News

Penjelasan Mengapa Flakka Lebih Berbahaya Daripada Kokain

Pernah mendengar atau membaca istilah “flakka”?

Di media sosial beredar video-video yang menggambarkan orang-orang yang bertingkah seperti zombie, karena mereka telah mengonsumsi flakka.

Apa itu flakka?

Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN) flakka adalah jenis narkotika sintetis baru dengan nama kimia Alfa PVP, yang mengandung zat fentanyl derivative. Zat ini telah diajukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk masuk sebagai narkotika kategori golongan 1.

Menurut situs Opium, fentanyl merupakan opioid sintentis yang sangat manjur untuk anastesi, dan paling banyak digunakan untuk pengobatan pada masa sekarang. Sementara fentanyl derivative merupakan turunan dari fentanyl.

Para ilmuwan telah memodifikasi fentanyl untuk menciptakan obat yang sama sekali baru. Biasanya digunakan oleh dokter sebagai penghilang rasa sakit yang kronis.

Kepala Badan Narkotika Nasional, Budi Waseso, seperti dikutip dari Detik, mencurigai flakka sudah masuk ke Indonesia. Flakka, yang disebut juga sebagai gravel atau kerikil, berbentuk seperti kokain.

Berupa potongan kristal putih seukuran kerikil atau garam mandi. Namun efeknya jauh lebih berbahaya dari kokain.

Kabag Humas BNN Kombes Sulistiandriatmoko seperti yang dikutip dari Liputan 6, mengatakan bahwa kandungan zat aktif di dalam flakka berpotensi 10.000 kali lebih kuat daripada morfin atau 100 kali lebih kuat daripada heroin.

Hal inilah yang menyebabkan pengguna flakka akan mengalami halusinasi dan delusi yang parah, seperti yang diperlihatkan oleh video-video yang beredar itu. Kendati bukan berarti flakka dapat mengubah seseorang menjadi zombie, seperti yang beredar dalam keterangan video.

Dokter Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD, dari Badan Data dan Informasi Ikatan Dokter Indonesia mengatakan bahwa semua narkotika dan zat adiktif memang memberikan efek halusinasi, merusak pikiran dan jiwa.

Flakka membuatnya lebih parah lagi, sehingga mereka yang mengonsumsinya tampak seperti zombie. Padahal hal itu terjadi karena mereka sedang mengalami halusinasi dan delusi yang sangat parah, sehingga bertingkah sangat mengerikan.

Bahkan sudah ada kasus kekerasan, penyerangan dan pembunuhan yang dilakukan oleh mereka yang mengonsumsi flakka, seperti yang diberitakan dalam The Conversation.

Berikut beberapa fakta mengenai flakka yang kami himpun dari berbagai sumber:

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengajukan flakka, yang ditengarai sudah masuk dan beredar di negeri ini, ke dalam kategori narkotika golongan 1, bersama opiat, kokain dan ganja.

Narkotika gologan 1 ini sangat berbahaya dan memiliki potensi ketergantungan yang sangat tinggi. Itulah sebabnya penggunaannya diawasi secara ketat, dan hanya untuk keperluan tertentu saja seperti ilmu pengetahuan, pengobatan dengan pengawasan yang sangat ketat dari dokter, atau kebutuhan laboratorium.

2. Senyawa dalam flakka mirip dengan kandungan yang terdapat dalam tumbuhan khat atau qat (Catha Edulis), dengan efek yang lebih kuat. Tumbuhan ini mengandung cathinone dan cathine yang berfungsi sebagai stimulan.

3. Flakka mendorong produksi hormon dopamin yang membuat seseorang merasa nyaman. Namun di saat yang bersamaan, flakka membuat otak menjadi lebih tidak sensitif terhadap hormon tersebut. Akibatnya justru akan membuat pemakainya menjadi kecanduan, dan selalu membutuhkan dosis yang lebih banyak.

4. Mereka yang mengonsumsi flakka akan mengalami sindrom delirium, di mana mereka tidak dapat berpikir dan akan terjadi peningkatan suhu tubuh hingga lebih dari 40 derajat Celsius. Flakka juga memompa hormon adrenalin sehingga memicu reaksi ‘fligh or flight‘.

Seperti yang dikutip dari Forbes, sindrom delirium ini menunjukkan kecenderungan pengguna flakka untuk bersikap agresif, dengan kekuatan yang sangat luar biasa. Sehingga dibutuhkan lima sampai enam orang polisi untuk menahan amukan seorang yang mengonsumsi flakka.

5. Hanya dibutuhkan flakka dalam dosis yang kecil untuk menimbulkan efek yang sangat kuat. 0,1 gram flakka sudah cukup membuat seseorang terkena sindrom delirium yang dapat berakibat fatal.

Mulai dari efek jangka pendek seperti euforia yang berlebihan, kenaikan tekanan darah, serta perilaku agresif, sampai efek jangka panjang. Yaitu jika pengguna flakka berhasil diselamatkan dari overdosis dan kecanduan, kemungkinan mereka akan melakukan cuci darah seumur hidup sangat besar.

Source : Beritagar.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button