil Sensus Penduduk 2020, total populasi Indonesia mencapai 270,2 juta orang. Menariknya, penduduk Indonesia didominasi oleh Generasi Z dan generasi milenial. Penduduk generasi milenial yang lahir antara 1981-1996 mencapai 69,38 juta orang atau 25,87% dari total populasi.

Sedangkan jumlah penduduk Generasi Z yang lahir di rentang 1997-2012 mencapai 74,93 juta atau 27,94% dari total populasi. Milenial atau Generasi Y lebih memilih ponsel dibanding personal computer (PC) dan televisi. Sebab generasi ini lahir di era kecanggihan teknologi. Pesatnya jaringan internet yang mempermudah aktivitas seseorang, berperan besar dalam keberlangsungan hidup generasi ini. Sehingga mereka lebih memilih informasi melalui perangkat ponselnya.

Bagaimana dengan Generasi Z (Gen Z) yang lahir setelahnya? Generasi ini mempunyai karakteristik yang lebih khusus. Generasi yang dibesarkan di tengah teknologi, internet, dan medsos ini memilih cara berkomunikasi melalui medsos dan teks digital. Kelompok ini distereotipkan sebagai pencandu teknologi atau bahkan dicap antisosial. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel dan lebih memilih layanan streaming.

SOSIALISASI POLRI DI TIKTOK

Dari kedua karakteristik tersebut, ada kesamaan, yaitu penggunaan ponsel sebagai media utama untuk mendapatkan informasi. Perkembangan generasi baru seharusnya menjadi perhatian bagi pihak manapun yang berkecimpung di bidang informasi.

Khusus mengenai Polri, sosialisasi yang ditujukan bagi dua generasi tersebut bisa dilaksanakan lewat TikTok. Layanan Polri seperti penerbitan SIM baru, lokasi SIM keliling, pengurusan SKCK, dan lain-lain akan lebih mudah menjangkau ke kedua generasi tersebut bila sosialisasinya dilakukan di TikTok.

Jika Polri tetap bersikukuh menggunakan media konvensional, maka akan menciptakan gap komunikasi antara pemangku kepentingan dengan generasi pendatang baru ini.

Sudah saatnya pesan yang disampaikan dikemas sesuai karakteristik penerima pesan. Media sosial seperti TikTok dan lainnya, dapat mendorong efisiensi karena jangkauan audiens yang sangat luas dan berbiaya murah. Selain itu, juga sangat efektif karena informasi untuk publik dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.

Sudah banyak Humas instasi pemerintahan yang menggunakan fenomena pertumbuhan angka pengguna TikTok sebagai strategi dalam memberikan informasi kepada publik. Seperti yang dilakukan BPK, Kemenkeu, Kemenkes, Kemen KKP, dan Kemen ESDM.

Contoh penggunaan TikTok yang cukup berhasil adalah kampanye kesehatan dalam pandemi Covid-19. Dari mulai informasi pencegahan, panduan, pengumuman, dan kampanye vaksin, dikemas melalui TikTok dan mampu meningkatkan engagement dan mendapat respons positif Generasi Y dan Z.

Agar efektif, Polri perlu menetapkan strategi dalam penggunaan TikTok. Tetapkan tujuan yang ingin dicapai, kenali audiens yang ingin dituju, dan tetapkan pesan utama yang ingin disampaikan.

Selain harus mengenali karakteristik aplikasi, juga bikinlah konten sesuai strategi yang ditetapkan. Sebagai aplikasi yang pernah dicap alay, maka diperlukan kehati-hatian bagi Polri dalam menggunakan TikTok. Ingatlah etika yang harus dijunjung dalam penggunaan media sosial.

Setiap konten harus mempertimbangkan kehormatan instansi. Informasi yang disampaikan harus objektif, jujur, dan menunjung integritas. Selain itu, patut juga berhati-hati dengan informasi yang bersifat rahasia. Sampaikan informasi publik secara benar, tepat, dan akurat. Perhatikan peraturan perundang-undangan mengenai keterbukaan informasi publik.

Kreativitas sangat diperlukan tanpa mengesampingkan prinsip kehati-hatian. TikTok, seperti media sosial lainnya, mempunyai dua sisi yang tidak dapat dihindari. Medianya memang luas dan akan mendekatkan Polri kepada publik, tapi jangan sampai Polri melupakan etika dalam penggunaannya.

Selain memanfaatkan sumber daya internal, mengikutsertakan kreator konten profesional tentu tak ada salahnya, terutama untuk menyampaikan pesan yang berkelanjutan. Citra Polri yang kaku bagi sebagian masyarakat dapat dicairkan dengan penggunaan TikTok ini.

Sebagai pengingat, generasi sebelumnya pernah terngiang-ngiang dengan iklan “Inga… Inga…” terkait pelaksanaan Pemilu. Sekarang, seharusnya bisa diproduksi lebih banyak “Inga… Inga…” lainnya, tak terkecuali oleh Polri.

Akhir kata, saatnya moving from traditional to digital. [*]

Previous articleWakil Ketua DPRD Subari: Subsidi BPJS Kesehatan Sesuai APBD-P
Next articleParlindungan Terima Keluhan Infrastruktur di Balikpapan Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.